Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kemarau, Produktivitas Bawang Menurun

Cuaca Panas, Pertumbuhan Tidak Maksimal

05 November 2019, 14: 52: 58 WIB | editor : Adi Nugroho

BM

TAK SESUAI TARGET: Kabid Hortikultura Dispertan Nganjuk Agus Sulistiyono (kiri) mengecek panenan bawang merah petani. Di musim tanam kedua tahun ini, produktivitas bawang merah turun akibat terserang hama dan terdampak cuaca. (Rekian - radarkediri.id)

Share this          

REJOSO, JP Radar Nganjuk-Produktivitas bawang merah pada musim tanam kedua, tahun ini menurun. Serangan hama ulat dan faktor cuaca disebut-sebut menjadi pemicunya. 

Untuk diketahui, target panenan bawang merah sebanyak 12-14 ton per hektare. Tetapi, di musim tanam kedua ini petani hanya bisa memanen 8-11 ton per hektare.

Hartono, 37, salah satu petani di Desa Mojorembun, Rejoso mengungkapkan, turunnya produktivitas bawang merah itu akibat seranganhama ulat dan kekeringan. “Saya terpaksa memanen bawang saya lebih awal karena tidak kuat beli obat pembunuh hama,” ujarnya.

Idealnya bawang merah baru dipanen di usia 65 hari. Tetapi, Hartono nekat memanen bawangnya di usia 45 hari. Sebab, tanamannya mulai diserang hama ulat dan kekurangan pasokan air.

Keputusannya memanen lebih awal membawa konsekuensi tersendiri. Umbi bawang yang dipanen masih kecil. Sebagian juga berwarna putih. Meski demikian, Hartono tak mempermasalahkannya. Pun, ketika dia hanya bisa memanen 1,5 ton dari lahan seluas seperempat hektare miliknya. Turun separo lebih dari panenan sebelumnya yang bisa mencapai 3-4 ton. 

Pria bertubuh kurus ini mengaku masih beruntung bisa panen. Sebab, ada beberapa petani yang tidak panen. “Kira-kira ada sekitar tiga hektare tidak panen karena diserang ulat dan kekurangan air,” tuturnya.

Tak hanya Hartono, Supandi, petani sekaligus kepala Dusun Sambiroto, Desa Mojorembun juga mengaku kesulitan air untuk menyiram tanaman bawangnya. Sumur sedalam 60 meter miliknya sudah tidak lagi mengeluarkan air.

Akibatnya, dia mengurangi penyiraman bawang merahnya. Jika biasanya dia menyiram hingga dua kali tiap tiga hari sekali, kini dia hanya menyiram bawang merah tiap dua hari sekali.

Terpisah, Kepala Bidang Hortikultura Dinas Pertanian Nganjuk Agus Sulistiyono mengungkapkan, penurunan produktivitas ini dampak dari pengaruh musim yang terbilang ekstrim. “Suhunya sampai 41 derajat, dampaknya pada pertumbuhan vegetatif,” urainya. 

Akibat cucaca yang terlalu panas, usia tanaman menjadi lebih pendek. Apalagi, di beberapa tempat ada sumur yang mengering dan tidak bisa mengaliri sawah.

Pada saat cuaca panas seperti ini, serangan hama juga meningkat. Terkait tanaman yang gagal panen, Agus berujar, hanya sebagian kecil saja yang mengalaminya. Dari tanaman bawang merah seluas 4.200 hektare, hanya beberapa saja yang gagal panen. “Kami sedang mengkaji produktivitas panenan yang tidak sesuai target,” tandasnya.

Agus menjelaskan, di musim panen pertama, produktivitas panenan ditargetkan mencapai 25-28 ton per hektare. Adapun saat ini petani hanya bisa memanen sekitar 11 ton per hektare.

Untuk memaksimalkan produktivitas petani, dispertan berencana memaksimalkan pengendalian hama. Di antaranya, dengan pengadaan light trap. “Kerja sama dengan PLN. Harapannya bisa membantu petani,” tegas Agus.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia