Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Kolom
Moch. Didin Saputro

Peh Jathukno!!!

20 Oktober 2019, 14: 54: 41 WIB | editor : Adi Nugroho

Moch. Didin Saputro

Moch. Didin Saputro (radarkediri.id)

Share this          

Sibe menjadi motor di balik kemenangan Pak Kades Gareng. Semangatnya sebagai tim sukses kepala desa terpilih itu memang bisa dibilang sangat total. Berbagai cara dilakukan demi jagoan yang ia usung bisa menang. Tentu dengan menduduki kursi pejabat tertinggi di desanya.

Sibe mempunyai harapan yang tinggi atas kemenangan kades yang diusungnya itu. Ia sangat ingin desanya bisa lebih maju. Jauh lebih berkembang dibanding pemerintahan kades sebelumnya. Sebab, selama dua periode menjabat, kepala desa lama tak bisa mengubah kondisi desa. Justru karut-marut pemerintahan-lah yang terjadi.

Selama ini, Sibe memang terkenal sebagai orang sukses di lingkungannya. Salah satu orang paling kaya di desa itu. Tak ayal, jika telah banyak dana yang ia keluarkan demi membantu memenangkan Kades Gareng. Pun demikian dengan kades satu ini, sebagai orang tajir di desa itu, tentu cukup mudah baginya untuk bisa melenggang dalam bursa pemilihan kepala desa saat itu.

Kades Gareng berhasil mengalahkan dua kandidat lain pada pemilihan kepala desa (pilkades) beberapa tahun silam. Salah satunya adalah tokoh masyarakat yang cukup berkompeten, dikenal sebagai sosok yang bersahaja di lingkungannya. Memiliki tanggung jawab serta kemampuan manajerial yang mumpuni. Kandidat tersebut kalah tak lebih dari 200 suara di bawah Kades Gareng.

Usut punya usut, kemenangan Kades Gareng memang sangat dipengaruhi kerja keras Sibe. Yang ternyata memiliki keinginan lain, yakni kepentingan politik dengan Kades Gareng. Sibe diberi penawaran khusus, dengan iming-iming mendapat jatah perangkat desa untuk mengisi kekosongan perangkat pemerintahan di desanya.

Permainan politik uang terjadi selama proses pilkades. Sibe menjadi pemain utamanya. Belum lagi dibantu tim sukses Kades Gareng yang lain. Total, nyaris satu miliar rupiah ia keluarkan untuk mendukung kades terpilih tersebut.

Hampir satu periode masa jabatan Kades Gareng berlangsung. Desa yang dipimpinnya ternyata tak juga menunjukkan tanda-tanda perkembangan. Terlebih, janji memberikan jatah perangkat desa pada Sibe pun juga tak kunjung direalisasikan.

Dan yang tak terpikirkan oleh Sibe, adalah kemampuan dari Kades Gareng. Ternyata sosok pemimpin yang dipilihnya itu tak memiliki keterampilan mengoperasikan komputer. Kades Gareng mengandalkan perangkat pemerintahan yang lama. Dalam hal mengerjakan segala sesuatu yang harus menggunakan alat elektronik yang telah menjadi kebutuhan publik tersebut.

Sibe merasa kecewa, harapannya di periode pertama kepemimpinan Kades Gareng pupus. Hanya satu yang ada dibenaknya. “Peh, jathukno ora njago kuwi,” cetusnya mengungkapkan penyesalan.

Saya sendiri selama ini sering menjumpai beberapa desa yang kepala desanya memang tak memiliki kemampuan bisa menggunakan komputer. Mungkin bagi sebagian orang ini tak terlalu penting dan tak terlalu diperhitungkan. Padahal keterampilan menggunakan komputer itu akan sangat membantu pekerjaan seorang kepala desa selama menjabat. Termasuk bisa menjadi fasilitas dalam mengasah kemampuan dan menambah wawasan untuk pembangunan desa ke depannya.

Padahal, jika mengacu peraturan yang berlaku. Ada beberapa tugas utama kepala desa tersebut. Selain menyelenggarakan dan melaksanakan pembangunan desa, kades juga dituntut untuk bisa melakukan pembinaan dan pemberdayaan bagi masyarakat desa. Tentu saja dengan harapan desa yang dipimpin bisa lebih maju dan berkembang.

Saya juga sering di beberapa desa ada yang kadesnya tak peduli dengan masyarakatnya. Tak peduli dengan perkembangan dan pembangunan desa untuk menjadi lebih baik lagi. Kerjaan orang nomor satu di desa itu hanya duduk-duduk santai. Bahkan ada juga yang tak mau pergi ke kantor desa. Jika warga ingin meminta tanda tangan dan stempel, maka harus pergi ke rumahnya.

Nah jika demikian, kenapa mereka yang seperti itu bisa terpilih? Yang jelas, ya kembali lagi kepada masyarakat yang memilihnya. Faktor apa saja yang menjadi dorongan untuk memilih kepala desa tersebut. Tidak ada pilihan lain? atau justru karena iming-iming? Entahlah.

Dan perlu diingat, untuk pesta demokrasi tingkat otonomi daerah paling bawah yang akan dilaksanakan 30 Oktober di Kabupaten Kediri nanti, jangan sampai salah pilih. Jangan sampai satu, dua, atau tiga tahun ke depan anda bilang kata ‘Peh jathukno.!!!’. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri).

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia