Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Hari Ini 254 Desa Mencari Pemimpin

30 Oktober 2019, 17: 59: 45 WIB | editor : Adi Nugroho

desa adan adan

PERSIAPAN: Panitia Pilkades Adan-Adan menyiapkan tempat duduk untuk cakades suami istri Masfia dan Riza yang akan bertarung hari ini. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Hari ini ratusan ribu warga dari 254 desa akan berbondong-bondong ke tempat-tempat pemungutan suara (TPS). Mereka akan menyalurkan hak pilihnya. Mencari pemimpin di desa masing-masing untuk enam tahun ke depan.

Dan dalam setiap perhelatan pemilihan kepala desa (pilkades) atmosfir politik uang selalu menyertai. Para kandidat saling berlomba untuk memberi uang ke pemilih. Tentu saja agar warga menentukan pilihan kepada dirinya.

Nah, fenomena iming-iming uang itulah yang jadi perhatian banyak pihak. Yang berharap warga bisa menentukan pilihannya dengan bijaksana. Menggunakan hati nurani untuk mencari pemimpin yang layak bagi mereka. Tak hanya sekadar memilih karena diberi uang saja.

“Masyarakat harus bisa berpikir arif dan bijaksana dalam menentukan pilihannya,” ucap Wakil Bupati Masykuri Ikhsan.

Masykuri berpesan agar warga bisa berpikir dewasa. Mereka harus menghindari politik uang. Meskipun, wabup dua periode ini mengakui, pemberian uang ketika pilkades seperti masuk wilayah abu-abu. Yang situasinya tak terelakkan. Namun, dia berharap warga bisa berpikir jeli dan kritis. Jangan sampai memilih karena hanya terpengaruh pada pemberian uang saja.

Selain harus mewaspadai politik uang, Masykuri juga berharap agar masyarakat bisa menjaga situasi agar kondusif. “Saling menjaga keamanan di desa. Lebih berhati-hati kalau ada orang dari luar yang berniat buruk,” pesannya.

Apalagi persaingan dalam pilkades akan berlangsung ketat. Warga memiliki jago masing-masing. Yang akan membuat rentan terjadinya gesekan antarwarga.

Hingga kemarin, aroma politik uang sangat terasa di hampir semua desa yang menggelar pilkades. Para kandidat berlomba-lomba untuk memberi uang kepada calon pemilih. Mulai dari yang nilainya puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah per pemilih.

Di salah satu desa di Kecamatan Grogol, bahkan setiap pemilih bisa mendapatkan Rp 500 ribu. Itu didapat dari ‘sangu’ yang diberikan orang-orang yang mengatasnamakan tiga kandidat. Karena paling sedikit, sangu itu senilai Rp 100 ribu.

“Satu rumah yang punya empat pemilih bisa mendapat Rp 2 juta,” kata seorang warga desa yang enggan namanya dikorankan.

Selain uang, di beberapa desa juga muncul fenomena undian berhadiah. Seperti di Desa Bendo, Kecamatan Pare, dan Desa Wonorejo, Kecamatan Ngadiluwih. Di desa ini masing-masing kandidat, kabarnya, menyediakan undian berhadiah motor dan hadiah lain. Dengan catatan bila mereka memenangkan pemilihan.

Selain politik uang, yang perlu diwaspadai adalah kehadiran botoh. Suparlan, warga salah satu desa di Kecamatan Gurah, mengatakan botoh biasanya berkeliling memberi uang pada pemilih. Namun mereka menunggu tim sukses calon selesai membagi uang terlebih dulu.

“Kadang membeli surat suara atau memberi uang sebelum pemilih berangkat nyoblos,” terang Suparlan.

Pesuruh botoh itu ada yang ‘menghadang’ pemilih di tengah jalan. Tapi ada juga yang datang ke rumah pemilih untuk membeli surat suara yang digunakan. “Dari pengalaman dahulu seperti itu,” imbuhnya.

Rata-rata mereka yang sebagai penjudi itu merupakan warga dari luar kota. Mereka yang memiliki modal banyak untuk memenangkan salah satu calon. Bagi sebagian orang yang tidak terlalu mempedulikan siapa kepala desa yang akan terpilih nanti, pasti tak mempermasalahkan adanya botoh.

“Padahal sangat merugikan dan mencoreng pesta demokrasi ini,” tukasnya.

Camat Gurah A.W. Subagyo menyarankan warga untuk waspada. Termasuk ketika berangkat ke tempat pemungutan suara (TPS) di masing-masing desa.

“Kami sudah sosialisasi jauh-jauh hari. Jangan mudah terpengaruh dengan orang baru,” pesannya.

Menurutnya, keberadaan botoh itu yang jelas-jelas menjadi salah satu hal yang diperhatikan dalam pelaksanaan pilkades kali ini. Dia bersama muspika di Kecamatan Gurah telah bersiap untuk antisipasi konflik yang sewaktu-waktu bisa terjadi.

Di Kecamatan Gurah, Subagyo menyampaikan dari 17 desa yang menggelar pilkades Desa Bangkok yang pengawasannya lebih. Sebab desa tersebut selama ini dinilai rawan termasuk singgungan antarpendukung. “Karena calon sama-sama kuat, jadi pendukung di Desa Bangkok lebih dinamis,” ujarnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia