Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Dituntut 15 Tahun, Dua Terdakwa Mutilasi Budi Hartanto Beri Pleidoi

22 Oktober 2019, 18: 37: 21 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan budi

TERDAKWA: Aris Sugianto dan Aziz Prakoso menyampaikan pleidoi dalam persidangan di ruang Cakra, Pengadilan Negeri Kabupaten Kediri, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

NGASEM, JP Radar Kediri – Menghadapi tuntutan 15 tahun, Aris Sugianto, 23, dan Aziz Prakoso, 34, dua terdakwa pembunuhan dan mutilasi Budi Hartanto, guru tari asal Tamanan, Mojoroto, membela diri. Dalam sidang kemarin, mereka menyampaikan pleidoi didampingi tim penasihat hukum (PH)-nya.

Tak cuma tingginya tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), keduanya juga keberatan dengan penerapan pasal 338 KUHP tentang pembunuhan. Pengacara Aris dan Aziz mengklaim kliennya tak berniat membunuh. Namun, Aris yang warga Mangunan, Udanawu, Blitar, dan Aziz asal Desa/Kecamatam Ringinrejo, terpaksa membela diri.

“Karena tidak ada niat terdakwa menghilangkan nyawa orang lain. Perbuatan para terdakwa semata-mata melindungi badan dari serangan orang lain sehingga berlaku pasal 49 ayat (2) KUHP,” terang anggota tim PH, M. Karim Amrulloh, dalam sidang di ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.

Isi pasal 49 ayat (2) itu tentang pembelaan terpaksa yang melampui batas, yang langsung di sebabkan oleh goncangan jiwa yang hebat karena serangan atau ancaman serangan itu, tidak dipidana. “Bisa dibayangkan, bila terdakwa Aziz tidak membela diri dari serangan korban, bisa jadi terdakwa yang akan menjadi korban dari pelampiasan emosi korban,” papar Karim.

Dia menilai, JPU M. Iskandar, Tomy Marwanto, dan Zanuar Irkham lupa tidak menganalisis motif, sebab akibat tindakan tersebut terjadi. Seperti diketahui, terbunuhnya Budi berawal dari cekcok dengan Aris. Gara-garanya, Aris menolak memberikan uang setelah berhubungan badan dengan Budi.

Saat itu, Aziz melerai pertengkaran dua pemuda penyuka hubungan sesama jenis tersebut. Namun, Budi malah menamparnya. Keduanya lalu bertikai. Budi tiba-tiba mengacungkan bendo pada Aziz. Tetapi Aziz bisa merebutnya. Kemudian dibacokkan ke Budi. “Akhirnya datang Aris, dia memegang tangan korban,” ungkap Karim.

Selain melalui pengacaranya, Aris dan Aziz juga menyampaikan sendiri pleidoinya. Keduanya meminta keringanan hukuman. Selain meminta maaf pada keluarga Budi, mereka mengaku menyesal dan janji tidak mengulangi perbuatannya.

“Bagaimana tanggapan jaksa mengenai pleidoi yang diajukan terdakwa?” ujar Ketua Majelis Hakim M. Fahmi Harry Nugroho dengan nada tanya.

Menanggapi hal ini, JPU Iskandar mengatakan, akan menjawab pleidoi tersebut secara tertulis. Dia lantas meminta waktu selama satu minggu. Karena itu, sidang akan dibuka lagi pada Kamis (24/10) dengan agenda replik.

Untuk diketahui, kasus terjadi pada April 2019. Bermula dari penemuan mayat tanpa kepala dalam koper di Jembatan Karanggondang, Udanawu. Setelah diselidiki terkuak jasad itu adalah Budi Hartanto.

Sebelum tewas, Budi dan Aris sempat berhubungan badan di rumah kontrakan Aris, Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo. Setelah itu, Budi meminta uang. Namun, tidak diberi. Akibatnya, Budi marah lalu terjadi cekcok.

Dalam keadaan emosi, Budi keluar kamar membanting pintu. Di luar rumah, Aziz berusaha menasihati. Tetapi Budi justru marah dan menampar Aziz. Tidak terima, Aziz memukul Budi hingga mundur. Saat itulah, Budi langsung mengambil bendo yang berada di kursi sebelahnya.

Dia mengarahkannya pada Aziz. Dalam pertikaian, Aziz bisa merebut senjata tajam itu. Sementara Aris membantu Aziz. Dia memegangi tangan Budi. Akhirnya, Budi tewas. Demi menghilangkan jejak, jasad Budi dibuang. Karena tidak muat dimasukkan koper, mayat guru honorer di Banjarmlati tersebut dimutilasi. Selanjutnya, tubuh dan kepalanya dibuang di lokasi berbeda.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia