Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Kondisi 5 Korban Letusan Balon Gas Berangsur Membaik

26 Oktober 2019, 13: 42: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

balon meledak

TANGGUNG JAWAB: Perwakilan keluarga korban letusan balon teken kesepakatan pemberian dana kompensasi. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Insiden meledaknya balon gas yang diterbangkan Yayasan Al-Ma’arif Singosari, Malang, dalam peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019 menjadi perhatian serius. Pasca kejadian yang menelan delapan korban di Kecamatan Puncu itu, yayasan yang bernaung di bawah Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Malang itu akan mengevaluasi kegiatan tersebut.

Menurut Ketua Panitia HSN 2019 Yayasan Al-Ma’arif Singosari Abdul Khodir Wahid, selama lima tahun terakhir pelaksanaan agenda tahunan tersebut selalu berjalan lancar. Pun penerbangan balon-balon aman-aman saja. Namun, baru tahun ini pihaknya mengalami musibah balon meletus.

“Kami selalu mengadakan HSN setiap tahunnya. Dan selalu menerbangkan puluhan balon sebagai formalitas acara,” ungkapnya.

Korban Balon Meledak

Korban Balon Meledak (radarkediri.id)

Makanya, pihaknya tidak menyangka letusan balon gas itu sampai melukai warga. Ada delapan orang dari Desa Manggis dan Sidomulyo, Kecamatan Puncu yang mengalami luka bakar akibat berebut balon tersebut.

Delapan korban itu lima di antaranya adalah warga Desa Manggis. Tiga lainnya dari Desa Sidomulyo. Salah satunya masih bocah. Namanya Zaki, 10, masih kelas 3 SD. Ia terluka bakar di tangan dan wajah. Sementara empat korban lain dari Desa Manggis adalah Juwanto, 34; Winarko, 37; Sutikno, 40; dan Mukidi, 48. Rata-rata mengalami luka bakar di tangan dan wajah.

Kejadian balon meletus itu ternyata tak hanya di Kabupaten Kediri. Sebab, dari laporan masyarakat yang diterima pihak yayasan, juga ditemukan terjadi di lokasi berbeda. Yakni, di Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar.

“Tetapi hanya di sini (Desa Manggis, Red) yang makan korban. Kalau di Blitar alhamdulillah tidak ada korban,” terang Wahid –sapaan akrab Abdul Khodir Wahid.

Kepada para korban luka, dia menyatakan, pihak yayasan memberikan bantuan dana kompensasi. Besaran bantuan sebesar Rp 5 juta per orang. Wahid menuturkan, setidaknya bantuan tersebut dapat meringankan beban biaya perawatan selama di rumah sakit. “Selanjutnya, kami akan mengevaluasi kegiatan HSN untuk tahun berikutnya,” papar pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pengurus Cabang (PC) NU Kabupaten Malang ini.

Soal mekanisme penerimaan bantuan kompensasi itu, menurut Wahid, nantinya bisa diambil melalui LazisNU Care Kabupaten Kediri. “Selain biar dekat, juga sekalian dari pengurus NU bisa mengetahui dan mengontrol kondisi para korban,” tuturnya.

    Sementara itu, hingga kemarin kondisi korban asal Desa Manggis sudah mulai membaik. Dari lima orang itu, yakni Zaki, Juwanto, Winarko, Sutikno, dan Mukidi menunjukkan perkembangan kesehatan yang positif.

Bahkan, salah seorang di antaranya sudah diizinkan pulang. “Mukidi sudah diperbolehkan pulang dan beristirahat di rumah,” ungkap Kasi Pelayanan Masyarakat Desa Manggis Sunardi.

Menurutnya, dari lima korban dari Manggis, hanya Mukidi yang mengalami luka tidak terlalu parah. Dia hanya luka bakar di bagian tangan kanan dan kiri. “Saya berharap keempat korban lainnya juga segera mendapatkan perkembangan positif dan lekas sembuh,” terang Sunardi.

Dari para korban tersebut, ia mengungkapkan, bakal mendapatkan bantuan kompensasi dari Yayasan Pendidikan Al-Ma’arif Singosari, Malang. Jumlah kompensasi pun telah mendapatkan kesepakatan dengan pihak keluarga korban. Hanya saja, dana kompensasi itu belum bisa dicairkan untuk pembayaran pengobatan.

“Untuk saat ini masih belum bisa dilakukan klaim. Namun, mekanisme pengambilan nantinya akan langsung dibagikan oleh LazisNU Care Kabupaten Kediri,” urainya kepada koran ini.

Lebih lanjut, Sunardi berharap, pemberian bantuan kompensasi yang diterima masing-masing sebesar Rp 5 juta itu bisa meringankan beban korban yang terluka bakar. “Setidaknya bisa membantu beban para korban. Kalau melihat biaya mengganti lapisan kain perban saja bisa sekitar Rp 2 juta sekali pakai,” ujarnya.

Terpisah, Ponijem, 41, bibi Juwanto, telah menjenguk keponakannya. Dia mengungkapkan, saat ini kondisinya sudah mengalami perkembangan yang baik. Pasalnya, Juwanto sudah beberapa kali melakukan operasi kulit. “Sudah dua kali Juwanto harus mengganti lapisan kain perbannya, harganya sangat mahal,” ungkapnya.

Selain bantuan kompensasi tersebut, Ponijem berharap, ada bantuan dari Pemerintah Kabupaten Kediri, khsususnya dinas sosial. “Kondisi Juwanto memang cukup parah. Ia luka bakar pada kedua tangan dan wajahnya,” paparnya.

Korban dari Manggis setelah Tiga Hari Dirawat

Nama        Kondisi                                            Status

Juwanto      Luka bakar di wajah dan tangan                Masih dirawat RSUD Pare

Winarko     Luka bakar seluruh wajah                 Rawat inap RSUD Pare

Sutikno       Luka bakar di wajah dan tangan                Rawat inap RSUD Pare

Zaki            Luka bakar di wajah dan tangan                Rawat inap RS HVA Pare

Mukidi        Luka bakar di kedua tangan               Diperbolehkan pulang dari RS

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia