Senin, 20 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Pemuda Desa Gebangkerep, Baron Mendirikan Teras Baca BKS

Prihatin Anak-Anak Kecanduan Gawai

29 Oktober 2019, 16: 38: 36 WIB | editor : Adi Nugroho

Buku

PEMUDA BERGERAK: Anggota komunitas Balai Karya Seduluran (BKS) menata buku-buku di teras baca yang baru digunakan oleh puluhan anak-anak di Desa Gebangkerep, Baron. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

Pemuda zaman sekarang identik dengan sikap yang cuek dan tak peduli dengan keadaan sekitar. Hal itu berusaha ditepis oleh pergerakan yang dilakukan pemuda-pemudi di Desa Gebangkerep, Baron. Yaitu, dengan mendirikan teras baca.

Berawal dari komunitas Balai Karya Seduluran (BKS), mereka mencoba mengisi hari-hari dengan kegiatan positif. Mulai dari peduli dengan isu lingkungan, sosial, hingga pendidikan. "Mulai awal tahun ini kami mencoba mengawalinya (mendirikan teras baca, Red)," ujar Ridho Panji Kurniawan, 24, salah satu relawan teras baca tersebut.

Perjuangan mendirikan teras baca itu tidak semudah yang dibayangkan. Meski awalnya terlihat lancar, perjalanan teras baca tersebut tetap mengalami pasang-surut. Akibatnya, mereka sempat vakum.

Di awal pendirian teras baca, ada 18 anak yang tergabung di sana. Dengan relawan sebanyak 6-7 orang. Namun, lambat laun pesertanya berkurang. Bahkan, peserta dan relawan di sana sempat berbanding terbalik. Yakni, lebih banyak relawannya dibanding peserta. Alhasil, mereka pun akhirnya vakum.

Setelah melakukan sejumlah evaluasi, pada pertengahan tahun ini mereka kembali membangkitkan teras baca. Kini, mereka mendapatkan tempat yang lebih luas. Sehingga mampu menampung peserta lebih banyak lagi.

Meskimasih dengan perlengkapan seadanya, mereka berusaha berbagi. "Kami patungan untuk membeli perlengkapan (kertas, alat tulis, mainan, dan sebagainya). Beberapa donatur juga menyumbangkan buku dan kebutuhan lainnya," timpal Panji.

          Jika sebelumnya hanya ada belasan anak, kini ada 45 anak yang menjadi peserta di sana. Para peserta berumur antara 5-12 tahun. Semuanya anak-anak yang berasal dari lingkungan setempat. Sedangkan relawannya kini menjadi total 15 orang yang aktif.

Selain menggelorakan semangat literasi, peserta diajak bermain dan belajar. Mulai dari menggambar, mewarnai, origami, dan bermain permainan tradisional. "Kami prihatin karena banyak anak-anak yang selalu terpaku dengan gadget. Dengan pendekatan ini, semoga bisa mengurangi ketergantungan tersebut," tutur Nidya Ayu Sendhika, 27, salah satu relawan di sana.

Para peserta sama sekali tidak dipungut biaya. Bahkan semua perlengkapan telah disediakan. Para peserta hanya tinggal datang saja. Kegiatannya dilakukan setiap hari Minggu. Selama dua minggu sekali. Mulai pukul 09.00 - 11.00. "Malah anak-anak banyak yang sudah datang sejak pukul 08.00," celetuk Dhika.

Kegiatan positif itu pun mendapat respons positif dari orang tua peserta. Mereka senang anak-anaknya ada kegiatan bemanfaat pada hari Minggu. Tidak melulu menonton televisi atau bahkan bermain gadget.

Sayangnya, keterbatasan buku bacaan juga masih menjadi kendala klasik dari sebuah rumah baca yang berdiri atas dasar kolektif. Hingga saat ini hanya ada satu kardus buku. Jumlahnya sekitar 50 eksemplar.

Meskipun buku-buku di sana khusus untuk anak-anak, namun kebanyakan adalah buku bacaan. Masih sangat kurang buku bergambar yang mayoritas disukai anak-anak. "Anak-anak kan sukanya membaca buku yang bergambar. Kalau full tulisan, cenderung kurang berminat," imbuh Fitrul Nur Hidayati, 26, salah satu relawan.

Di tengah keterbatasan, Panji, Dhika, Fikrul, Mifta, Robby, Diyah, Sefilia, Bagus, Aidil, Rizal, Yudi, dan relawan lainnya hanya berusaha mencoba peduli. Kegiatan itu yang coba mereka lakukan sebagai seorang pemuda. Mencoba peduli dan berbagi meskipun dengan keterbatasan masing-masing.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia