Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Darurat Serangan Ulat, Dispertabun Kumpulkan Pengamat Hama dan PPL

28 Oktober 2019, 20: 13: 04 WIB | editor : Adi Nugroho

ulat

MERUGIKAN: Salah satu jenis ulat yang menyerang daun jagung. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Pesatnya perkembangan hama fall army worm (FAW) alias ulat tentara layak diwaspadai. Serangan hama yang juga disebut ulat grayak itu bisa ‘mematikan’. Alias memunculkan kerugian besar bagi petani jagung.

Karena itulah dinas pertanian dan perkebunan (dispertabun) memasang status darurat pada kondisi ini. Bila tidak diwaspadai kerugian yang diderita petani bisa sangat besar.

“Itu (serangan ulat tentara) luar biasa darurat,” cetus Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dispertabun Anang Widodo, saat dikonfirmasi terkait mewabahnya serangan hama ulat tersebut.

Beberapa upaya mulai dilakukan dispertabun. Di antaranya adalah bimbingan teknis, terutama terkait pengenalan dan pengendalian hama yang disebut berasal dari wilayah Amerika Selatan tersebut.

Anang mengatkaan, dispertabun langsung turun tangan begitu mendengar masuknya hama ulat dengan nama latin spodoptera frugiperda itu. Yang dilakukan adalah mengumpulkan seluruh pengamat hama. Sebagai upaya untuk menggali informasi lebih banyak terkait hama jenis baru itu.

Berdasarkan pengamatan dan penggalian data itu, lahan jagung yang terserang hama ulat tentara tergolong luar biasa. Karena itu dispertabun langsung mencanangkan status kewaspadaan untuk memantau keberadaan ulat ini.

Serangan ulat tentara ini, menurut Anang, sangat merugikan. Tingkat kerusakan tanaman jagung yang masih dalam masa vegetatif sangat tinggi. Salah satu penyebabnya adalah ulat tentara ini memiliki sifat makan yang berbeda. Setidaknya bila dibandingkan dengan ulat jenis lain.

“Siang malam mereka (ulat tentara, Red) terus makan.  Kalau yang jenis biasa hanya aktif pada malam hari saja,” terangnya.

Lalu, apa upaya lebih jauh dari dispertabun? Menurut Anang, pihaknya berupaya agar hama ulat tentara ini tak semakin meluas dan kian merugikan petani. Dispertabun telah mengumpulkan semua pengamat hama dan penyuluh pertanian lapangan (PPL). Tujuannya untuk sosialisasi antisipasi dan penanganan hama ulat tentara.

Dispertabun berharap di lapangan para petani bisa bekerja sama dengan petugas. Tujuannya agar pengendalian hama bisa berlangsung efektif.

Hama ulat tentara ini konon masuk ke Indonesia sejak tahun ini. Sebelum masuk Kediri, hama ulat ini lebih dulu menyerang di daerah Jawa Tengah. “Kami terus pantau, temua pertama (serangan ulat tentara) terjadi di daerah Pagu,” terangnya.

Langkah paling dekat dari dispertabun adalah mengendalikan hama ulat ini di wilayah Kecamatan Ngasem. Rencananya kegiatanitu akan dilakukan Selasa (29/10) besok. Pengendalian itu diharapkan bisa mempersempit ruang berkembang biak hewan ini.

“Juga monitoring intensif di lokasi serangan dan lokasi yang berpotensi terserang,” imbuhnya.

Untuk pilihan teknologi pengendalian sendiri ada beberapa alternatif yang bisa diterapkan petani. Di antaranya adalah pengendalian mekanik. Yakni dengan mengumpulkan kelompok telur, larva, dan pupa yang kemudian dimusnahkan. “Termasuk pemanfaatan light trap untuk mengendalikan imago,” jelas Anang.

Sementara untuk pengendalian secara hayati, bisa melakukan konservasi musuh alami. Caranya, dengan memasukkan kelompok telur dalam tabung parasitoid,  menanam tanaman refugia, dan juga mengurangi pemakaian herbisida. Termasuk dengan pemanfaatan entomopatogen berupa metarhizium rileyi atau bacillus thuringiensis.

Untuk kultur teknis, bisa mengatur waktu tanam untuk menghindari masa peletakan telur. Bisa juga dengan cara tumpangsari tanaman jagung dengan ubi jalar.

Anang menjelaskan, hama FAW umumnya menyerang tanaman jagung yang masih muda. Pada fase larva bisa merusak tanaman. Sedangkan pada fase imago menyebabkan hama ini cepat menyebar.

Ulat tentara betina, mampu bertelur  sebanyak 1.844 butir, tak ayal jika FAW merupakaan hama yang sangat merusak dan bisa menyerang sejumlah tanaman pangan lainnya di dunia.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia