Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Germas Award 2019: Melanggar, Didenda Rp 500 Ribu

26 Oktober 2019, 13: 54: 57 WIB | editor : Adi Nugroho

germas award 2019

EDUKASI: Tim juri Germas Award 2019 ketika memberikan penilaian di Hotel City Hub Kediri, kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KEDIRI KOTA, JP Radar Kediri – Perusahaan swasta punya cara masing-masing untuk menegaskan larangan merokok di sekitar ruangan. Salah satunya dengan memberikan denda kepada customer yang melanggarnya. Selain mengampanyekan hidup sehat, hal itu dilakukan demi kebaikan bersama.

Manajer Hotel City Hub Kediri Wisnu Tri Andika mengatakan, aturan larangan merokok sangat tegas dibuat perusahaannya. Bahkan, aturan tersebut diperuntukkan bagi para customer. “Kami membuat aturan untuk customer. Dilarang merokok di tempat bukan smoking area,” ujarnya kepada tim juri Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) Award 2019, kemarin.

Dalam aturan tersebut, Wisnu mengatakan, pihak hotel mencantumkan sanksi bila peraturan dilanggar. Yang melanggar diwajibkan membayar denda Rp 500 ribu. “Tentu saja aturan disepakati di awal saat mereka akan check in,” ungkapnya.

Wisnu mengakui, aturan tersebut sempat membuat customer-nya keberatan. Namun pihaknya memberikan edukasi bahaya merokok. Apalagi dilakukan di tempat banyak orang. “Kami sadari di awal-awal hotel beroperasi, banyak yang keberaratan. Bahkan ada yang pernah membatalkan menginap,” kata pria kelahiran Cilacap, Jawa Tengah (Jateng) ini.

Seiring berjalannya waktu, Wisnu mengatakan, komplain soal sanksi merokok itu sudah tidak ditemui lagi. Sejak hotel dibuka pada 2016, ada satu customer yang pernah melanggar. “Sesuai kesepakatan, harus ada denda,” tegasnya.

Peraturan larangan merokok juga ditegaskan kepada staf dan karyawan. Untuk menegaskan hal tersebut, lanjut Wisnu, pihaknya membuat peraturan perusahaan (PP). “Selama jam kerja, staf dilarang merokok di dalam hotel. Karena itu, kami memang tidak menyediakan smoking area (untuk karyawan),” ungkapnya.

Sejak awal rekrutmen, Wisnu mengungkapkan, perusahaan memang mencari calon karyawan yang bukan perokok. Apalagi dari 21 karyawan, sebanyak 19 orang adalah pegawai laki-laki. “Yang perempuan hanya dua orang. Di bagian penerima tamu,” papar Wisnu.

Untuk aktivitas olahraga, Wisnu mengungkapkan, perusahaan memiliki tim futsal. Biasanya, mereka berlatih sebulan sekali. “Untuk yang perempuan, kami belum ada agenda olahraga bersama,” urainya.

Sementara di Wanaartha Life Kediri, Hendro Yuwono Salim, Senior Agency Director, mengatakan, perusahaannya peduli dengan kesehatan para karyawan. Secara berkala, setahun sekali, pihaknya membiayai pemeriksaan kesehatan. “Kami ada general check up untuk semua karyawan,” terangnya.

Hendro mengakui, pemeriksaan kesehatan sangat penting untuk melihat rekam medis para stafnya. Pasalnya, beberapa tahun lalu, mereka kehilangan salah satu karyawan yang meninggal secara mendadak karena serangan jantung.

“Driver kami meninggal di kantor. Dari kejadian itu, kami menganggap pemeriksaan kesehatan harus dilakukan,” ungkap pria asli Kediri ini.

Selain itu, perusahaan juga memperhatikan kesehatan mental karyawan. Untuk melepaskan penat dari rutinitas kerja, sambung Hendro, perusahaan mengajak staf berlibur ke luar negeri. “Kami pernah ke Vietnam, Thailand, Malaysia. Sekadar refreshing,” imbuhnya.

Untuk diketahui, penjurian Germas Award untuk empat kategori ditutup kemarin. Selain perusahaan swasta, sebelumnya tim juri sudah menilai instansi pemerintahan, BUMN, dan BUMD serta kelurahan. Selanjutnya juri akan menentukan enam pemenang.

     

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia