Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Dr Djoko Siswanto M, MSi

Kiat Konstruksi Inovasi

23 Oktober 2019, 18: 18: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

Dr Djoko Siswanto M, MSi

Dr Djoko Siswanto M, MSi (radarkediri.id)

Share this          

 

 

Oleh:  Dr Djoko Siswanto M, MSi

Perjalanan Anugerah Desa (AD) sejak Tahun 2016, telah menunjukkan kecenderungnya semakin Pemerintah Desa  (Pemdes) di Kediri, memahami makna inovasi. Ada beberapa pengertian terhadap kata ”inovasi” ini, tetapi dapat dimaknai dengan pemahaman yang sederhana dan praktis. Yaitu dapat ditinjau dari beberapa aspek inovasi. Yaitu: kebijakan, program, kegiatan, dan indikator kinerja. Dengan demikian kegiatan AD untuk menilai kinerja pemerintah desa dalam melakukan inovasi.

Permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah desa semakin hari semakin kompleks. Karena semakin ‘meleknya’ warga desa terhadap kehidupan politik desa. Dalam arti warga semakin dilibatkan dalam proses pembangunan dan pemberdayaan warga desa. Sebaliknya, semakin meningkat kesadaran politik dalam arti kebijakan publik maka semakin warga desa menuntut pemerintahan desa atas pelayanan publik.

Sebelum saya lanjutkan tulisan saya ini, perlu adanya pemahaman yang sama terhadap isitilah ”pemerintah desa” dan ”pemerintahan desa.” Secara sederhana, apabila menyebut pemerintah desa ini, menunjuk kepada kepala desa dan perangkat desa. Dan apabila menyebut pemerintahan desa menunjuk pemerintah desa (pemdes) dan badan permusyawaratan desa (BPD).

Kembali ke kegiatan AD, yang dinilai adalah desa dalam arti bagaimana inovasi yang dilakukan oleh pemangku kepentingan (stakeholders).  Yaitu: pemdes, BPD dan warga desa dalam melakukan konstruksi inovasinya. Tahapan penilaian (evaluation) adalah: Pertama, pengumpulan kuesioner AD yang telah diisi oleh pemdes; Kedua, seleksi terhadap isian kuesioner AD, apakah sudah lengkap. Pada tahap ini ada isian kuesioner yang terpaksa dianulir karena tidak memenuhi persyaratan isian kuesioner yang baik dan benar; Ketiga,  penilaian terhadap kecukupan data dengan cara meneliti isian kuesioner yang diisi pemdes dengan memverifikasi data di lapangan; Keempat, seleksi desa yang telah diverifikasi; Kelima, asesmen lapangan (AL) untuk melakukan skoring terhadap kinerja pemerintahan desa dengan menggunakan instrumen tertentu yang memuat indikator, skala pengukuran dan skor; Keenam, rapat pleno penilaian untuk menentukan juara dan nominator per kategori inovasi AD.

Langkah pertama sampai dengan keempat dan keenam dilakukan dalam ruangan. Dan langkah kelima dilakukan di luar ruangan atau di lapangan. Berdasarkan pengalaman dalam penilaian AD, langkah kelima yaitu pada saat AL adalah langkah yang banyak menyita waktu dan perhatian tim juri. Ada beberapa catatan kecil, yang akan datang perlu dihindari, yaitu: (1) Ada satu atau dua pemdes yang tidak siap ketika tim juri melakukan AL; (2) Ada satu atau dua pemdes mengatakan inovasi untuk tahun depan, karena kesalahpahaman tentang tujuan ADA; (3) Ada satu atau dua pemdes memilih suatu program inovasi, tetapi fakta yang dipresentasikan dan di lapangan tidak sesuai dengan program kategori inovasi yang dipilih. Oleh karena itu, perlu disarankan untuk pindah kategori inovasi.

Prinsipnya penilaian adalah akan memotret realitas kondisi desa yang dipimpin oleh seorang kepala desa bersama perangkat desa, BPD dan warga desa setempat. Inovasi desa merupakan kiat untuk membangun suatu yang baru (novelty), melembaga, masif ke seluruh desa, partisipatif dan berkesinambungan (sustainable).

Penilaian terhadap inovasi desa tidak sekadar memberi skor kepada inovasi desa. Tetapi lebih jauh menilai secara komprehensif sejauh mana potensi desa dapat dikembangkan lebih jauh dan bahkan memberikan fasilitas kepada tumbuhnya inovasi-inovasi yang lain di kemudian hari.

Dengan demikian, menentukan juara dan nominator adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan perspektif yang lebih luas terhadap arah dan perkembangan inovasi di desa.

Pada kesempatan ini, kami mengucapkan selamat bagi desa yang akan mendapatkan juara dan nominator pada tahun 2019 ini, dan bagi desa yang belum mendapatkan, tidak perlu kecil hati dan justru lebih menumbuhkan kiat yang lebih serius di dalam menciptakan sebuah inovasi selama kurang lebih satu tahun anggaran yang akan datang. AD adalah sebagai salah satu cara untuk menumbuhkan semangat inovasi bagi seluruh desa di wilayah Kabupaten Kediri.

(penulis adalah salah satu juri AD dari unsur Akademisi Universitas Pawyata Daha Kediri) 

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia