Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
REKIAN

Pemuda Bisa Apa?

28 Oktober 2019, 17: 32: 07 WIB | editor : Adi Nugroho

REKIAN

REKIAN (radarkediri.id)

Share this          

“Sejarah dunia adalah sejarah orang muda, jika angkatan muda mati rasa, matilah semua bangsa.” Begitulah pesan Pramoedya Ananta Toer untuk kaum muda.

          Betapa berat menjadi anak muda. Meski hampir setiap tahun memperingati hari Sumpah Pemuda, saya sama sekali belum bisa menghayati bagaimana perasaan mereka yang hadir di Kongres Pemuda II di Jakarta pada 27-28 Oktober 1928.

          Konon, anak-anak muda yang tergabung dari berbagai organisasi pemuda lintas daerah itu berhimpun dengan pengawasan ketat Belanda. Bahkan, Wage Rudolf Supratman, si pencipta lagu kebangsaan hanya bisa memainkan biolanya tanpa dinyanyikan karena khawatir Belanda membubarkan pertemuan itu karena ada kalimat Indonesia Merdeka.

          Salah sedikit, kongres Pemuda II yang dipimpin oleh Sugondo Djojopuspito ini bisa dibinasakan oleh penjajah yang telah mengawasi mereka. Saya pikir hidup di zaman penjajahan bukanlah impian anak-anak muda. Mereka yang terpelajar diawasi sementara yang tidak terpelajar dijadikan susu perah. Berat.

          Bisa jadi hidup anak-anak muda saat itu begitu tertekan setiap harinya diatur, diawasi dan didikte. Saya tidak bisa membayangkan bila kondisi di zaman itu terjadi sekarang. Akankah pemuda berkumpul bersama lalu membuat sejarah seperti para pendahulunya? Bisa iya, bisa tidak.

          Saya yakin pemuda akan bergerak bersama bila musuh yang dihadapinya jelas. Dulu anak-anak muda satu pandangan, menganggap penjajah adalah Belanda. Sekarang? Meski warisan tindakan penjajah itu masih ada, tapi karena pelakunya bukan orang luar Indonesia maka musuhnya menjadi tidak jelas.

          Jauh-jauh hari Soekarno sudah mengingatkan, perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah (Belanda/Jepang). Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri. Di sinilah letak masalahnya. Bahwa prilaku yang diwarisi penjajah itu masih tumbuh dengan subur. Tapi karena yang tindakan itu dilakukan oleh anak bangsa sendiri maka sikapnya menjadi berbeda.

          Bila warisan prilaku dari penjajah semakin tumbuh subur ini apa menjadi tanda matinya sebuah bangsa? Saya tidak tahu. Yang pasti di republik ini sedang terjadi pergeseran tren kepemimpinan. Pos-pos penting kepemimpinan di daerah kini diisi oleh generasi muda usia di bawah 40 tahun. Contoh di Nganjuk, Kediri, Trenggalek dan Jawa Timur.

          Mulai dari Novi Rahman Hidhayat terpilih menjadi Bupati Nganjuk pada usia 39 tahun, lalu Abdullah Abu Bakar menjabat sebagai Wali Kota pada usia 34 tahun dan M Nur Arifin yang diangkat menjadi Bupati Trenggalek pada usia 29 tahun menggantikan Emil Elestianto Dardak yang kini menjadi Wakil Gubernur pada usia 35 tahun. Mungkin masih ada di daerah lain yang usianya lebih muda dari mereka.

          Usia Emil sama persis dengan Nadiem Anwar Makarim yang baru saja dipercaya menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Nadiem yang terkenal dengan Gojeknya itu baru berusia 35 tahun. Anak-anak muda yang kini mengisi pos-pos penting di negeri ini menjadi petunjuk baik bagi bangsa ini.

Mereka sedang mengambil peran dan mencatat sejarah di republik ini. Sama seperti Soekarno dan Syahrir yang saat kemerdekaan masih berusia muda. Masih muda, keduanya tampil mengambil beban yang cukup berat mengawal negara ini hingga menjadi bangsa yang berdaulat.

Karenanya, deretan anak-anak muda yang sudah memimpin di daerah ini menjadi tanda bahwa angkatan muda di negeri ini tidak sedang mati rasa. Mereka sudah mengambil peran untuk mengisi sejarah di republik ini. Berharap, kiprah mereka bisa menihilkan perilaku-perilaku peninggalan penjajah. Sehingga ke depan kita semua bisa menikmati negeri ini dengan penuh kebahagiaan. Di tangan anak-anak muda kita yakin bangsa ini akan lebih gemilang. Semoga. (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Nganjuk)

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia