Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Yuniar Faton, CPNS Asal Semen yang Alami Kecelakaan Maut di Blitar

Sang Ibu Masih Terkenang Cicipi Masakannya

26 Oktober 2019, 14: 51: 54 WIB | editor : Adi Nugroho

korban kecelakaan

TINGGAL KENANGAN: Orang tua Yuyun menunjukkan foto wisuda D3 di rumah duka Dusun Bulurejo, Desa Semen, Kecamatan Pagu. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

Dinyatakan sebagai peserta yang lolos tes CPNS akhir tahun lalu, orang tua Yuyun bangga. Semangatnya meraih cita-cita diwujudkannya 2019 ini. Namun, gadis periang itu telah tiada, meninggalkan kenangan indah bagi orang tuanya.

 

MOCH. DIDIN SAPUTRO,  Kabupaten, JP Radar Kediri.

yuyun setyowati

SEMASA HIDUP: Foto Yuniar Faton Setyowati. (Didin Saputro - radarkediri.id (repro))

Kamis (24/10) pagi merupakan hari terakhir Kasih, ibunda Yuyun, bertemu dengan putrinya itu. Sebelum kejadian nahas menimpa gadis 22 tahun tersebut saat berangkat kerja. Yuyun meninggal dunia akibat kecelakaan di Jalan Raya Desa Jatilengger, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar.

Duka mendalam masih menyelimuti keluarga Yuyun. Dua karangan bunga berjajar di halaman rumah duka di Dusun Bulurejo, Desa Semen, Kecamatan Pagu, kemarin sore (25/10). Beberapa kerabat dan rekan Yuyun juga masih berdatangan untuk menyampaikan belasungkawa pada keluarga. Terutama kedua orang tua Yuyun yang kemarin tampak tegar menghadapi cobaan pahit yang menimpa itu.

“Wa’alaikumsalam, monggo pinarak,” ucap Kasih mempersilakan masuk tamu yang datang.

Kasih tak menyangka putrinya yang masih belia ini harus tiada dalam waktu yang sangat singkat. Bahkan, hanya beberapa jam setelah berpamitan untuk mengemban tugas mulia. Yakni sebagai aparatur sipil negara (ASN) di Puskesmas Binangun, Kabupaten Blitar.

Mengenang masa hidup putrinya, Kasih menyampaikan bahwa sejak kecil Yuyun merupakan gadis yang periang. “Anaknya rajin, dan mudah bergaul dengan teman-temannya,” ujarnya.

Memang, Kasih mengakui bahwa putrinya itu merupakan gadis yang sangat bersemangat dalam menjalankan tugas. Terutama tugas yang berkaitan dengan sekolahnya. Dan yang paling ia ingat adalah ketika Yuyun masih duduk di bangku sekolah menengah kejuruan (SMK) jurusan tata boga.

Kasih sering dibuatkan masakan dengan resep baru. “Saya disuruh mencicipi, sebelum diberikan pada saya di plating dahulu, kalau kelihatan bagus terus difoto,” tutur Kasih sembari berkaca-kaca mengingat tingkah putrinya yang telah menjadi kenangan itu.

Kasih mengakui bahwa putrinya itu sangat dekat dengannya. Bahkan seperti teman sendiri, untuk curhat dan segala sesuatu hal diceritakan padanya. “Dia juga senang bercanda, periang,” imbuh perempuan yang juga ASN di SDN Baye, Kecamatan Kayenkidul tersebut.

Namun kenangan itu hanya bisa diingatnya. Kasih menceritakan bahwa sebelum meninggal terjadi kecelakaan. Yuyun usai melakoni kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan sebagai CPNS.

Setelah diklat itu ia meminta izin satu hari untuk pulang. Namun Tuhan berkehendak lain, satu hari setelah pulang bertemu orangtuanya itu justru Yuyun meninggalkan keluarga untuk selamannya.

Yuyun, yang juga karib dipanggil Faton, oleh rekan-rekannya itu menjadi putri yang dibanggakan oleh kedua orang tuanya. Seusai tamat D3 Rekam Medik di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Malang, Yuyun mencoba peruntungan untuk mendaftar CPNS.

“Alhamdulillah lolos, anaknya memang bekerja keras untuk bisa mendapat yang diinginkan,” tambah Khoirul Ashar, ayah Yuyun.

Khoirul menyebut, Yuyun menerima SK CPNS pada Maret tahun ini. Sebagai petugas rekam medik sesuai bidangnya. Tentu hal itu, menurutnya, menjadi kebanggaan tersendiri baginya. “Sebelum ujian selalu meminta doa restu pada orang tua,” imbuhnya.

Khoirul dan Kasih kini telah ikhlas, kehilangan putri yang menjadi kebanggaan selama masih hidup tersebut. Putri periang yang bersemangat menggapai cita-cita.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia