Sabtu, 25 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Events
Melihat Kiprah Santri di Era Milenial

Kampanyekan Islam Nusantara hingga ke Thailand

22 Oktober 2019, 18: 19: 09 WIB | editor : Adi Nugroho

santri kediri

HAFALAN: Dari kiri, Aileen, Latif, dan Aqil, murajaah bersama guru pembimbingnya, Badik Susanto (kiri) dan Kholilur Rahman. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Siapa bilang santri hanya identik dengan sarung dan songkok hitam? Banyak dari mereka yang memberi warna pada kehidupan. Ilmu yang mereka dapatkan selama mondok jadi kunci keberhasilan. Seperti tiga santri yang berkesempatan menjalani pertukaran pelajar ke Thailand.

Lantunan Alquran nyaring terdengar di ruang Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri 8 Kediri. Berasal dari tiga bocah yang ditemani dua gurunya. Ketiganya tengah melakukan murojaah, mengulang kembali hafalan ayat suci Alquran.

“Hampir tiap hari kami melakukan murojaah dengan pengasuh pondok,” ucap Mochamad Latif. Bocah ini adalah satu di antara tiga santri Ponpes Miftahul Huda Soko, Kecamatan Pagu, yang studi ke Thailand 27 Agustus – 16 September lalu. Dua lainnya adalah Aqil Yusva Haqqi dan Aileen Nazla Tiffani.

Ketiganya tak dipilih secara sembarangan. Tapi melalui proses seleksi dengan sistem gugur. Melewati tes tulis, wawancara, dan baca tulis Alquran (BTQ).

Hampir sebulan santri asal Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur ini, merasakan pengalaman belajar di Negeri Gajah Putih. Tepatnya di Saengtham Wittaya Mulniti, Songkhla, Thailand. “Selama di sana saya bisa berkesempatan memperkenalkan Islam nusantara,”  aku Latif.

Diakui Latif, Islam nusantara adalah Islam berkembang di nusantara. Yang punya nilai dan kultur khas nusantara. Beberapa aktivitas muslim di nusantara dia kampanyekan kepada muslim di Thailand. Seperti tawasuth (moderat), tasamuh (toleran), dan iktidal (berimbang). “Jadi sesuai ajaran yang saya terima di pondok, kami berusaha kampanyekan sikap moderat, toleran, dan berimbang,” terangnya.

Aqil Yusva Haqqi punya cerita lain. Menurutnya, kesempatan di  Thailand dia gunakan sepenuhnya memperkenalkan kebudayaan Islam nusantara. Seperti budaya al banjari, diba, manaqib dan istighotsah. “Saya berharap ajaran Islam nusantara ini bisa diaplikasikan dan memberikan salah satu upaya perdamaian sesama muslim,” ujar bocah asal Desa Pranggang, Kecamatan Plosoklaten ini.

Selama di Thailand, Aqil juga membawa misi mengaktualisasikan Islam Rahmatan Lilalamin. Menurutnya, keberagaman dalam beragama di Thailand memiliki nilai toleransi yang begitu kuat. Terbukti, hampir jarang terjadi konflik SARA. “Kami hanya ingin memperkenalkan islam yang santun yang membawa kedamaian bagi seluruh alam,” ujar bocah kelahiran 13 Februari 2007 ini.

Aileen Nazla Tiffani, satu-satunya santriwati di antara mereka, mengaku selalu teringat salah satu pesan pengasuhnya di pondok,  Kholilur Rohman. Pria yang juga sebagai salah satu Waka Humas di MTsN 8 Kediri ini selalu memberikan wejangan untuk mengaplikasikan keilmuan agama yang ia ajarkan selama di Negara Gajah Putih.

“Yang selalu saya ingat agar selalu menjaga toleransi antar umat agama,” ujar bocah yang saat ini kelas 8 ini.

Menurutnya, selama di Thailand, ia bersama tiga santri ponpes Miftahul Huda Soko lainnya selalu berupaya membangun big design ajaran Islam nusantara. “Kami berharap, apa yang menjadi nilai dakwah kami selama menimba ilmu di Ponpes Miftahul Huda Soko dan MTsN 8 Kediri dapat bermanfaat bagi saudara kami di Thailand,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia