Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Events

Santri Asal Kediri: Disiplin Terpupuk dari Tambakberas

22 Oktober 2019, 18: 13: 17 WIB | editor : Adi Nugroho

Muhammad Heri Susanto

Muhammad Heri Susanto

Share this          

Muhammad Heri Susanto menapaki jalan kesuksesan sebagai pengusaha. Kesuksesan itu tak bisa dilepas dari pengalamannya nyantri di Ponpes Tambakberas, Kabupaten Jombang. Yang memberinya kedisplinan dalam berusaha.

Pria kelahiran Kediri, 1 Mei 1984 ini, memiliki dua toko alat tulis kantor (ATK) berkelas distributor. Dengan jumah pegawai sebanyak 55 orang.

Sebagai distributor ATK, Heri mengaku, tokonya mengirim barang-barang ke luar kota. Yakni di Kabupaten Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Nganjuk, Jombang: Babat, Lamongan, dan Bojonegoro. “Alhamdulillah sudah sampai ke luar kota,” kata bapak tiga anak ini.

Kesukesan itu menurutnya tidak lepas dari ilmu disiplin yang diperoleh dari pondok pesantren (ponpes). Ya, Heri merupakan alumnus Ponpes Al Muhibbin Tambakberas, Kabupaten Jombang. “Saya mondok sembilan tahun di Tambakberas,” ungkapnya.

Setelah lulus SD Pawyatan Daha pada 1996, Heri memutuskan mondok ke Jombang. Meski dari sekolah umum, ketertarikan nyantri itu bermula dari pesantren kilat yang pernah diikutinya di Tambakberas. “Saya ikut santri kilat waktu SD. Dari situ, saya mulai tertarik,” ucapnya.

Di Tambakberas, selain mondok, dia juga mengambil sekolah formal. Biasanya, sekolah formal dimulai pagi sampai siang hari. Setelah ashar, dia mengaji kitab kuning sampai sekitar pukul 17.00 WIB. Setelah itu, malam dilanjutkan lagi dengan mengaji.

Selama mondok, Heri mendapat jatah libur dua hari dalam seminggu. Libur dijadwalkan pada Senin dan Kamis. Meskipun libur, dia memilih pulang ke Kediri dua bulan sekali.

Di pondok, dia belajar dari gurunya KH Jamaluddin Ahmad. Selain ilmu agama, Heri merasa kehidupan di Tambakberas secara tidak langsung melatihnya untuk jujur dan displin. “Setiap hari, kami harus bangun sebelum subuh. Itu rutin dilakukan. Guru-guru juga mengajarkan sikap kejujuran dalam semua tindakan,” ungkap anak sulung tiga bersaudara ini.

Lulus pada 2005, Heri memilih pulang ke Kota Kediri. Dia semula membantu menjadi guru ngaji di Taman Pendidikan Alquran (TPA) Setonogedong selama setahun. Kemudian, pada 2007, sambil kuliah di Universitas Islam Kadiri (Uniska) Kediri, dia mendirikan TPA Al Fatah  di Kelurahan Tosaren. “Saya ngajar sampai 2010. Sekarang sudah ada gurunya sendiri. Saya tinggal mantau,” terang sarjana ekonomi

Heri menggeluti dunia bisnis sejak 2006. Selama bersbisnis, dia selalu meminta pegawainya untuk disiplin. Misalnya datang ke toko harus tepat waktu, pengiriman barang tidak boleh terlambat dan bentuk kedisiplinan lain. “Disiplin jadi prinsip hidup saya. Tanpa mondok, mungkin saya tidak mendapatkannya,” katanya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia