Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Pilkades di Kediri: Banyak Petahana yang Kalah

01 November 2019, 17: 45: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

pilkades kediri

BERJUBEL: Ribuan warga Desa Kepung, Kecamatan Kepung, antre menunggu giliran menyalurkan hak pilih dalam pilkades serentak kemarin. Di tempat ini panitia melakukan inovasi dengan sistem barcode untuk mendaftar calon pemilih. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Dinamika terjadi dalam pemilihan kepala desa (pilkades) serentak yang berlangsung kemarin (30/10). Banyak kades terpilih yang merupakan wajah baru. Artinya, banyak petahana yang macung lagi tapi gagal. Padahal, dari 254 desa yang menggelar pilkades 185 di antaranya menyuguhkan persaingan calon petahana.

Di Kecamatan Ngasem misalnya, dari 7 desa yang petahananya ikut berkompetisi, hanya dua yang menang. Kades petahana yang menang yaitu di Desa Kwadungan dan Sumberejo. Demikian pula di Kecamatan Tarokan dan Banyakan. Separo lebih dari jumlah petahana yang maju pilkades kalah. Di Kecamatan Tarokan petahana yang kalah seperti di Desa Cengkok, Bulusari, dan Sumberduren. Demikian pula dengan Desa Wonoasri, Kecamatan Grogol.

Menariknya, di Desa Tarokan, petahana yang sempat dilaporkan pesaingnya meraih  kemenangan mutlak.  Supadi, kades tersebut, unggul telak perolehan suara 5.738 suara. Sedangkan pesaingnya paling banyak hanya mengumpulkan 258.

Kekalahan petahana juga terjadi di Desa Kepung, Kecamatan Kepung. Demikian halnya dengan Desa Kandangan, Kecamatan Kandangan, Desa Tulungrejo, Kecamatan Pare, dan Desa Adan-Adan, Kecamatan Gurah. Sementara di Kecamatan Ngadiluwih ada Desa Wonorejo yang petahananya tumbang.

Menariknya, di Kecamatan Gurah, jumlah petahana yang kembali terpilih masih mendominasi. Dari 17 Desa yang petahananya ikut bersaing, 11 di antaranya masih unggul. Salah satunya adalah Budi Santoso, kades Turus. “Alhamdulillah masih diberi amanah untuk melanjutkan pembangunan di Desa turus,” kata Budi usai penghitungan suara.

Budi mengatakan terpilihnya dia merupakan bukti warga desa masih percaya dengan dirinya. Dan dia berharap bisa menjaga amanah untuk membangun desanya lebih baik.

Abdul Khamid, petahana di Desa Kwadungan, Ngasem, mengatakan bahwa warga desanya sudah pintar. Bisa memilih kades yang mampu memberikan pelayanan terbaik.

“Tentu yang punya dedikasi untuk memajukan desanya,” akunya. Kemarin, Abdul Khamid menghadapi lawan yang juga istrinya sendiri. Sebab, tidak ada calon lain yang mendaftar.

Yang menarik, ketua Paguyuban Kepala Desa (PKD) Kecamatan Ngasem ini diarak dengan cara unik usai dinyatakan terpilih kembali. Yaitu dia dinaikkan buldoser. Tak tanggung-tanggung, Abdul Khamid dan istrinya naik di bagian pisau (blade) yang ada di bagian depan. Di belakangnya ada arak-arakan warga.

Apresiasi perlu diberikan kepada panitia pilkades di Desa Kepung. Di tempat ini 80 persen warganya datang menyalurkan hak pilih. Jumlah pemilih di desa ini sangat besar, mencapai 12,32  ribu orang. Artinya, yang hadir mencapai 9 ribu lebih. Namun proses pemilihan bisa berlangsung lancar. Salah satunya karena panitia menggunakan sistem barcode. Sistem ini memudahkan warga yang mendaftar untuk memilih.

Di Desa Kepung sendiri memunculkan kades baru. Yaitu Ida Arif, istri salah satu anggota DPRD Kabupaten Kediri. Dia mengalahkan Yahudi Santoso, kades petahana. Selisihnya mencapai seribu  suara. “Semoga saya bisa menjaga amanah ini, dan bisa membawa desa kami menjadi lebih baik,” ujarnya.

Menanggapi pilkades tahun ini, Bupati Kediri Haryanti Sutrisno menyampaikan selamat bagi kepala desa yang menang. Dan Haryanti berpesan agar kepala desa terpilih bisa tetap amanah untuk menjalankan tugas ke depan.

“Setelah pemilihan, jangan ada perselisihan. Jangan ada dendam,” pesannya.

Haryanti berharap setelah ditentukan pemenang mereka harus tetap bersama untuk membangun desa. Menurutnya, sebagian besar kepala desa yang terpilih sebelumnya memiliki janji dan komitmen ingin membesarkan dan memakmurkan desanya.

“Jangan berpikir individu. Jangan berpikir kalau ada yang tidak pilih berarti bukan teman. Tapi mari berpikir bersama demi kemajuan desa,” harap bupati yang memasuki tahun terakhir periode  kepemimpinannya itu.

Hal serupa juga disampaikan Wakil Bupati (Wabup) Masykuri Ikhsan. Dia mengingatkan kepada masyarakat agar tidak  terpecah belah setelah hajatan kemarin. “Karena hajat masyarakat, kita berharap pesta demokrasi ini harus dimanfaatkan sebaiknya. Jangan sampai putus silaturahmi antartetangga dan keluarga. Tetap menerima meskipun kalah,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia