Selasa, 18 Feb 2020
radarkediri
icon featured
Features

Ruslan Hadi Susanto, Influencer Instagram Budoyo Jawi dari Tarokan

Keliling Hunting Foto Acara Budaya

29 Oktober 2019, 18: 16: 00 WIB | editor : Adi Nugroho

instagram budoyo jawi

CINTA BUDAYA JAWA: Ruslan Hadi Susanto menunjukkan unggahan di instagram Budaya Jawa yang dikelolanya di rumah, Dusun Josaren, Desa Kalirong, Kecamatan Tarokan. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Nama besar akun instagram Budoyo Jawi menjadi magnet pencinta kebudayaan Jawa. Siapa sangka pengelola influencer dunia maya itu adalah pemuda asli Kediri. Menjadi salah satu rujukan kebudayaan Jawa di Nusantara hingga Mancanegara.

MOCH. DIDIN SAPUTRO, Kabupaten, JP Radar Kediri

‘Sugeng sonten sedoyo kadang pandemen budoyo ugi kadang pelestari budoyo. Mpun kesupen esem lan guyune ing dinten Minggu niki’. Kalimat tersebut menjadi salah satu kutipan dalam unggahan di akun Budoyo Jawi. Memang, ciri khas akun ini setiap caption dalam unggahan selalu diawali kata-kata berbahasa Jawa.

Bagi yang cinta kebudayaan Jawa, akun instagram Budoyo Jawi ini menjadi salah satu referensi untuk mengenal lebih dekat keragaman kebudayaan Jawa. Ruslan lah pria dibalik akun tersebut. Awalnya akun instagram yang dikelolanya itu hanya media untuk menyalurkan hobi fotografinya.

“Dulu suka hunting acara wayang dan jaranan,” kata Ruslan saat ditemui di rumahnya, Dusun Josaren, Desa Kalirong, Kecamatan Banyakan.

Dahulu akun yang dikelolanya bernama @tukanginceng2017. Hanya saja, seiring perkembangannya, banyak yang menyarankan untuk mengganti nama. Ruslan ingat betul, itu dilakukan pada 2017. Saat dunia ramai akan kostum kuda warisan yang menjadi kostum Malaysia dalam ajang kecantikan Miss Grand International.

“Sebenarnya dulu kecewa dengan kita sendiri, banyak yang mem-bully Malaysia saat momen tersebut. Tapi kita sendiri tidak tahu apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikan kebudayaan Jawa ini,” bebernya.

Nah, berawal dari kekhawatiran itulah Ruslan ingin membuktikan dokumentasi foto tentang kebudayaan Jawa yang ia kumpulkan sangatlah penting. Dari yang awalnya hobi foto momen-momen kesenian wayang dan jaranan, kini Ruslan berniat untuk tetap mempertahankan bahwa paten jaranan ini memang benar-benar milik Indonesia. “Harapannya juga memperkenalkan budaya Jawa hingga ke seluruh dunia,” imbuh pria 31 tahun ini.

Menurutnya, dokumentasi sangatlah penting. Terutama nanti bila terjadi peristiwa klaim kebudayaan seperti hal tersebut. Tentu ini merupakan pekerjaan rumah bagi seluruh warga Indonesia. Terutama untuk pemuda yang menjadi ujung tombak pelestarian budaya, khususnya di Tanah Jawa ini. “Negara tanpa budaya itu tidak akan bisa dikenal dan tidak akan punya ciri khas,” tegasnya.

Dan dengan akun yang dikelolanya ini Ruslan sangat ingin anak muda lebih mencintai dan bangga dengan budayanya. Itu terbukti, bahwa akun yang telah lebih dari 1.500 unggahan tersebut memiliki 104 ribu pengikut. Bahkan sebagian besar anak muda. Padahal akun Ruslan belum genap 2 tahun.

Sejauh ini, Ruslan tidak pernah mengutamakan tingginya followers pada akun miliknya itu. Yang terpenting ia hanya ingin mengabadikan momen kesenian Jawa. Ia memiliki target anak muda, agar suka dan mencintai kebudayaan Indonesia.

“Dari yang tidak tahu menjadi tahu, dan yang tahu menjadi lebih cinta dengan budaya kita. Dari situ maka diharapkan bisa tumbuh rasa mencintai budaya dari negeri kita sendiri,” harapnya.

Selama ini, Ruslan rutin mengunggah hasil hunting-nya. Dia keliling Kediri dan sekitarnya mendatangi acara-acara kesenian. Baik ritual keagamaan dengan adat Jawa, jaranan dan wayang. Bahkan, pernah dalam satu hari datang ke empat acara. “Pagi hingga sore dua acara jaranan. Terus malam dilanjutkan hunting wayang,” jelas pria yang karib disapa Genol ini.

Foto-foto disimpan di laptop. Saat ini total terkumpul hampir mencapai 1 terabyte. “ Dokumentasi itu akan sangat berharga. Sebab nanti bisa menjadi bukti sejarah,” ungkapnya.

Dari hasil kerja kerasnya itu, tak jarang Ruslan dihubungi sejumlah budayawan. Termasuk bule yang ingin menanyakan informasi tentang kebudayaan Jawa. Terakhir, ia diundang Dinas Pariwisata Banyuwangi untuk ikut dalam rangkaian acara kebudayaan di kabupaten paling ujung Jawa Timur tersebut.

Dalam satu minggu Ruslan diajak mendokumentasi sejumlah kebudayaan di Tanah Blambangan. Salah satunya tari Gandrungsewu yang menjadi acara wisata rutin. Selain di Banyuwangi, ia pernah diundang ke Jogjakarta, Ponorogo, Kulonprogo, hingga ke Pulau Dewata. “Ada juga beberapa bule yang tanya terkait dengan budaya Indonesia. Tanya tentang jadwal acara kebudayaan, jamasan keris. Ada bule dari Rusia tanya tentang ubo rampe tentang jamasan itu,” paparnya.

Dan, yang selama ini paling disoroti adalah kesenian jaranan. Terutama dari kalangan anak muda, dari hasil dokumentasinya kini semakin banyak yang terhipnotis akan kebudayaan asli Kediri tersebut. Bisa dibilang menjadi salah satu pusat informasi kesenian jaranan dan wayang. “Ada juga yang tanya terkait informasi wayang. Bahkan tutorial cara pemakaian udeng itu bagaimana,” ujar Ruslan sembari tersenyum.

Pertanyaan seperti itu justru membuatnya senang dan bangga. Ia bisa menjadi media perantara bagi mereka yang ingin mengetahui tentang kebudayaan Jawa. Dengan harapan, banyak yang semakin cinta dengan kesenian yang dimiliki Nusantara ini. Ruslan mengakui bahwa paling tidak lestarinya budaya ini tergantung anak muda.

“Kalau mereka hari ini sadar, maka akan bisa lestari sampai hari esok. Tonggak ujung lestarinya budaya itu memang anak muda. Semoga dengan adanya instagram Budoyo Jawi iti bisa membuat anak muda lebih mencintai kebudayaan sendiri,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia