Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
TAUHID WIJAYA

Bangunan Bertingkat

27 Oktober 2019, 13: 44: 49 WIB | editor : Adi Nugroho

TAUHID WIJAYA

TAUHID WIJAYA (radarkediri.id)

Share this          

Where do you live? Itu pertanyaan yang diajukan kepada seorang teman ketika mengurus bisnis di negeri manca. Pertanyaan dari seorang bule. Tentang alamat tempat tinggalnya.

“Is it apartment?,” tanya sang bule lagi setelah mendapat alamat yang diinginkan.

“No, I live in a landed house,” jawab sang teman, jujur.

***

Tapi, bukan bagian percakapan di atas yang menarik. Melainkan respons balik si bule dari jawaban terakhir tadi, “Wow… How rich you are!”

Sebuah respons yang ganti membuat melongo kawan itu. Sebab, dia sempat mengira si bule akan memandang lebih rendah ketika mengetahui bahwa dia tidak tinggal di apartemen. Melainkan di rumah tapak. Sebagaimana hampir semua penduduk Kediri.

 Maklum, apartemen, bagi warga di sini adalah simbol kemewahan. Juga gaya hidup modern. Mengadopsi gaya hidup orang-orang bule di negerinya sana. Yang sebagian besar tinggal di apartemen.

Makanya, apartemen-apartemen yang dibangun di negeri ini –di kota-kota besar—selalu hanya mampu dijangkau oleh mereka yang berduit. Hal inilah yang kemudian ikut membentuk persepsi bahwa apartemen adalah tempat tinggal kaum elite nan berduit.

Padahal, persepsi itu berlawanan dengan persepsi bule-bule yang asli dari Barat. Bagi mereka, seperti bule yang menjadi teman sang kawan tadi, apartemen adalah perumahan rakyat. Di negerinya, rakyat kebanyakan justru tinggal di apartemen. Maklum, cuma itu yang harganya terjangkau. Tanah supermahal. Sehingga hanya mereka yang tinggal di rumah tapaklah yang benar-benar kaum elite nan berduit.

Lain ladang, lain belalang memang. Lain lubuk, lain ikannya pula. Jika di sini apartemen adalah simbol kemewahan, di sana justru simbol kesederhanaan. Sebab, di sini, yang disebut apartemen adalah bangunan tempat tinggal bertingkat dengan segala fasilitas kemewahan. Kalaupun ada bangunan tempat tinggal bertingkat serupa tapi tidak dilengkapi fasilitas yang sepadan, ‘dilarang’ untuk disebut apartemen. Melainkan rumah susun (rusun). Di rusun-rusun itulah kebanyakan bule kelas bawah di negerinya tinggal. Rusun-rusun yang di sana disebut apartemen.

Memang, kita seolah punya sindrom bangunan bertingkat. Sindrom yang memandang bahwa bangunan bertingkat adalah kemewahan. Simak saja ungkapan bocah-bocah masa lalu yang menunjukkan kekaguman pada rumah tempat tinggal sang teman: “Wih, omahe tingkat (rumahnya bertingkat).” Itu artinya, sang teman berasal dari keluarga kaya. Yang mampu membangun rumah bertingkat.

Padahal, rumah bertingkat seringkali justru tidak membuat nyaman penghuninya. Apalagi jika penghuninya sudah mulai berusia senja. Sebab, naik ke lantai dua dan seterusnya jelas lebih membutuhkan tenaga. Itulah yang membuat bangunan lantai atas rumah-rumah bertingkat justru jarang terjamah.

Makanya, di kos-kosan bertingkat, peminatnya cenderung berebut untuk menempati kamar lantai bawah. Pun dengan apartemen-apartemen rakyat alias rusun itu. Karena tinggal di lantai atas jelas butuh perjuangan berat.

Lalu, mengapa bangunan-bangunan bertingkat di kota besar tetap bisa ramai pengunjung atau penghuni? Apartemen-apartemen mewah. Mal-mal. Ya karena fasilitas yang disediakan memudahkan pengunjung atau penghuni untuk mengaksesnya. Lift. Eskalator. Juga berbagai kemudahan lainnya. Tanpa kemudahan akses itu, niscaya investor bisa bangkrut karena tak ada pembelinya.

Nah, jika di sini kemudian ada pasar tradisional yang dibangun, direhab dengan lantai lebih dari satu tapi tanpa dilengkapi dengan kemudahan-kemudahan akses seperti itu, nasibnya ya bisa seperti rusun-rusun. Seperti kos-kosan bertingkat. Penghuni dan pengunjung berebut ogah menempati lantai yang atas.

Padahal, pengunjung pasar tradisional, sampai kini kebanyakan ibu-ibu. Yang tidak lagi muda. Yang kalau suruh jalan kaki ke atas, aduh mboookkk..

Maka, inilah yang perlu dipikirkan. Jika ibu-ibu saja sudah ogah, diperlukan kerja keras lagi jika ingin menggaet yang muda. Yang terbiasa ke mal dengan segala fasilitas kemudahannya. Sebab, lebih dari sekadar menyediakan tempat berdagang yang layak, pedagang jelas membutuhkan jaminan bahwa tempatnya berdagang akan ramai didatangi orang. Pekerjaan yang tidak ringan.  (Penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia