Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Wagiman, Tolong Warga Terluka akibat Ledakan Balon Gas

24 Oktober 2019, 14: 19: 11 WIB | editor : Adi Nugroho

wagiman balon meledak

LOKASI KEJADIAN: Wagiman menunjukkan tempat balon gas yang meletus saat diperebutkan warga di Desa Manggis, Kecamatan Puncu, kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Wagiman tak menyangka kerja bakti warga Desa Manggis, Kecamatan Puncu sempat terhenti (23/10). Gara-garanya mereka mengejar balon gas di udara. Nahas, balon itu meletus.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten JP Radar Kediri

Tangan Wagiman tampak erat memegang cangkul, Rabu siang kemarin (23/10). Ia lantas mengayunkan alat bertani itu pada sebidang tanah yang disewanya dari Perhutani. Matanya seolah tak ingin terlewatkan mencangkul tanah di setiap petak.

balon meledak

SISA: Balon yang masih di pohon. (Dwiyan - radarkediri.id)

Lokasinya di Desa Manggis, Kecamatan Puncu. Sekitar 2 meter dari tempat dia mencangkul merupakan lokasi tragedi ledakan balon gas pada peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2019. “Ini Mas lokasi meledaknya balon kemarin (22/10),” ungkap Wagiman. Jari tangan kanannya menunjuk ke lokasi lahan yang merupakan tempat kejadian perkara (TKP) insiden yang melukai delapan orang itu.

Pria parobaya tersebut segera menaruh cangkulnya. Kemudian, ia segera berjalan di lahan lokasi balon meletus tersebut. Sambil melihat sekelilingnya, Wagiman tampak membersihkan sisa-sisa balon yang meledak Selasa lalu.

“Lha ini toh sisanya kemarin Mas,” ungkapnya sambil membawa pecahan bekas balon gas.

Ya, Wagiman merupakan satu dari beberapa saksi mata yang melihat secara langsung kejadian nahas tersebut. Saat itu, Wagiman berada tepat di depan teras rumahnya yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Waktu itu, dia ditemani Ponijem,49, istrinya. “Saat kejadian saya juga melihat ada segerombolan balon. Namun beberapa menit kemudian kok ada bunyi kayak ban pecah, dooorrr..,” lontarnya sambil menirukan bunyi ledakan balon tersebut.

Menurutnya, saat itu beberapa warga seperti Juwanto,34, Winarko, 37, Sutikno, 40, Mukidi, 48, dan Zaki,10, yang merupakan tetangganya tengah melakukan kerja bakti bersama warga lainnya.

Belum sempat kerja bakti itu selesai, mereka dikagetkan dengan suara teriakan. Dari arah suara itu memberitahukan ada balon yang hendak jatuh. “Onok balon...onok balon..(ada balon...ada balon..., Red),” papar Wagiman menirukan teriakan salah seorang peserta kerja bakti saat itu.

Kemudian, puluhan warga yang ikut kerja bakti segera menengadah. Memastikan apa benar teriakan itu. Dan ternyata benar. Ada dua ikat besar balon yang mulai terbang rendah.

Warga kemudian segera semburat mendatangi lokasi balon hendak jatuh. Kebetulan dekat dengan tempat kerja bakti. Wagiman memastikan di lokasi kerja bakti dengan lokasi kejadian meledaknya balon tersebut memang lumayan jauh.

Sekitar 300 meter sisi barat lokasi kerja bakti.

“Memang saat itu para pekerja bakti berlarian mengejar balon tersebut,’ ujar bapak dua anak ini.

Wagiman menambahkan, rencana kerja bakti membuat fondasi musala yang rencananya akan mulai peletakkan batu pertama akhir bulan ini pun urung dilakukan. Pasalnya, beberapa pekerja justru ingin mengejar balon tersebut. Mereka berharap mendapatkan hadiah. Namun hal itu justru berubah menjadi bencana.

Mereka merasakan percikan api yang muncul dari ledakan puluhan balon yang disertai banner bertuliskan Yayasan Pendidikan Al-Ma’arif Singosari, Kabupaten Malang, itu. “Saat itu memang banyak orang yang berebut ngambil balon,” terangnya.

Selang beberapa menit, Wagiman mengaku, langsung mendatangi lokasi kejadian yang hanya berjarak sekitar 10 meter saja dari lokasi ia bersama istrinya tersebut. Saat itu, Ponijem lantas berlari memastikan kejadian bunyi atas ledakan tersebut. Alhasil, Keduanya menemukan delapan orang dalam posisi tersungkur di tanah ladang Perhutani. Kondisi sekujur tubuhnya mengalami luka bakar. “Sampai saat ini saya membayangkan nggak tega Mas,” tandasnya.

Wagiman beserta istrinya lantas berteriak minta tolong. “Tolong..tolong..,” ujar Ponijem menirukan suara saat itu. Wajar saja, salah satu korban dalam insiden tersebut, Juwanto, merupakan keponakan Ponijem.

“Saya gak tega Mas, saat itu sekujur tubuhnya mengalami luka yang cukup serius hingga kulit Juwanto kelihatan berubah menjadi putih,” ujarnya sambil mengusap air matanya dengan tisu.

Dengan bergegas, dibantu dengan beberapa warga yang berduyun-duyun mengerumuni lokasi kejadian, akhirnya delapan korban segera dibawa ke RSUD Pare. “Tanpa mikir apa-apa, saya langsung bawa ke rumah sakit menggunakan mobil warga yang saat itu melintas,” tandasnya.

Sesampainya di sana, Wagiman mengeluhkan reaksi dokter yang agak lambat menangani para korban ledakan balon tersebut. Bahkan, tak jarang para korban berteriak-teriak merasakan kepanasan dalam sekujur tubuhnya. “Saat itu sudah masuk IGD (instalasi gawat darurat) namun belum mendapatkan perawatan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia