Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Insipiratif Sobrun, Berjuang di Tengah Keterbatasan

Tak Jera Mencoba meski Berulang Kali Gagal

27 Oktober 2019, 13: 49: 37 WIB | editor : Adi Nugroho

sobrun

BERMOTOR: Sobrun hendak mengirim barang pesanan, dengan mengendarai motor yang telah dimodifikasi. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Pernah berada di titik terlemah. Sering gagal dalam berusaha. Pernah pula bangkrut. Semua itu tak menyurutkan semangat hidup Sobrun. Tetap berusaha hidup untuk memberi manfaat pada sekitar.

Tanganya masih cekatan untuk beraktivitas. Meskipun tak sempurna. Hanya yang bagian kiri yang hampir sempurna. Sementara yang bagian kanan hanya sampai lengan saja.

mandiri

MANDIRI: Sobrun saat berjualan. (Dwiyan - radarkediri.id)

Matanya juga tajam mengamati barang-barang yang hendak dia pindah. Dari motor roda tiga modifikasi ke dalam toko milik lelaki ini. Mengambil tabung gas kosong. Kemudian menatanya di toko sederhana yang jadi tautan hidup sehari-hari. Semua dilakukan dengan hati-hati.

Tertatih-tatih Sobrun, nama lelaki ini, berjalan antara motor dan toko. Maklum, selain tangan yang tak sempurna, kedua kaki Sobrun juga cacat sejak lahir. Pria kelahiran 1 Juli 1967 ini harus ditopang kaki palsu untuk berjalan. Namun itu tak menyurutkan upayanya memindah benda-benda berat dagangannya. Mulai botol air minum dalam kemasan (AMDK) ukuran 19 liter atau tabung elpiji 3 kilogram. Pegangannya juga erat meskipunjari di tangan kirinya hanya ada dua.

Sobrun adalah penyandang difabel tuna daksa. Saat ditemui di tokonya yang berukuran 4 x 3 meter Sobrun sangat menikmati kesehariannya sebagai pedagang. Meskipun awalnya dia minder dengan kondisi fisiknya yang serba kekurangan.

“Awalnya saya malu melihat kondisi fisik saya seperti ini,” akunya.

Sobrun menderita tuna daksa semenjak ia lahir. Tak memiliki dua kaki lengkap. Juga tangannya. Dalam berjalan dia harus menggunakan alat bantu. Motor yang dia gunakan pun harus dimodifikasi agar ramah pada kondisinya itu.

Karena keterbatasan itulah, Sobrun sempat berada di titik terbawah secara psikologis. Merasa malu pada orang lain. Hingga dia memutuskan tak melanjutkan sekolah hingga tamat. Sobrun hanya merasakan bangku sekolah hingga kelas 1 di salah satu SD di Desa Gempolan, Kecamatan Gurah.

“Dulu sangat minder karena banyak yang mengolok-olok saya. Akhirnya saya memutuskan untuk tidak bersekolah,” kenangnya.

Semenjak itulah, kehidupan Sobrun bergantung dari kedua orang tuanya. Aktivitasnya pun hanya dihabiskan di dalam rumah. Dia juga jarang berinteraksi dengan masyarakat luas.

Seiring berjalannya waktu, ia pun termotivasi untuk bangkit. Tepatnya saat menginjak usia 16 tahun. Sobrun memutuskan memulai usaha beternak ayam. Sayang, usahanya tersebut mengalami kegagalan. Kemudian ia kembali memutuskan  untuk memulai lagi usaha lain, masih di dunia peternakan. Bedanya, kini dia beralih ke ternak kambing. Saat itu, ia mulai belajar dari nol terkait perawatan kambing.

“Saat itu saya pikir telalu berat karena harus mencarikan makan rumput kambing, akhirnya tidak saya lanjutkan,” ujar pria yang beralamat di Jalan Waringin RT 03, RW 01, Desa Gempolan itu.

Keinginanya berwirausaha begitu kuat. Sobrun kemudian memutuskan untuk berdagang di depan rumah. Memanfaatkan lahan kosong.

Di awal usahanya tersebut Sobrun sempat merasakan rugi. Beberapa tetangganya banyak yang berutang. Padahal, barang dagangannya yang diutang itu harus dia antar hingga jarak 1 kilometer dari tokonya. “Sampai sekarang masih belum dibayar. Setiap saya tagih tetap beralasan terus,” ungkapnya sembari menarik napas.

Kejadian itu tak hanya terjadi satu kali. Beberapa tetangganya pun juga pernah melakukan hal yang sama. Tapi, itu tak membuatnya jadi kapok. Dia tetap menjalani perannya sebagai pedagang.

Selain berjualan sembako, Sobrun juga melayani pembelian antar beberapa jenis barang. Seperti air kemasan isi ulang hingga tabung gas elpiji. Pelanggannya cukup mengirim SMS atau menelepon. “Alhamdulillah, justru dengan antar jemput seperti ini sangat ramai peminatnya,” paparnya.

Sisihkan Uang untuk Pembangunan Musala

Kini, usaha Sobrun berjalan lancar. Karena itu dia mulai melebarkan sayapnya dalam memberikan pelayanan dalam jasa antar. Salah satunya meremajakan motor yang dia gunakan untuk melayani pembeli.

Awalnya, Sobrun menggunakan motor jadul Honda Astrea. Kemudian, pada 2011 ia berganti Honda Revo yang telah dimodifikasi dengan beberapa kemudahan. Seperti penambahan bagasi yang berada di dua sisi samping motor.

“Sekarang jadi gampang jika harus mengantarkan gas elpiji dan air dalam kemasaan, meskipun dalam waktu bersamaan. Tidak harus bolak-balik (seperti dulu),” ungkapnya.

Pada 2012, Sobrun sempat mengalami kecelakaan kerja. Tepatnya saat mengantarkan pesanan berupa AMDK isi ulang dan tabung elpiji. Kecelakaan itu membuat as motor bagian belakang yang ditumpangi Sobrun patah. Sobrun juga terjatuh dengan tumpuan kedua kaki terlebih dahulu. Menjadikannya mengalami patah tulang di kaki kanan.

“Saat itu saya diharuskan istirahat selama satu tahun,” ujarnya.

Dengan kondisi seperti itu, tokonya harus dia tutup. Sobrun pun hanya bisa bergantung pada keluarga dekatnya. Merasa tak ingin merepotkan keluarganya, beberapa bulan kemudian Sobrun memaksakan diri berjualan. Meski harus merasakan rasa sakit pada kakinya tersebut.

“Saya tipe orang yang tak mau merepotkan meski dengan kondisi seperti ini,” terangnya.

Di tengah keterbatasannya, Sobrun memiliki keinginan kuat untuk membantu proses pembangunan musala di desanya. Memang, berjarak 200 meter dari rumahnya tengah ada renovasi musala. “Meski dengan keterbatasan fisik, saya punya tekad untuk ikut andil dalam pembangunan tersebut,” terangnya.

Menurutnya, keinginan yang paling mendalam selama hidupnya adalah bisa membantu proses pembanguan musala yang sudah dirintis beberapa tahun yang lalu. “Saya berusaha untuk menyisihkan uang untuk membantu proses pembangunan itu,” paparnya.

Selain itu, Sobrun juga berharap di usianya yang sudah tak muda lagi ia ingin menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sobrun memahami bahwa apa yang ia jalani sekarang merupakan hanya titipan Illahi. “Dengan kondisi fisik saya seperti ini. Saya pasrahkan kepada Allah dan saya serahkan hidup dan mati saya untuk Allah,” pungkasnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia