Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Kemarau Panjang, Sepawon Mulai Kekurangan Air

01 November 2019, 18: 37: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

kekeringan sepawon

BANTU WARGA: Petugas BPBD Kabupaten Kediri menuangkan air bersih ke jeriken dan bak yang disiapkan warga Desa Sepawon di depan rumah masing-masing. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Tak kunjung turunnya hujan membuat beberapa wilayah di Kabupaten Kediri mulai merasakan kekurangan air. Salah satunya seperti yang terjadi di Sepawon, Kecamatan Plosoklaten. Ratusan keluarga di daerah lereng Gunung Kelud ini mengalami hal itu sejak beberapa bulan lalu.

Kondisi itu yang membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kediri turun tangan. Mereka melakukan droping air bersih pada warga di desa tersebut.

Parlan, salah satu warga Dusun/Desa Sepawon mengaku, sebenarnya kesulitan air bersih telah dialami warga sejak 5 bulan yang lalu. “Tapi ini yang paling parah. Sebelumnya masih bisa ambil di selang di dekat perkebunan,” katanya saat ditemui Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

kekeringan lebak tumpang

BANTU AIR: Petugas BPBD Kota Kediri mengucurkan air ke wadah yang disediakan warga Lebak Tumpang saat dropping air kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Ia mengakui, masyarakat di daerahnya sangat membutuhkan air bersih. Selain sebagai kebutuhan untuk minum, memasak, mandi, dan cuci, juga untuk kebutuhan ternak. Sebab warga mayoritas merupakan peternak sapi perah. Rata-rata, Parlan menyebut, dalam satu hari dia menghabiskan empat jeriken ukuran 20 liter.

“Kalau punya sapi ya bisa 10 jeriken,” imbuh kakek 69 tahun ini.

Dari kesulitan warga tersebut, mulai Selasa (29/10) lalu, BPBD telah mendistribusikan air bersih kepada warga yang membutuhkan. Setidaknya total ada 1.926 jiwa warga yang terdampak.

“Adanya ini (droping air, Red) sangat membantu. Biasanya cari sendiri. Dengan dibantu ini bisa mengurangi beban untuk mencari air bersih yang lumayan jauh,” bebernya.

Kepala URC BPBD Windoko menyebut, kegiatan droping air di Desa Sepawon dilakukan pagi hingga sore hari. Untuk air bersih, diambil dari sumur bor milik PTPN XII Ngrangkah Pawon. “Rata-rata yang didistribusikan 16 sampai 20 ribu liter,” ujarnya.

Hanya saja, Windoko mengakui, untuk satu keluarga tidak bisa didroping setiap hari. Karena warga yang terdampak cukup banyak. Karena itu BPBD berkeliling bergantian setiap gang agar penyaluran air bersih bisa merata.

Windoko menegaskan, droping akan terus dilakukan sampai sumber air kembali normal. Apalagi rata-rata warga di desa ini  tidak memiliki sumur. Selama ini mereka memanfaatkan air resapan dari daerah Gunung Payung.

“Selama warga masih membutuhkan kami terus lakukan (droping air). Sampai laporan pemerintah desa mencabut atau melaporkan pemberhentian droping karena keadaan yang sudah normal,” paparnya.

Sementara ini, untuk surat pengajuan penyaluran air bersih yang masuk, Windoko menyebut hanya Desa Kalipang, Grogol, dan Sepawon saja. Untuk wilayah lain, belum ada laporan kekurangan air.

“Kami sarankan, air digunakan untuk kebutuhan dasar dulu. Seperti memasak, minum, mandi, dan mencuci. Terutama untuk minum harus tercukupi dulu,” pungkasnya.

Berhenti bila Hujan Turun

Sementara itu, masalah kesulitan air yang dialami warga di RT 22 dan 23 Lingkungan Lebak Tumpang, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri belum reda. Kemarin, badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) kembali men-dropping air ke warga yang tinggal di RW 5 itu. Rencananya, bantuan air itu akan diberikan selama dua hari sekali. Hingga datangnya musim hujan.

Pantauan Jawa Pos Radar Kediri, kemarin dropping air dilakukan sekitar pukul 13.00. Sama seperti Selasa lalu (29/10), BPBD mengirim air bersih sebanyak 1 tangki dengan volume sekitar 5 ribu liter. Setelah truk tangki dari PDAM tiba di lokasi, warga di RT 23 langsung menyerbu.

Mereka meletakkan berbagai macam wadah di dekat truk. Mulai dari bak, timba, jeriken, dan wadah air minum dalam kemasan (AMDK) ukuran 19 liter. Masing-masing kepala keluarga (KK) mendapatkan air bersih sedikitnya setara dengan tiga bak.

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Adi Sutrisno mengatakan, pengiriman air bersih akan dilakukan dua hari sekali. Pasalnya, selama belum ada hujan, sumber air di Lebak Tumpang masih kering. “Kami akan terus dropping ke sini. Setelah ada hujan, baru pengiriman dihentikan,” ungkap Adi.

Dia melanjutkan, dropping air akan disesuaikan dengan jadwal dari dinas lingkungan hidup, kebersihan, dan pertamanan (DLHKP). Sebab, dinas yang dipimpin Didik Catur itu juga mengirimkan bantuan air bersih ke Lebak Tumpang. “Kemarin (Rabu, Red), DLHKP juga kirim air di RT 22,” terangnya.

Dengan jadwal tersebut pengiriman dari BPBD akan dilakukan kembali pada Sabtu (2/11) dan Senin (4/11). Sementara dari DLHKP bisa di sela-sela hari tersebut.

Untuk diketahui, dropping pertama dilakukan pada Selasa lalu. Ada sekitar 300 KK yang mengalami kesulitan air bersih. Salah satu pemicunya debit Sumber Tretes dan Tirto Agung yang menjadi sumber air warga semakin susut. Untuk memenuhi kebutuhan, warga saat ini harus berhemat.

Imam Ghozali, warga RT 23, mengaku, sangat terbantu dengan pengiriman air bersih. Baik dari BPBD maupun DLHKP. Dengan bantuan tersebut, dia menggunakannnya untuk sejumlah kebutuhan. “Kami pakai cuci, masak, minum dan mandi,” katanya.

Dia mengaku, air bantuan habis selama dua hari pemakaian. Karenanya, setelah mendapatkan bantuan lagi, pria 50 tahun ini langsung membawa empat jeriken. “Dua hari lagi sudah habis lagi,” katanya.

Untuk melakukan penghematan, Imam sekali-kali terpaksa mandi ke Sungai Nglebak Tumpang. Hal itu yang dilakukan warga lain untuk menghemat air di rumah.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia