Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi

Melon Jadi Alternatif saat Kurang Air

28 Oktober 2019, 17: 55: 31 WIB | editor : Adi Nugroho

panen melon

MELIMPAH: Pekerja memanen melon di lahan pertanian daerah Pagu, Kabupaten Kediri. Buah ini akan dijual ke daerah Solo dan Pemalang di Jawa Tengah. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Membudidayakan melon bisa jadi pilihan petani saat musim kemarau berkepanjangan seperti saat ini. Tanaman ini relatif tak membutuhkan banyak air. Bahkan, panen di musim kemarau bisa sangat melimpah. Yang bisa menguntungkan bagi petani.

Sejumlah petani di Kabupaten Kediri mengaku melakukan rotasi tanaman di musim kemarau ini dengan menanam melon. Terutama untuk mengantisipasi terbatasnya ketersediaan air. “Dulu melihat teman tanam melon jadi ingin coba. Ternyata hasilnya lumayan,” kata Sutaji, petani asal Kecamatan Gurah.

Sutaji mengatakan lahan pertanian miliknya bersifat tadah hujan. Saat musim kemarau jadi kering. Yang mengharuskannya menanam tanaman panas yang butuh sedikit air. Dan yang paling tepat adalah menanam buah melon.

Selain dari teman, ia mengaku sengaja menanam melon karena ada tawaran dari pengepul yang menyebut bahwa  permintaan buah ini masih tinggi. Apalagi di beberapa pasar sempat kekurangan stok buah segar ini. “Di pasar harganya juga lumayan bagus. Jadi tertarik,” akunya.

Menurutnya, sejauh ini tak ada kendala yang berarti untuk perawatan buah jenis ini. Terutama untuk pengairan. “Lebih tahan kering, jadi tidak butuh banyak air,” jelasnya.

Di pasaran, harga jual melon paling rendah adalah Rp 6 ribu per kilogram. Ada juga yang Rp 10 ribu, melihat jenis dan grade melon yang dijual. Sutaji mengaku bahwa melon miliknya ini sudah dipesan jauh-jauh hari. Sehingga ia tak kesulitan dalam penjualan.

Petani lain, Sunoto, mengatakan bahwa saat musim kemarau menjadi waktu yang tepat untuk budidaya melon. Saat ini ia sudah panen. Meski hasilnya banyak namun ia mengakui bahwa masih ada kekurangan untuk panen kali ini. “Buahnya agak kecil-kecil. Karena satu pohon ada 5 buah. Agar bisa maksimal sebenarnya 3 buah,” beber petani asal Desa/Kecamatan Pagu ini.

Meski demikian, Sunoto tak terlalu mempermasalahkan hal tersebut. Sebab, melon miliknya juga sudah dibeli oleh pengepul yang akan dijual ke Jawa Tengah.

Terkait perawatan melon yang dibudidayakannya, Sunoto menyampaikan untuk pengairan dilakukan satu minggu sekali. Ia memanfaatkan diesel untuk menyalurkan air ke seluruh lahan budidayanya.

Sebelumnya, selain di Kabupaten Kediri, musim kemarau juga dimanfaatkan petani di Kota Kediri untuk mengubah sistem budidayanya. Jika sebelumnya mereka menanam tanaman sayur dan pangan, kali ini menggantinya dengan tanaman buah berupa semangka. Dengan harapan, budidaya tanaman buah itu lebih menguntungkan.

“Sebelumnya tanam padi, saat kemarau ini saya tanam semangka,” ujar Rijadi, petani asal Kelurahan Ngampel, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, beberapa waktu lalu.

Budidaya semangka ini menurutnya menjadi alternatif saat musim kemarau seperti saat ini. Karena untuk menanam semangka tak memerlukan banyak air. Tak hanya semangka, lahan lain miliknya juga ditanami buah melon. Dengan alasan yang sama, karena masih satu keluarga, melon pun juga tidak terlalu membutuhkan banyak air.

Pria dua anak tersebut menyampaikan bahwa dibandingkan menanam jagung atau tanaman palawija lainya, budidaya semangka dan melon di musim kemarau lebih menguntungkan. Hasilnya bisa tiga kali lipat dibandingkan jagung. Perawatanya pun juga lebih hemat hingga 50 persen.

“Lebih mudah dan juga murah, kalau berhasil hasilnya lebih menguntungkan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia