Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Polres Tak Intervensi Sidang Sutiwo

Karir Ditentukan setelah Kasus Inkrah

01 November 2019, 14: 41: 30 WIB | editor : Adi Nugroho

Kasus

HADAPI KASUS: Sutiwo (rompi oranye) berjalan menuju ruang Cakra, Pengadilan Negeri Nganjuk. Senin (4/11) nanti, sidang lanjutan kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai akan kembali digelar. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Kapolres Nganjuk AKBP Handono Subiakto menegaskan pihaknya tidak akan mengintervensi proses hukum yang dihadapi Sutiwo. Meski, terdakwa kasus pembunuhan Vicky Febrin Piawai itu merupakan anggota Satlantas Polres Nganjuk.

“Kami dari kepolisian memastikan tidak akan melakukan intervensi atas kasus tersebut (Sutiwo, Red),” tegas Handono kepada Jawa Pos Radar Nganjuk saat ditemui di halaman Polres Nganjuk.

Persidangan kasus pembunuhan dengan terdakwa Sutiwo hampir mencapai puncaknya. Bahkan, pria asal Kelurahan Kapas, Sukomoro itu telah dituntut 15 tahun penjara oleh jaksa penuntut umum (JPU), pada Rabu (23/10).

Lebih lanjut, Handono menambahkan, Polres Nganjuk akan mengikuti jalannya proses hukum terhadap anggotanya itu. “Kami taat hukum. Apapun yang menjadi keputusan majelis hakim kita harus patuh dan melaksanakannya,” tutur orang nomor satu di Polres Nganjuk tersebut.

Terkait status Sutiwo sebagai anggota kepolisian, Handono belum dapat memutuskannya. Sesuai aturan, polres masih harus menunggu vonis di persidangan.

“Kami masih menunggu inkrah terlebih dahulu. Itu (keputusan PN, Red) akan menjadi pertimbangan untuk karirnya (sebagai polisi),” terang polisi yang pernah menjadi penyidik KPK itu.

Sementara itu, persidangan kasus Sutiwo akan kembali digelar Senin (4/11) depan. Yakni dengan agenda tanggapan JPU atas pembelaan dari penasihat hukum (PH) Sutiwo.

Seperti yang telah diberitakan sebelumnya, sidang pembelaan atas terdakwa Sutiwo digelar di Ruang Cakra PN Nganjuk,  Rabu (30/10) siang. Dalam pembelaannya, baik Sutiwo maupun Achmad Yani, pengacaranya meminta keringanan hukuman. Mereka mengklaim dalil pembunuhan berencana tidak terbukti dalam fakta persidangan.

“Kami keberatan dengan penerapan pasal 340 KUHP. Kami pun berpendapat bahwa untuk penerapan pasal yang sesuai adalah pasal 338 KUHP,” ujar Yani.

Sementara itu, total ada 56 lembar surat tuntutan yang dibuat oleh tim JPU untuk menjerat terdakwa Sutiwo. Jaksa pun dengan mantap menjerat Sutiwo dengan pasal 340 KUHP.

Pasalnya, jaksa menilai terdapat unsur kesengajaan dan perencanaan dalam aksi tersebut. Karenanya, JPU menilai unsur-unsur dalam dakwaan tersebut sudah terpenuhi.

Lebih lanjut, ada beberapa faktor yang memberatkan sehingga jaksa menuntut 15 tahun penjara. Tak hanya perbuatan Sutiwo mengakibatkan hilangnya nyawa Vicky. Melainkan, latar belakang Sutiwo sebagai aparat penegak hukum pun juga menjadi soal. Sedangkan untuk hal yang meringankan tuntutan, Sutiwo dianggap kooperatif dan belum pernah dihukum.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia