Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
BADRUS

Tantangan Ekonomi bagi Kang Santri

04 November 2019, 12: 16: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh: Badrus

Oleh: Badrus (radarkediri.id)

Share this          

Puncak peringatan hari santri sudah berlangung 22 Oktober 2019 silam. Namun gaung (reverberation) dan bahananya masih terasa hingga saat ini. Meluas ke berbagai daerah di negeri ini.

Peringatan tahun ini diwarnai oleh perkembangan baru dalam pemikiran santri. Pertama,  perubahan mindest santri dari pemikiran normatif ke arah pemikiran ilmiah. Kedua, orientasi hasil pendidikan pesantren yang semula hanya berupa produk ilmuan agama (‘alim) kini berkembang ke arah produk baru yakni praktisi ekonomi pesantren. Kedua perubahan ini akan membuka lembaran baru pesantren memasuki era milenial saat ini.  

Telah disadari bahwa perjalanan santri sejak dari rumah, mereka memiliki niat suci yaitu ingin mendapatkan ilmu pengetahuan agama di pondok pesantren. Menurut mereka ilmu agama sangat penting karena berisi sejumlah petunjuk dari Allah dan Rasul-Nya. Yang kemudian dipegangi sebagai pedoman hidup. Mereka yakin bahwa agama Islam, di samping berisi pengetahuan juga berisi sejumlah janji suci Ilahi yang apabila umat manusia mau mentaati semua petunjuk yang ada di dalamnya, ia akan mendapatkan kehidupan yang baik.

Misalnya saja dalam surat An Nahl 97 dinyatakan bahwa “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan”. Di lain ayat dikatakan, bahwa orang mukmin dilarang memakan harta sesama manusia dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan dengan cara suka sama suka. (QS. An Nisa’ 29).

Dari ayat kedua di atas, Allah memberikan alternatif jalan, agar terhindar dari kebatilan, orang mukmin dianjurkan melakukan perniagaan. Hal ini memberikan pemahaman bahwa santri dituntut tidak hanya memikirkan hal-hal yang batil saja. Karena hal ini akan menguras tenaga santri kembali pada pemikiran normatif. Mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Sebaliknya, santri dituntut untuk mengembangkan pemikiran baru masalah perniagaan. Bagaimana aktivitas bisnis umat Islam agar dapat berkembang dan maju. Sehingga terhindar dari kebatilan. Langkah-langkah apa yang harus dilakukan agar usaha bisnisnya bisa laku dan seterusnya. Tentu aktivitas bisnis seperti ini memerlukan kajian dan pemikiran ilmiah yang mendalam agar bisnis yang dikelolanya bisa berjalan dengan baik.

Pemikiran ilmiah di sini dimaksudkan sebagai aktivitas berpikir yang didasarkan pada hal-hal yang logis, masuk akal, dan empiris. Semuanya dibahas secara mendalam berdasarkan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan. Kang santri bisa menelaah proses berbisnis yang baik seperti cara-cara yang dilakukan Rasulullah. Identifikasi berbisnis secara terbuka sebagaimana dilakukan Rasulullah ini cukup penting. Misalnya Rasululllah dalam berdagang tetap menjaga mutu dan kejujuran. Dua hal ini merupakan landasan berbisnis yang sangat mendasar. Dan cara ini digunakan oleh para pebisnis modern. Karena itu sekali lagi bahwa langkah para santri untuk mengubah mindset berpikir ilmiah merupakan  langkah maju untuk mewujudkan cita-cita agama yang menjadi rahmatan lil alamin.

Praktisi Ekonomi Pesantren

 

Pesantren sebagai pusat pendidikan agama ternyata akhir-akhir ini mendapat tantangan baru untuk mengembangkan komunitasnya. Tantangan itu harus dihadapi sedemikian rupa untuk mewujudkan pondok pesantren sebagai basis pengembangan agama sekaligus basis pengembangan ekonomi masyarakat. Tantangan baru itu berangkat dari beberapa daerah. Misalnya Pemerintah Provinsi Jawa Barat menggulirkan program “One Pesantren One Product (OPOP) pada 2018 lalu. Saat ini program pengembangan pesantren Jawa barat yang dipelopori oleh Ridwan Kamil ini akan mempertemukan pondok pesantren dengan pengusaha dan sejumlah perusahaan demi menciptakan iklim kolaborasi usaha. Tentu program Gubernur Jabar ini memberikan angin segar bagi pesantren untuk mewujudkan aktualisasi pesantren yang jumlahnya tidak kurang dari 1.076 lembaga.

Tidak hanya pemerintah Jawa Barat, Pemerintah jawa Timur pun juga menyusul mengajukan program yang sama (OPOP) pada tahun ini yang digagas oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa. Program OPOP Jatim bekerjasama dengan perguruan Tinggi seperti UNUSA, ITS, dan International Council for Small Business (ICSB) (Nuonline.2019). Tantangan seperti ini memberikan peluang pada pondok pesantren untuk bergerak cepat menguasai sistem pekonomian baru. Mulai dari pemilihan produk, proses pembuatan, penentuan harga, saluran distribusi, promosi, sumberdaya manusia dan pemasaranya. Untuk kepentingan ini diperlukan gerak seksama antara kiai dan sejumlah santri yang ada untuk semata-mata mengembangkan keahliah santri di bidang bisnis secara riil.

Untuk memulai langkah pengembangan ekonomi pesantren, kang santri barangkali perlu menelaah beberapa ahli yang memiliki trik tersendiri dalam mengembangkan ekonomi. Seperti teori John Howkins (1997) dalam bukunya The Creative Economy: How People Make Money, ia mengatakan bahwa untuk membangun ekonomi kreatif dimulai dengan membangun ide. Ide merupakan gagasan awal yang ditemukan untuk memastikan pengadaan barang atau produk. Dari ide seseorang dapat melangkah secara fokus, karena telah jelas bentuk produk apa yang dituju. Untuk melengkapi terwujudnya ekonomi kreatif, Howkins menjelaskan ada beberapa karakteristik tertentu yang harus dilakukan oleh pelaku bisnis, antara lain, 1) Diperlukan kolaborasi antara beberapa aktor yang berperan dalam industri kreatif, yaitu cendekiawan, dunia usaha, dan pemerintah yang meruapakan prasarat mendasar.  2) Temuan produk berbasis pada ide atau gagasan yang sesuai dengan perkembangan saat ini. 3) Pengembangan bisnis tidak terbatas pada beberapa bidang usaha. 4) Konsep yang dibangun bersifat relatif. Keempat karakteristik ekonomi kreatif ini dapat dijadikan acuan Kang santri dalam mewujudkan diri menjadi praktisi ekonomi pesantren. Semoga. (Penulis adalah dosen Pascasarjana IAI Tribakti Lirboyo Kediri)..

 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia