Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Juwanto, Korban Terparah akibat Ledakan Balon Hari Santri

Berharap Yayasan Tanggung Jawab

23 Oktober 2019, 18: 30: 55 WIB | editor : Adi Nugroho

korban balon meledak

TELATEN: Juwanto, terbaring di IGD, ditemani ibu (berdiri), istri, dan kedua anaknya. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Keinginan Juwanto mendapatkan kesenangan dengan meraih balon-balon yang terbang rendah urung terwujud. Gantinya, rasa panas akibat luka bakar yang dia rasakan. Kini, keluarga berharap yayasan yang menerbangkan balon itu ikut bertanggung jawab.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Wajah-wajah tegang terlihat dari beberapa orang yang mengelilingi tubuh telentang di salah satu tempat tidur IGD RSUD Kabupaten Kediri. Mereka adalah keluarga dari Yuwanto, sosok yang terbaring lemah di dipan itu. Korban dari ledakan balon udara di Desa Manggis, Kecamatan Puncu.

Yuliana, 33, sibuk membersihkan bekas luka di bagian tangan Juwanto. Istri korban ini dengan telaten menyeka bagian tubuh yang terluka itu dengan pelan. “Awalnya (Juwanto) mengeluhkan kesakitan pada sekujur tubuhnya,” ucapnya dengan suara pelan.

Di ruangan yang berukuran sekitar 8 x 4 meter ini, awalnya ada dua korban ledakan yang masih dirawat di IGD. Selain Juwanto ada Sutikno. Hanya, Sutikno segera dipindah ke ruangan rawat inap. Sementara hingga petang kemarin Juwanto masih bertahan di ruangan tersebut.

Saat itu, Juwanto hanya ditemani oleh ibu, istri, dan dua orang putrinya. Sesekali, Yuliana mengangkat tangan Juwanto karena mengeluhkan panas. “Sudah ada penanganan dari pihak dokter, namun Juwanto mengeluhkan tak nyaman di bagian tangan,” paparnya.

Juwanto sendiri tak banyak berbicara. Seperti menahan rasa sakit akibat luka bakar. “Dari tadi Juwanto hanya diam dan belum bisa terlalu banyak berbicara,” terang Juliana.

Wajar saja, kondisi Juwanto saat itu memang mengalami luka bakar yang lumayan serius. Luka bakar itu ada di sekujur tubuhnya. Ada di bagian wajah, tangan, dan sebagian di kaki sebelah kanan.

Menurut keterangan sang istri, saat itu Juwanto tengah kerja bakti bersama warga Dusun/ Desa Manggis lainnya. Belum sempat kerja bakti itu selesai mereka dikagetkan dengan teriakan warga. Yang memberitahukan ada balon yang hendak jatuh.

“Ana balon...ana balon..(ada balon...ada balon..., Red),” kata Yuliana menirukan teriakan salah seorang peserta kerja bakti saat itu.

Kemudian, puluhan warga yang ikut kerja bakti segera menengadah. Memastikan apa benar teriakan itu. Dan ternyata benar. Ada dua ikat besar balon yang mulai terbang rendah.

Warga kemudian segera semburat mendatangi lokasi balon hendak jatuh. Kebetulan dekat dengan tempat kerja bakti. Namun, keinginan mereka itu justru berubah menjadi bencana. Mereka merasakan percikan api yang muncul dari ledakan puluhan balon  yang disertai banner bertuliskan Yayasan pendidikan Al-Ma’arif Singosari, Kabupaten Malang, itu.

“Kalau menurut saksi mata, saat hendak mengambil balon tersebut tiba-tiba meledak,” ungkap perempuan yang memiliki dua orang anak ini.

Kini, Yuliana juga sedikit gundah. Sebab, sang suami harus dirawat di rumah sakit. Dia pun bingung dengan biaya rumah sakit nanti. Siapa yang akan membantunya membayar biaya itu?  “Saya hanya berharap pihak yayasan untuk bertanggung jawab,” harapnya.

Sore itu, kondisi IGD ramai dengan banyaknya pasien yang menjalani perawatan. Jawa Pos Radar Kediri juga hanya diizinkan beberapa saat saja melihat kondisi Juwanto. “Mohon maaf ya mas, biar Juwanto istirahat dahulu,” pinta Yuliana sambil menutup pintu ruang IGD.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia