Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Ekonomi
Anang Widodo

Memahami Peran Santri pada Gerakan Tani Milenial

23 Oktober 2019, 18: 08: 39 WIB | editor : Adi Nugroho

Oleh : Anang Widodo, SP

Oleh : Anang Widodo, SP (radarkediri.id)

Share this          

Hari Santri Nasional yang jatuh pada 22 Oktober 2019 kemarin menjadi momentum bagi santri dan pendidikan pesantren di pelosok nusantara untuk dapat meningkatkan peran dan kontribusinya dalam pembangunan bangsa dan negara melalui fungsi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

       Amanat Ketua Umum PBNU pada Hari Santri Nasional 2019 yang bertemakan "Santri Unggul Indonesia Makmur" merefleksikan jati diri santri di tengah revolusi gelombang keempat (4.0). Yaitu bahwa santri harus kreatif, inovatif, dan adaptif terhadap nilai-nilai baru yang baik sekaligus teguh menjaga tradisi dan nilai-nilai lama yang baik.

 Santri tidak boleh kehilangan jati dirinya sebagai muslim yang berakhlakul karimah, yang hormat kepada kiai dan menjanjung tinggi ajaran para leluhur. Terutama metode dakwah dan pemberdayaan Walisongo.

Santri disatukan dalam asasiyat (dasar dan prinsip perjuangan), khalfiyat (background sejarah), dan ghayat (tujuan). Jati diri santri adalah moralitas dan akhlak pesantren dengan kiai sebagai simbol kepemimpinan spiritual (qiyadah ruhaniyah).

Karena itu, meskipun santri telah melanglang buana, menempuh pendidikan hingga ke mancanegara, dia tidak boleh melupakan jati dirinya sebagai santri yang hormat dan patuh pada kiai.

Revolusi gelombang keempat atau yang biasa disebut revolusi industri 4.0 menjadi keharusan bagi bangsa indonesia khususnya para santri yang menjadi salah satu iron stock untuk bersaing di era milenial seperti saat ini.

Budaya milenial tidak hanya merambah generasi dan komunitas tertentu saja, tetapi juga merambah santri sebagai elemen dan komunitas penting bangsa ini. Era milenial ditandai dengan pola perilaku dan pola pikir yang berbeda seiring dengan perkembangan teknologi dan arus informasi yang pesat.

Generasi milenial juga memiliki sifat kritis terhadap fenomena dan perubahan sosial dan bisa melakukan sendiri secara sekaligus sejumlah pekerjaan atau multitasking.

Karakter santri yang inklusif atau terbuka juga relatif mampu beradaptasi terhadap setiap perubahan zaman. Terbukti saat ini ketika santri tidak hanya mumpuni dalam bidang-bidang ilmu agama, tetapi juga menggeluti bisnis, mengembangkan industri pertanian, desain grafis, editing video, pembuatan jaringan online atau website, aplikasi android, startup, dan pengembangan media. Kritis terhadap perubahan sosial dan multitasking merupakan karakter penting dalam kehidupan para santri.

Dalam upaya pemberdayaan santri milenial pada sektor pertanian, Kementerian Pertanian (Kementan) terus melakukan terobosan meningkatkan produksi pertanian di berbagai komoditas melalui peningkatan minat generasi muda khususnya para Santri di Indonesia.

Kementerian Pertanian dalam rilisnya menyebutkan Santri Tani Milenial merupakan upaya serius kementan dalam regenerasi di sektor pertanian serta memperkenalkan dan menggerakan santri milenial adalah pilihan strategis untuk regenerasi dan meningkatkan produktivitas pertanian.

Selain itu, kegiatan ini diharapkan mampu memberiakan motivasi bagi pesantren untuk bisa mendorong produktivitas pertanian dan menghasilkan banyak entrepreneur muda bidang pertanian ketika kembali ke masyarakat. (penulis adalah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kediri)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia