Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Wakiyem, Lansia yang Meninggal Dunia setelah Rumahnya Dibedah

Pagi Fondasi Dipasang,Malam Harinya Berpulang

05 November 2019, 13: 33: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

Boks

TINGGAL KENANGAN: Waginem (kiri) bersama Galiyem mengenang almarhumah Wakiyem yang telah meninggal di bakal rumah yang di bedah di Desa Sombron, Loceret, kemarin (1/11). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Ironi menimpa Wakiyem. Lansia asal Desa Sombron, Loceret itu urung menikmati enaknya tinggal di rumah berlantai semen dan berdinding kokoh. Sebab, dia meninggal Kamis (31/10) malam, tepat setelah bedah rumah oleh komunitas sosial dan Pemkab Nganjuk itu dimulai.

ANDHIKA ATTAR. LOCERET, JP Radar Nganjuk.

Sejak kecil Wakiyem, 83, tinggal di sebuah rumah reot di Desa Sombron, Loceret. Di dalamnya, ia masih harus berbagi ruang dengan ayam peliharannya. Puluhan tahun hidup dalam kemiskinan. Angin segar sempat berembus di gubuk miliknya pada Kamis (31/10) lalu.

Wakiyen yang rumahnya tidak layak huni itu akhirnya mendapatkan program bantuan bedah rumah. Kamis pagi, pembangunan awal dilakukan. Dinding dan atap rumahnya dirobohkan. Sore harinya, baru fondasi yang terpasang.

Bayang-bayang mendapat hunian yang lebih layak pun sudah di depan mata. Tinggal sejengkal lagi dapat diraih. Tapi, guratan takdir memilih jalur berbeda untuk Wakiyem. Lansia itu pun harus sudah menemui Sang Pencipta. Tanpa dapat melihat rumahnya selesai dibedah.

“Malamnya meninggal,” ujar Galiyem, 65, adik kandung Wakiyem kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin siang. Wakiyem berpulang dalam tidurnya. Berpamitan untuk tidur selepas Isya, ia tak bangun lagi. Untuk selamanya. Tidak ada indikasi sakit parah atau aneh pada dirinya.

Galiyem pun mengaku kakaknya ttidak memiliki riwayat sakit parah. Keluhan sakitnya relatif standar. Hanya sebatas pusing, batuk, dan pilek semata. Tidak pernah ada penyakit lebih dari itu yang dikeluhkan.

Kedua lansia itu memang tinggal bersama dalam rumah tersebut. Galiyem mengaku sama sekali tidak ada firasat akan ditinggal kakak kandungnya itu. Begitu pula dengan Wakiyem yang tidak menunjukkan sesuatu hal yang mencurigakan.

Bahkan, pada sore harinya Wakiyem nampak bahagia. Dia berbincang dengan Ketua TP PKK Yuni Rahma Hidhayat. Sembari terbaring di kasur, ia pun berbincang dengan nada yang tegas. Sama sekali tidak menunjukkan penurunan kemampuan di usianya yang telah tua tersebut.

“Ngomonge isih jelas. Respone ya isih cepet. (Ngomongnya masih jelas. Responsnya pun masih cepat, Red),” aku Galiyem.

Bahkan, saat ditanya apa permintaannya selain bedah rumah tersebut, Wakiyem tidak menjawab yang macam-macam. Bukan tentang material. Bukan pula sebuah janji yang muluk-muluk. “Cuma pengen sehat katanya (Wakiyem, Red),” sambung Galiyem.

Meskipun kelima inderanya masih berfungsi dengan jelas. Namun Wakiyem hanya bisa terbaring di kasur saja. Setidaknya sudah sebulan lebih kondisi tersebut dialami olehnya. Tepatnya dikarenakan terpeleset saat hendak masuk ke dalam rumahnya sendiri. “Pernah terjatuh sebulanan lalu,” sambung Waginem, 44, keponakan Wakiyem.

Akibat terjatuh itu, Wakiyem pun mengeluhkan sakit pada punggungnya. Seketika pula dipanggilkan tukang pijat untuk datang ke sana. Namun dari perkiraan tukang pijat itu, kondisi Wakiyem tidak parah. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sayangnya, setelah terjatuh itu, ia sama sekali tidak lepas dari ranjang di rumahnya.

Begitu pula ketika rumahnya disambangi dan mendapatkan bantuan bedah rumah. Wakiyem tetap berada di kasurnya, hanya bisa terbaring. Meskipun jika diajak berkomunikasi masih dengan aktif akan menanggapi.

Waginem lah yang akhirnya merawat kedua lansia tersebut. Terutama merawat Wakiyem. Pasalnya, Galiyem masih dapat beraktivitas meskipun sudah terbatas dengan umurnya. “Saya yang biasanya merawat,” imbuh Waginem.

Mulai dari memasakkan makanan, hingga memandikan Wakiyem dilakoni oleh Waginem. Padahal, kondisi ekonominya juga jauh dari beruntung. Sangat jauh malah. Kondisi rumahnya hanya lebih baik sedikit dibandingkan rumah bibinya tersebut.

Waginem pula yang pertama kali mendapati Wakiyem telah meninggal. Kala itu, ia hendak membangunkan Wakiyem. Berulang kali dibangunkan tetapi tidak ada respons. “Tak hoyak-hoyak tapi meneng ae (Saya goyang-goyangkan tapi tetap diam saja, Red),” kenang Waginem.

Refleks, ia pun meraih pergelangan Wakiyem. Sudah tidak ditemukan denyut nadi di sana. Sontak, ia pun memanggil tetangga dan perangkat setempat.

Di mata kerabatnya, Wakiyem adalah orang yang menerima garis takdir dengan ikhlas. Tak pernah ia mengeluh dengan kondisinya. Padahal, kemelaratan dirasakannya selama puluhan tahun.

Sejatinya, sekitar lima tahun lalu rumah miliknya pernah direnovasi. Namun tidak secara total. Dinding yang sebelumnya terbuat dari anyaman bambu diganti dengan dinding bata. Sedang atapnya masih tetap sama.

Barulah sekarang ini rumah tersebut dibedah total. Entah akan menjadi seperti apa bentuknya. Yang pasti, Wakiyem sudh menemukan tempat terbaiknya untuk tinggal. Di sisi Sang Pencipta. (ut)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia