Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Artie Puspita dan Ceritanya Menjadi Pendamping ODGJ

Tak Kapok Meski Pernah Shock

20 Oktober 2019, 14: 40: 22 WIB | editor : Adi Nugroho

odgj artie puspita

SENANG: Artie Puspita berpose di dekat banner susunan pengurus posyandu Jiwa di Desa Semen, Pagu. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

Artie Puspita tengah menikmati perannya sebagai pengelola program kesehatan jiwa di Puskesmas Pagu. Padahal, di awal memegang tugas tersebut, dia sempat minta dipindah. Kini, Artie sudah dianggap sebagai ibu dari ODGJ.

Artie Puspita benar-benar pusing tujuh keliling saat pertama kali menjalankan tugas sebagai pengelola program kesehatan jiwa di Puskesmas Pagu. Apalagi, ketika diangkat menjadi pemegang program tersebut pada 2011 silam, usianya baru 22 tahun. “Saya baru saja jadi PNS (pegawai negeri sipil, Red) waktu itu,” ucap Artie mengingat-ingat.

Dengan pengalaman yang masih minim, Artie perlu banyak belajar. Terlebih, dia harus mendampingi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di seluruh kecamatan. Tentu saja tantangannya sangat banyak.

MERAPIKAN: Seorang petugas posyandu Jiwa Desa Semen, Pagu, memotong jenggot salah seorang pasien binaan.

MERAPIKAN: Seorang petugas posyandu Jiwa Desa Semen, Pagu, memotong jenggot salah seorang pasien binaan.

Sebelum ada posyandu jiwa, tugas pengelola program jiwa lebih banyak melakukan sosialisasi. Di awal, Artie dan kader kesehatan jiwa selalu berkunjung ke rumah ODGJ. “Selama kunjungan saya banyak mengalami hal-hal di luar dugaan. Bikin shock,” ungkap perempuan kelahiran Kediri, 13 Oktober 1989 ini.

Ceritanya, Artie saat itu melakukan kunjungan ke rumah ODGJ di Desa Semen. Di satu rumah, ada dua pasien kakak-beradik yang hidup bersama ibunya. Tanpa sebab yang pasti, keduanya berkelahi sampai berdarah-darah. “Saya sampai melongo waktu melihat mereka berkelahi. Sempat takut terjadi apa-apa,” ujarnya.

Ada cerita lain. Di suatu maghrib, tiba-tiba saja pintu pagar rumahnya digedor-gedor orang dari luar. Kebetulan, sang suami yang seorang polisi itu masih berdinas di Polresta Kediri. Karena sendirian di rumah bersama dua buah hatinya yang masih balita, Artie pun khawatir. Jangan-jangan ada orang mau berbuat jahat.

Ternyata, orang yang menggedor pintu pagar tersebut adalah pasien ODGJ yang selalu dikunjunginya. Artie pun memberanikan diri keluar rumah. Sambil membujuk agar sang ODGJ mau pulang. Si pasien tersebut akhirnya mau meninggalkan rumah Artie. “Yang saya takutkan, dia bawa senjata atau mau melakukan kekerasan,” kata Artie.

Dengan pengalaman tersebut, Artie sempat berkeinginan mengajukan pindah ke program lain. Meskipun niat tersebut akhirnya diurungkan. “Saya sudah ingin dipindah saja,” katanya sambil tertawa.

Seiring berjalannya waktu, Artie semakin dekat dengan ODGJ di Kecamatan Pagu. Itu bermula dari posyandu jiwa yang dibentuk pada awal tahun ini. Saat ini, total ada 13 pasien yang didampingi di posyandu. “Kami buka sebulan sekali. Biasanya di akhir bulan, minggu keempat,” ujar perawat alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) Karya Husada Pare ini.

Sebelum posyandu terbentuk, tidak mudah untuk mengajak mereka datang. Yang pertama, tantangan datang dari perangkat desa. Artie dan para kader harus bisa meyakinkan perangkat soal pentingnya pendampingan pasien jiwa. “Karena perangkat nanti yang mengantarkan ODGJ ke posyandu. Dan tidak semua bersedia,” ucapnya.

Di Kecamatan Pagu, dari 13 desa, hanya tiga desa yang mengikuti program posyandu jiwa. Yakni Desa Semen, Jagung, dan Wates. Untuk tempatnya dipilih di Desa Semen. Pertimbangannya adalah jumlah ODGJ di sana paling banyak. “Total ada 25 orang. Sementara di desa lain, rata-rata 5-10 orang,” kata perempuan asal Desa Mukuh, Kecamatan Kayenkidul ini.

Yang kedua, kata Artie, pihaknya harus bisa meyakinkan keluarga pasien. Selama ini, mereka enggan memeriksakan anggota keluarganya yang mengalami gangguan mental. “Pikiran pertama yang disampaikan adalah nanti bagaimana kalau mereka (ODGJ) mengamuk. Keluarga yang malu,” kata Artie menirukan jawaban salah satu keluarga pasien ODGJ ketika diajak ke posyandu jiwa.

Terakhir, menurut Artie, cara mengajaknya jangan sampai menyakiti pihak keluarga. Karena itulah, dia selalu menghindari kata kalimat “gangguan jiwa” ketika mengajak mereka. “Nanti khawatirnya tersinggung. Saya selalu menggunakan bahasa jawa halus. Jadi bilangnya, supados putrane tambah sae (agar anaknya semakin membaik, Red) di posyandu,” ucapnya.

Selama datang ke posyandu, Artie mengatakan, ODGJ mendapatkan banyak latihan dan peningkatan produktivitas. Misalnya mereka belajar menyisir rambut, menyapu, dan berdandan. Karena biasanya selama ini, ODGJ jarang merawat tubuhnya.

Bahkan, saat di posyandu, agar terlihat rapi, rambut mereka dikeramas. Kebetulan, salah satu kader ada yang memiliki salon di rumah. Semua alat-alatnya dibawa ke posyandu. “Jadi keramasnya di tempat posyandu,” ungkapnya.

Selama mengikuti posyandu, beberapa ODGJ mengalami peningkatan kemajuan yang signifikan. Sebelumnya, ada ODGJ yang hanya bisa diam dan tidak pernah berbicara sama sekali. “Setelah ikut, sekarang mulai berani bicara,” kata Artie.

Saat ini, hubungan Artie dengan ODGJ di Kecamatan Pagu begitu dekat. Bahkan, sampai-sampai mereka hanya mau disuntik kalau ada Artie dan kader-kadernya.

 

Dulu Takut, si Sulung Kini Mengerti

Kedekatan Artie dengan ODGJ akhirnya menurun ke anak pertamanya, Leon Hamizan Bagaskara. Sang anak yang dulunya takut, sekarang sudah sedikit mengerti kehidupan mereka. Pasalnya, selain mengajari Leon, ibu dua anak itu juga beberapa kali mengajaknya melakukan kunjungan.

Artie menceritakan awalnya anaknya sangat takut dengan ODGJ. Maklum, saat itu, usianya baru menginjak 4 tahun. Apalagi, hal itu menjadi pengalamaan Leon bertatapan dengan ODGJ. “Ya pasti awalnya takut,” kata Artie kepada koran ini.

Pengalaman pertama itu didapat setelah Artie mengajak putranya kunjungan rumah ke ODGJ. Saat melihat pertama kali, Leon masih bertanya-tanya. “Itu siapa Ma,” kata Artie menirukan pertanyaan anaknya.

Artie pun memberikan pemahaman. Bahwa mereka juga sama dengan orang-orang umumnya. Bedanya, ODGJ belum mandi saja. Setelah itu, Leon yang sekarang berusia lima tahun sudah terbiasa dengan aktivitas sang ibu dengan pasien ODGJ-nya. “Jadi kalau ketemu (ODGJ) selalu bilangnya, itu pasien Mama,” ungkap Artie.

Artie memang mengajarkan sang anak agar tidak takut dengan ODGJ. Meskipun Leon pernah melihat sendiri ketika ODGJ sedang marah-marah. “Kalau seperti itu, saya selalu katakan, Leon jangan ikut marah-marah,” ungkapnya.

Selama ini, Leon  belum pernah ikut sang ibu di posyandu. Kebetulan, saat posyandu berlangsung, buah hatinya itu sedang bersekolah di taman kanak-kanak (TK). Karena biasanya posyandu jiwa dilaksanakan setiap Rabu.

Sementara Meiliza Dynar Prameshwari, anak keduanya  masih berusia 1,5 tahun. Karena itulah, Artie belum perlu memberitahu cara mencintai ODGJ. “Nanti kalau sudah berusia 4 tahun, saya akan mengajarinya,” ujarnya.

Pengertian terhadap pasien jiwa itu sebenarnya diharapkan tidak hanya dipahami oleh anak-anaknya. Artie mengatakan, masyarakat juga harus melepaskan stigma tentang ODGJ. Sebab, dengan menciptakan lingkungan sosial yang kondusif, hal itu mendukung kesembuhan pasien jiwa.

Karena itu, harapannya, pasien jiwa dapat beraktivas mandiri. Meskipun yang dilakukan adalah hal yang remeh. Seperti mandi, merawat rambut dan memotong kuku.

Bagi Artie, hal yang paling membahagiakan adalah ketika pasien jiwa mengenali para perawatnya. Dan, mereka bersedia berbicara meskipun hanya beberapa kata. “Itu sangat menyenangkan,” kata Artie.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia