Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Germas Award 2019: Bentuk Satgas Bebas Asap Rokok

24 Oktober 2019, 14: 31: 53 WIB | editor : Adi Nugroho

germas award 2019

ANTI POLUSI: Juri Germas menilai salah satu peserta di tingkat kelurahan. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Di kelurahan, elemen masyarakat ikut aktif menggelorakan di sekitar tempat tinggalnya. Mereka menggerakkan warga agar selalu menjaga pola hidup sehat.

Di Singonegaran, Kecamatan Kota, Lurah Moch. Nurul Huda mengatakan, RT 25/RW 5 di Gang Anggrek merupakan pilot project kegiatan germas di kelurahannya. Di sana, warganya memiliki banyak program untuk meningkatkan kualitas kesehatan. “Ini RT pencontohan kami dalam germas,” ujarnya kepada tim juri Germas Award 2019, kemarin.

Salah satu penggerak germas di RT tersebut adalah Yuli Purwanti. Sekretaris RT ini mengatakan, setidaknya ada 11 program germas yang sudah berjalan. Yang pertama, warga menyebutnya program go green. “Kami punya tiga taman. Meskipun areanya kecil. Ada taman depan, tengah, dan belakang,” ungkapnya.

Dalam program tersebut, lanjut Yuli, setiap kepala keluarga (KK) wajib memiliki lima pot tanaman di rumahnya. Maklum, berada di gang kecil, media pot memang paling pas untuk menghijaukan tempat tinggal mereka. “Saking sempitnya, banyak pot yang ditempel di tembok rumah,” terang perempuan berkerudung ini.

Untuk aktivitas fisik, setiap Minggu pagi, Yuli mengatakan, warga mengadakan senam bersama. Sebagian besar diikuti ibu-ibu. Yang menarik, instruktur senam dari warga sendiri. Salah satunya, Yuli. Sementara yang laki-laki memilih tenis meja dan bulutangkis. Untuk anak-anak, mereka sering bermain sepak bola di pekarangan kosong di taman belakang.

Yuli melanjutkan, warga sering menggelar acara makan bersama. Agar tetap sehat, mereka menyiapkan sayuran dan buah-buahan sebagai menu seimbang. Selain itu, secara berkala, ada pemeriksaan kesehatan di RT 25. Kebetulan, salah satu warga ada yang berprofesi perawat. “Jadi kami tidak perlu mengundang orang luar. Biasanya untuk mengukur tensi darah dan berat badan,” paparnya.

Selain fisik, Yuli mengatakan, pihaknya juga peduli kesehatan jiwa dan mental. Di RT-nya, mereka memiliki kelompok masyarakat pendukung kesehatan jiwa (Sahaja). Tugasnya, melakukan pendampingan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Sejauh ini, pendampingan yang dilakukan berhasil. Selain mendapat perhatian, ODGJ menjadi lebih berdaya. “Mereka (ODGJ) sekarang bisa membuat telur asin,” tuturnya.

Yuli menambahkan, RT-nya sering mendapat juara dalam sejumlah perlombaan karnaval. Hadiah lomba dimanfaatkan untuk family gathering. Jadi mereka sekali-kali berekreasi untuk melepas penat dari rutinitas sehari-hari. “Sebagian besar, warga kami berprofesi sebagai pedagang,” ungkapnya.

Warga Gang Anggrek juga tegas soal kawasan bebas merokok. Yuli mengatakan, warga yang perokok dilarang merokok di dalam rumah. Selain itu, setiap rumah disediakan tempat untuk membuang puntung rokok. Sehingga sisa batang rokok itu tidak dibuang sembarangan.

Di Kelurahan Kampungdalem, Kecamatan Kota, warga juga menjadi penggerak germas. Terutama di RW 04. Ketua RW Maskur mengatakan, warga membentuk satuan tugas (satgas) bebas asap rokok. Jumlahnya 20 orang. “Itu menjadi tantangan bagi kami (satgas). Karena sebagian besar anggotanya adalah perokok,” kata pria yang berprofesi tukang ojek ini.

Maskur mengungkapkan, tugas satgas adalah mengondisikan wilayah masing-masing. Mereka akan mengawasi warga yang merokok dalam rumah atau di tempat bukan smoking area. Yang tepergok mendapat peringatan sampai sanksi. Sementara tamu hanya diberitahu agar tidak merokok di sembarang tempat.

Adapun di Kelurahan Betet, Kecamatan Pesantren, warganya aktif berolahraga. Mereka membentuk Betet Cycling Club (BCC) pada 2017. Sekarang anggotanya 101 orang. “Semua warga terlibat. Ada yang muda, ibu-ibu, dan bapak-bapak,” kata Lurah Betet Surono.

Dia menambahkan, olahraga bersepeda dilakukan setiap minggu atau dua minggu sekali. Untuk setiap minggu, biasanya anggota yang ingin berpeda jarak jauh. Misalnya ke Selopangung, Kecamatan Semen, dan Gunung Kelud di Kabupaten Kediri. “Yang dua minggu sekali, khusus jarak pendek di sekitar kota. Diikuti ibu-ibu,” ungkapnya.

Terakhir, di Kelurahan Jamsaren, Kecamatan Kota, Lurah Zaki Zamani mengakan, kelurahannya fokus mengampanyekan larangan minum minuman keras (miras) dan penyalahgunaan narkoba. Pihaknya menempel sejumlah spanduk di gang. “Yang menjadi pilot project-nya ada di RW 5,” kata Zaki.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia