Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Sportainment

Agung Tri Wahyuni: Awalnya Pencak Dor kini Tarung Drajat

28 Oktober 2019, 20: 18: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Agung Tri Wahyuni

Agung Tri Wahyuni (radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Agung Tri Wahyuni, 20, kini sedang menjalani pemusatan latihan daerah (puslatda) di KONI Surabaya. Mulai Agustus lalu pemuda asal Desa Deyeng, Kecamatan Ringinrejo ini tengah mempersiapkan diri mengikuti Pra PON November nanti. “Setidaknya harus dapat juara satu agar dapat mengikuti PON (Pekan Olahraga Nasional, Red),” terang Agung di sela-sela waktu istirahatnya kemarin.

Berada di puslatda, Agung memang harus menjalani jadwal yang ketat. Latihan pagi mulai pukul 06.00 hingga pukul 08.30 WIB. Sementara untuk latihan sore dilakukan mulai pukul 02.30 hingga 05.30 WIB. Selama itu, dia juga hanya boleh pulang pada Minggu saja.

Anak tunggal dari pasangan Trimo dan Kartini ini terpilih masuk puslatda setelah menorehkan berbagai prestasi di ajan yang dia ikuti. Setidaknya ada tujuh kejuaraan yang dia ikuti sebelum terpilih masuk puslatda. Dari semua kejuaraan itu dia selalu mendapatkan medali emas.

“Saya mulai mengikuti tarung drajat ketika masuk SMA,” ujarnya bercerita.

Tapi, jauh sebelum terjun di olahraga keras ini, Agung lebih dulu bersinggungan dengan olahraga yang juga keras. Yaitu pencak dor. Dan itu tak lepas dari arahan orang tuanya yang melihat kesukaan sang anak pada olahraga beladiri yang full body contact.

Agung pertama kali bergabung dengan kelompok pencak dor saat duduk di kelah tujuh  SMP. Meskipun secara teknis pencak dor hampir sama dengan tarung drajat, tapi olahraga ini tak bisa disamakan. Pencak dor tak memiliki aturan yang spesifik seperti lamanya waktu berlaga. Juga, tak ada jenjang prestasi pada olahraga pencak dor.

Pengalaman dan mental bertanding Agung ditempa saat mengikuti pencak dor ini. Dia sering bermain di berbagai pentas pencak dor. Bahkan hingga luar Kediri. Bertanding di hadapan ribuan pasang mata.

Saat masuk ke SMAN 1 Wates, Agung kemudian mengikuti ekstrakurikuler tarung drajat. “Setelah mengikuti tarung darajat, saya sudah tidak lagi bertanding di area bambu (arena pencak dor, Red) itu,” ungkapnya.

Baru dua bulan mempelajari tarung drajat, Agung diturunkan di Kejuaraan Daerah Tarung Derajat Wali Kota Malang cup II 2016. Dia membawa medali emas untuk kelas 50,1-55 kilogram. “Karena baru pertama kali ikut pertandingan, saya sempat tegang karena tidak tahu peraturan,” aku Agung.

Sukses di turnamen perdana, Agung menjadi lebih percaya diri. Pada 2017 menjadi tahun keemasannya. Dalam satu tahun Agung mendapatkan tiga mendali emas dari tiga kejuaraan.  Setelah Popnas 2017, Agung mengikuti Piala Gubernur Jawa Timur dan kejuaraan daerah tarung derajat antar-pelajar Piala Wali Kota Surabaya IV 2017.

Yang paling berkesan bagi Agung adalah saat ikut Popnas. Lawan-lawannya punya kualitas berbeda. Baik fisik maupun kemampuannya. Namun hal tersebut tidak membuatnya patah semangat.

Pada 2018, Agung kembali mendapatkan medali emas. Kali ini dari turnamen Wali Kota Malang Cup III 2018. Sementara pada 2019 ia kembali membawa dua medali emas dari kejurprov II tarung derajat Jawa Timur Piala Bambang Harjo dan Porprov Jatim  2019. Agung menambahkan, yang membuatnya berhasi hingga saat ini merupakan bentuk dukungan dari keluarga, teman, dan pelatihnya Suhardi.

Harapannya saat ini adalah bisa mendapatkan pekerjaan dari prestasinya itu. “Sebenarnya saya sudah diajukan untuk dimasukan ke Satpol PP Kabupaten Kediri. Sudah ditembuskan oleh KONI Kabupaten Kediri kepada Kasatpol PP,” tutur Agung. Dia berharap bila bekerja di naungan pemkab dia bisa mengembangkan prestasi demi daerahnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia