Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
MAHFUD

--- Ideal ---

04 November 2019, 11: 16: 50 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Mahfud

Oleh : Mahfud (radarkediri.id)

Share this          

Bukan perkara mudah mencari pemimpin. Apalagi seorang pemimpin ideal. Akan selalu ada pertentangan. Perdebatan. Konflik. Meskipun, sejatinya, setiap konflik yang mengiringi proses pencarian pemimpin itu bisa mematangkan hasil akhir. Mematangkan proses ikhtiar mendapatkan pemimpin pilih tanding.

Frasa pemimpin ideal saja sudah bisa memunculkan banyak perdebatan lagi. Ideal dari sisi mana? Menurut siapa? Sesuai zaman apa? Bisa saja ideal menurut si A tak cocok dengan pola pikir si B. Atau justru berseberangan dengan si C.

Si Anu, yang muda, energik, dan visioner, sepintas memang mendekati kesempurnaan sebagai pemimpin. Namun ketika ditelaah mendalam ternyata memiliki kekurangan. Moralitasnya tak menyentuh garis standar. Etikanya juga kurang. Dan ada lagi, kekayaannya di bawah rata-rata. Membuatnya mudah disuap para cukong.

Lalu, seperti apa seharusnya seorang pemimpin itu? Sulit memang untuk merumuskan dengan pas di era sekarang. Gaya pemimpin dengan kemampuan orasi mumpuni seperti gaya Bung Karno bisa jadi tidak lagi sesuai. Namun gaya low profil seperti Bung Hatta juga belum tentu pas. Gaya seperti Susilo Bambang Yudhoyono sempat dianggap ideal. Setidaknya selama dua periode pensiunan Jenderal itu memimpin NKRI.

Kemudian, ada Jokowi yang muncul. Awal periode pertama pengusaha asal Solo ini dianggap sosok yang pas. Saat pelantikan periode pertama bak cerita Cinderella. Animo warga benar-benar tumpah ruah.

Namun seiring waktu mulai muncul penilaian. Nilai ideal pun sedikit demi menjauh. Jokowi memang terpilih untuk kali kedua. Tapi itu tak mengaburkan fakta bahwa kadar idealitas Jokowi sebagai pemimpin belum menemukan muaranya.

Lalu, seperti apa pemimpin ideal itu. Bisa saja kita merumuskan definisi paling sempurna untuk sosok pemimpin seperti itu. Kalau muslim, arahnya bisa saja pada sosok panutan, Nabi Muhammad. Yang memiliki empat unsur pokok yang memenuhi kaidah pemimpin ideal. Sidiq (benar), amanah (terpercaya), tabligh(penyampai kebenaran), fatonah (pandai). Namun, di era sekarang konsep itu bisa saja didebat. Karena ridak ada lagi manusia sesempurna beliau.

Nah, dengan premis bahwa tidak ada lagi sosok yang sempurna, maka yang dibutuhkan untuk mencetak seorang pemimpin ideal tentu saja adalah konstitusi. Aturan dasar. Bahwa apa yang kita butuhkan harus kita jabarkan. Lengkap dengan syarat apa seseorang itu layak jadi pemimpin.

Setelah konstitusi itu terbentuk yang tak kalah pentingnya adalah rule of the election. Aturan yang harus dipatuhi untuk mendapatkan sosok paling mendekati kata ideal sebagai seorang pemimpin. Tanpa ada kepatuhan pasa rule of the election itu jangan harap akan terpilih pemimpin yang mendekati ideal.

Ironinya, penjabaran idea di atas belum tentu selaras denga fakta saat ini. Contoh teranyar adalah pelaksanaan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak di Kabupaten Kediri beberapa waktu lalu. Meskipun data konflik relatif kecil bila dibandingkan seluruh pelaksanaan di 254 desa, itu tak menjamin proses pemimpin desa tersebut mendekati ideal.

Sebab, nyaris semua tempat berlomba-lomba untuk bermain uang. Memberi iming-iming materi agar warga mau memilihnya. Dan, ibarat pepatah Jawa 'tumbu oleh tutup' pemilih justru menyambut gembira situasi seperti itu. Bahkan, seandainya ada calon kades yang tak memberi sesuatu pemilih justru mencibir. 'Kalau jadi dapat bengkok (tanah garapan) luas kok penak ga memberi uang'.

Jadi, salah siapa bila akhirnya untuk jadi pemimpin seseorang butuh biaya (tunai) yang sangat mahal? Yang justru menutup peluang sesorang yang punya potensi untuk maju ke pemilihan? Atau. Memang pemimpin itu yang dianggap ideal oleh pemilih? Sepertinya, ada baiknya bila kita tanyakan pada rumput yang bergoyang. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia