Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kasus 'Ora Umum': Tuntut Tim Cobra Rp 100 Miliar

01 November 2019, 17: 58: 25 WIB | editor : Adi Nugroho

kasus ora umum

TIDAK TERIMA: Solihin menunjukkan materi gugatan ke media. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

NGASEM, JP Radar Kediri – Gita Hartanto alias Tobing, 42 tidak terima rumahnya diobok-obok Tim Cobra Polres Lumajang. Bersama rekannya Hendri Faizal, 42, keduanya mengajukan gugatan pra peradilan dan menuntut ganti rugi Rp 100 miliar.

Gugatan disampaikan penasihat hukum keduanya, Muhammad Solihin Hadi dan Edarto Hery Purwoko, kemarin siang (30/10). “Hari ini kami mendaftarkan pra peradilan,” terang Solihin, ketika ditemui di Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.

Solihin mengatakan kalau kedua kliennya itu merasa dirugikan karena penggeledahan dan penyitaan, yang digunakan sebagai barang bukti oleh Tim Cobra Polres Lumajang.

Barang-barang tersebut adalah milik Gita Hartanto dan Hendri Faizal yang berada di rumah yang terletak di Dusun Cangkring, Desa Titik, Kecamatan Semen pada (2/10).

Hendri Faizal sendiri adalah Direktur PT Akademi Wirausaha Indonesia yang dianggap tidak ada kaitannya dengan PT Amoeba Internasional Kediri. Penyitaan tersebut terkait dengan pengembangan dugaan kasus money game di Lumajang. Pelaporan tersebut dilakukan sebab pihaknya tidak terima karena langkah dari Polres Lumajang salah prosedur. 

“Kita bukan sebagai tersangka, tetapi kita berkedudukan sebagai orang yang berkepentingan terhadap benda yang disita milik pak Gita, yang tidak ada hubungannya dengan pak Karyadi tersangka kasus penipuan," imbuhnya.

Karyadi adalah tersangka yang sudah ditetapkan oleh Polres Lumajang. Solihin juga menjelaskan, hubungan antara Gita Hartanto dan Karyadi memang sama-sama direksi PT Qnet, namun secara hukum mereka tidak ada hubungannya. 

“Hubungannya katanya mereka ini adalah jaringan piramida, padahal kita ketahui yang dimaksud dengan Piramida ini adalah penjualan barang yang tidak ada bendanya, tetapi Pak Gita di sini menjual barang yang ada bendanya walaupun harga dan barang tidak sebanding tetapi kan ada barangnya,” tutur Solihin.

Selain itu, ia juga menyebut bahwa penyitaan barang milik kliennya tidak sesuai dengan undang-undang perdagangan. Karena pada dasarnya, barang-barang yang diamankan telah memiliki izin. Selain itu, yang menjadikan keberatan pada tahun 2018 kasus itu sudah dihentikan kasusnya oleh Polri dan Polda Jawa Timur.

Lebih lanjut, Solihin juga menyebut bahwa sebelumnya Polri memang telah melakukan penyelidikan dengan Polda, namun, kasus tersebut telah dihentikan pada 2017 dan 2018 yang lalu.

“Kasusnya diberhentikan. Pertanyaan kami dasar apa pihak Polres Lumajang melakukan penyelidikan sementara perkaranya sama yang sudah dihentikan yaitu pasal 105 UUD 7 tahun 2015 tentang Perdagangan,” terangnya.

Dikonfirmasi masalah laporan ini, Kasatreskrim Polres Lumajang yang juga menjadi Katim Cobra Polres Lumajang AKP Hasran menjelaskan bahwa pihaknya belum mengetahui kabar tersebut. “Saya belum tahu, Mas,” ujarnya saat dikonfirmasi melalui telepon genggam.

  Untuk diketahui, Tim Cobra Polres Lumajang yang dipimpin oleh Hasran telah melakukan pemeriksaan di rumah “ora umum” pada Kamis (3/10) lalu. Digeruduk dengan belasan petugas kepolisian Lumajang, petugas melakukan penyitaan terhadap beberapa barang bukti yang diduga berkaitan dengan PT Amoeba International. Di antaranya adalah laptop, flash disk, ransel, dompet, dan stempel.

Pemeriksaan dan penggeledahan tersebut berkaitan dengan kasus atas dasar money games dengan skema piramida yang kasusnya masih berjalan dan dilakukan penyelidikan oleh Polres Lumajang beberapa bulan yang lalu.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia