Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Features

Juari-Umi Nadziroh, Pasutri yang Bersaing Kursi Kades Puhrubuh, Semen

01 November 2019, 17: 36: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

SEPERTI PENGANTIN : Pasangan Juari dan Umi Nadziroh duduk di kursi cakades yang mirip dengan kursi pelaminan, saat pilkades kemarin.

SEPERTI PENGANTIN : Pasangan Juari dan Umi Nadziroh duduk di kursi cakades yang mirip dengan kursi pelaminan, saat pilkades kemarin. (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Pasangan ini duduk di pelaminan pada 2005 silam. Tapi, pada 2013 keduanya juga duduk di ‘pelaminan’. Kemudian, kemarin, pasangan ini kembali duduk di pelaminan. Tentu bukan untuk melangsungkan pernikahan (lagi).

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Pagi itu, suasana balai desa mirip seperti terop mantenan. Lengkap dengan sepasang manusia yang duduk di kursi pelaminan. Sementara, di halaman balai desa, ratusan warga desa sudah memadati sejak pagi hari. Berbondong-bondong mereka datang dari pelosok desa. Antre dengan tertib. Menunggu giliran masuk ke terop.

Tapi, meskipun ‘mempelai’ itu terlihat berfoto bareng dengan orang-orang berseragam batik, itu bukanlah acara pernikahan. Ratusan warga juga tidak datang untuk mbecek alias mendatangi hajatan nikah. Namun, kemarin pagi itu adalah saatnya warga desa menentukan pilihan. Memilih kepala desa. Dan, kebetulan, calon yang maju adalah suami istri. Pasangan Juari dan Umi Nadziroh.

“Untuk pemilihan kades, sengaja didesain seperti ini oleh panitia,” terang Umi Nadziroh Safrotul Wahyuni, kandidat nomor urut 1.

Wanita ini menerangkan, tema pilkades di desanya sama seperti enam tahun silam. Yaitu mantenan. Kebetulan, baik enam tahun lalu atau kemarin, yang macung adalah pasangan suami istri. Dia dan suaminya, Juari.

Wanita yang biasa disapa Wahyuni ini juga masih berstatus penantang. Sebagai petahana adalah suaminya. Dan ini untuk ketiga kalinya dia tak bisa mengalahkan suaminya itu. Juari akhirnya yang terpilih sebagai kades untuk periode enam tahun lagi.

Perempuan 36 tahun Ia menjelaskan, ia menantang suaminya karena memang ada dorongan dari masyarakat. Apalagi tidak ada calon kades lain yang mencalonkan diri. “Hingga hari terakhir sebelum ditutup, tidak ada yang mencalonkan diri lagi,” imbuhnya.

Tak ayal, ajang pilkades ibarat jadi acara resepsi mantenan bagi keduanya. Selama pemilihan ada iringan musik dangdut seperti halnya acara mantenan pada umumnya.

Semua perlengkapan yang digunakan kemarin juga tak didatangkan dari jauh. Selama ini Wahyuni adalah pemilik usaha wedding organizer (WO). Dia punya alat-alat resepsi pernikahan. Mulai dari  terop, sound system, hingga catering. Bahkan make up-pun Wahyuni juga melakukannya sendiri. “Mulai dari sekitar pukul 04.30. Kalau bapak (Juari, Red), sih, macak sendiri,” candanya.

Mantan bidan ini menjelaskan bahwa apa saja yang terjadi saat pilkades, ia dapat menerimanya dengan lapang dada. Biarpun Juari yang menang, ia akan setia menjadi warga sekaligus istri yang selalu memberi dukungan demi kemajuan desanya.

Duduk di sebelahnya, sembari bermain dengan anak keduanya, Juari juga t bersyukur memiliki istri yang sangat supportif. Sebagai istri, maupun sebagai warga. “Kalaupun Ibu (Wahyuni, Red),  yang terpilih, saya juga siap untuk mendukung sebagai warga Puhrubuh, demi kemajuan desa,” terangnya sebelum acara penghitungan suara berlangsung.

Pasangan yang memiliki tiga anak itu terlihat kompak. Sesekali ada warga yang naik ke atas panggung “manten” sekadar untuk menyalami Juari maupun Wahyuni. Terasa juga bahwa rasa cinta warga Puhrubuh terhadap keduanya cukup tinggi.

Juari menjelaskan bahwa sebelumnya, pada sekitar pukul 06.00 WIB, warga desa berduyun-duyun datang menuju rumah Juari dan Wahyuni. Mereka semua ingin melakukan arak-arakank menuju ke Balai Desa Puhrubuh.

Arak-arakan tersebut adalah inisiatif warga. Juari dan Wahyuni tidak memiliki rencana tersebut. Awalnya, sekitar dua minggu sebelum hari pencoblosan, warga sudah ada yang meminta izin kepada keduanya untuk melakukan iring-iringan dari rumah Juari menuju ke balai desa. “Saya sangat terharu dan sangat bersyukur bahwa warga Puhrubuh memiliki antusiasme yang tinggi,” terangnya.

Kegiatan pilkades terus berjalan. Warga bergantian masuk ke bilik suara, lalu memasukkan surat suara yang sudah tercoblos, ke dalam kotak suara. Beberapa warga lansia, tampak sedang dibantu oleh para panitia pilkades. Setelah mencelupkan tinta ungu ke ujung jari masing-masing, para warga dijamu dengan makanan catering yang sudah disiapkan.

Memang, panitia juga menyuguhkan makanan untuk para pemilih. Agar lebih terasa suasana manten. Juga rasa guyub rukun antarwarga. “Namanya juga bertema manten, Mas, manten tuwek (anten tua, Red) tapi,” imbuh Juari tertawa lepas.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia