Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
ANDHIKA ATTAR

Diam-Diam Merayap

04 November 2019, 12: 02: 38 WIB | editor : Adi Nugroho

Andhika Attar

Andhika Attar (radarkediri.id)

Share this          

Cicak tak pernah koar-koar saat hendak mencari makan. Tak perlu birokrasi macam-macam. Tak perlu mencari kenalan atau bekingan. Cicak selalu bergerak sendirian. Bukan gayanya untuk unjuk kekuatan.

Mana ada cicak yang bersiasat. Tak ada cerita mereka menjebak buruan. cicak satu dari kanan, sedang lainnya dari arah berlawanan. Sungguh tak pernah saya melihatnya.

Berbeda dengan hyena. Mereka tak pernah berani mencari makan sendirian. Selalu bersama-sama. Menunggu komando dari sang ketua regu. Banyak intrik, banyak siasat.

Lebih menjijikkan lagi, makanan yang keduanya dapat bukan murni dari usahanya. Mereka adalah pemakan bangkai. Sisa dari predator yang lebih adidaya dari mereka.

Bangkai hewan yang tergeletak tak berdaya akan dibuat bancakan. Dimakan ramai-ramai. Masih bagus jika mereka bisa berbagi. Setidaknya ada kode etik antar sesama pecundang. Tapi tidak, keduanya bahkan lebih buruk dari itu.

Sudah menunggu makanan disiapkan, bangkai, rebutan pula. Sepertinya, harga diri memang bukan yang mereka cari. Mungkin juga kata itu tidak ada dalam kamus mereka. Yang penting makan. Entah apa yang dimakan. Entah bagaimana mendapatkannya. Persetan harus berebut dengan kawanan.

Tapi cicak, ia tak seperti itu. Diamati saksama serangga yang mendekat. Ia bergerak perlahan. Tak terburu-buru namun pasti. Memang, makanan yang didapat tidak sebesar hyena atau burung bangkai. Tapi setidaknya buruan masih segar. Hasil dari kerja keras sendiri pula.

Sungguh ironis. Hewan menjijikkan berbadan kecil itu justru memiliki keberanian yang besar. Satu persatu buruan yang mendekat dihadapi sendiri. Lepas, cari lagi. Begitu terus hingga perut dapat terisi.

Otak cicak memang tak sebesar otak hyena. Tak pula sekekar dan segarang hyena. Tapi cicak punya caranya sendiri dalam bertahan hidup. Sialnya, cara yang dipilih cicak justru lebih mulia.

Terlebih, cicak memiliki rasa pasrah yang besar. Jika dilogika, cicak hanya merayap. Tak punya kecepatan. Tak punya taring tajam yang begitu mematikan.

Di lain sisi, buruan cicak adalah serangga. Mereka mempunyai sayap. Bisa terbang kapan pun dia mau. Dapat menjangkau titik mana saja yang diinginkan. Sudah seharusnya para serangga tersebut dengan mudah menyelamatkan diri.

Lalu, apakah cicak selalu kalah dalam perburuannya? Sekali-dua kali mungkin iya. Namun tidak selalu seperti itu. Cicak yang notabene hanya bisa merayap tak jarang menjadi juara. Berhasil menaklukkan serangga yang pongah.

Terkadang logika memang tak selalu menjadi realita. Kalau pun memang selalu serangga yang menang dan cicak kalah, sudah barang tentu cicak akan punah. Mati kelaparan karena selalu kalah dalam berburu.

Tapi apa, cicak tetap rekat menempel di dinding dan atap rumah-rumah. Dari rumah reot di pinggiran desa hingga istana pejabat di ibu kota. Generasi penerusnya selalu ada.

Mereka yang tak awas akan mudah lengah. Meremehkan cicak karena dianggap bukan lawan setara. Pikir serangga, “Ah, nanti juga kalau dekat tinggal terbang.”

Tidakkah ironis jika tingkah dan polah keduanya diamati. Hyena yang sudah dibekali berbagai keunggulan fisik justru menghalalkan segala cara. Melakukan usaha-usaha yang kotor.

Bergerombol untuk memangsa buruan yang sudah tak berdaya. Bersiasat licik nan penuh intrik. Hanya demi satu tujuan. Tak lain, tak bukan. Untuk makan, makan, dan makan.

Tapi cicak dengan tubuhnya yang lemah justru berbeda. Ia memilih jalur sepi. Tak merepotkan kawan. Tak perlu basa-basi atau persetujuan birokrasi antar sesama cicak. Bahkan, mereka tak pernah bertengkar dengan yang lainnya.

Belum pernah rasanya melihat cicak berduel. Terlebih melihat cicak satu mengeroyok cicak lainnya. Padahal, mangsa yang mendekat pun tak selalu banyak. Namun cicak dapat dengan sabar menunggu.

Tak perlu cakar yang tajam. Kulit tebal dengan motif yang menakutkan. Sorot mata intimidatif. Lolongan yang membuat bulu kuduk merinding.

Cicak dengan santainya saja melenggang perlahan. Tanpa perlu membawa senjata. Tanpa perlu langkah berderap gagah. Tanpa perlu disegani. Tanpa perlu mengemis-ngemis hormat.

Bagi cicak, mereka percaya rezeki sudah ada yang mengatur. Tinggal bagaimana dengan sabar dan elegan mendapatkannya. Setidaknya, cicak mempunyai prinsip kuat. Keyakinan setinggi atap gedung wakil rakyat.

Cicak selalu bergerak perlahan. Tenang namun mematikan. Tak sepertinya hyena, badan gagah tapi hanya kuasa mencari bangkai. Bergerombol pula. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia