Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Dinkes Tingkatkan Kewaspadaan

06 November 2019, 10: 30: 12 WIB | editor : Adi Nugroho

DB

(Grafis: Nakula Agie Sada - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk-Memasuki musim hujan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Nganjuk mulai meningkatkan kewaspadaan. Selain mengajak masyarakat menggalakkan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) untuk mencegah demam berdarah (DB), mereka juga menyiapkan stok malation dan abate.

Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Nganjuk Syaifulloh mengatakan, November ini pihaknya akan kembali mengeluarkan imbauan untuk melakukan PSN. “Harus kembali melakukan PSN untuk mencegah berkembangnya nyamuk aedes aegypti,” ujarnya.

Belajar pada kasus demam berdarah tahun lalu, Syaifulloh menuturkan, lonjakan DB terjadi pada bulan Januari. Tetapi, hal tersebut tidak bisa jadi patokan. Sebab, tahun lalu hujan dimulai pada Oktober. Adapun tahun ini hingga awal November masih belum turun hujan.

Kondisi cuaca yang tidak menentu ini menurut Syaifulloh justru berbahaya. “Kalau hari ini hujan, besok tidak, lalu hujan lagi itu justru berbahaya. Nyamuk bisa berkembang biak dengan cepat,” lanjutnya.

Sebaliknya, hujan yang turun deras terus-menerus malah tidak membahayakan. Sebab, tidak muncul genangan yang jadi media berkembangnya nyamuk.

Mengantisipasi cuaca yang tidak menentu inilah, Dinkes Nganjuk memilih melakukan antisipasi sejak dini. Selain mengajak masyarakat menggalakkan PSN, dinkes juga memastikan ketersediaan malation dan abate.

Di awal November ini, menurut Syaifulloh dinkes sudah menyiapkan satu ton abate. “Itu cukup untuk sampai Desember nanti. Bahkan sampai tahun depan masih bisa,” terang pria berkacamata itu sembari menyebut penampungan air dengan kapasitas 100 liter hanya membutuhkan dua gram abate.

Selain abate, dinkes juga memastikan aktivitas fogging atau pengasapan tak terganggu. Dalam perubahan anggaran keuangan (PAK) Agustus lalu, dinkes sudah membeli 3.000 liter malation. “Baru terpakai untuk dua kali fogging Oktober kemarin. Masih cukup sampai awal tahun depan,” tandasnya. 

Data yang dihimpun koran ini menyebutkan, selama 2019 ini kasus DB paling banyak ditemukan pada Januari lalu. Yaitu, total 153 kasus yang terdiri dari 144 kasus demam berdarah dengue (DBD) dan sembilan kasus sindrom syok dengue (SSD).

Pada bulan Februari kasusnya mulai turun. Yakni, dengan 72 kasus DBD dan 12 SSD. Di bulan Maret juga kembali terjadi penurunan dengan 26 kasus DBD dan tiga DSS. Pada September lalu bahkan hanya ditemukan empat kasus DBD (selengkapnya lihat tabel).

Untuk jumlah kasus pada Oktober lalu, menurut Syaifulloh belum direkap. Meski demikian, dia memastikan belum terjadi lonjakan. Indikasinya, selama Oktober dinkes baru melakukan dua kali fogging. “Yang sudah positif dua kasus itu,” tuturnya.

Kasus Demam Berdarah 2019:

Bulan                    Jenis

DBD           SSD            Total

Januari                   144              9                  153

Februari                72                12                84

Maret                    26                3                  29

April                     21                3                  24

Mei                       7                 -                  7

Juni                       4                 -                  4

Juli                        4                  1                  5

Agustus                 4                  1                  5

September             4                 -                  4

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia