Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Jalan Rusak, Taman Pisang Hiasi Desa Margourip Ngancar

19 Oktober 2019, 14: 58: 05 WIB | editor : Adi Nugroho

jalan rusak margourip

BUKAN BOULEVARD: Pengendara melintas di jalanan Dusun Pohgunung, Desa Margourip, Kecamatan Ngancar. Kondisi jalan rusak parah dan berdebu akibat terlalu sering dilewati truk besar dengan muatan berat. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN,JP Radar Kediri- Aksi protes warga akibat jalan rusak di Dusun Pohgunung, Desa Margourip, Kecamatan Ngancar terus berlanjut. Setelah bulan lalu memblokade jalan dengan berbagai tulisan bernada sindiran, kini warga melakukan blokade dengan cara unik. Yakni dengan menanam puluhan pohon pisang ditengah jalan yang kondisinya semakin parah tersebut.

Kondisi jalan rusak dan berdebu itu memang membuat warga geram. Apalagi setiap hari banyak truk pengangkut pasir yang berlalu-lalang di jalan alternatif menuju Blitar tersebut. “Bulan lalu pasang tulisan di tengah jalan,” kata Supriyono, warga setempat.

Tulisan itu dimaksudkan warga sebagai imbauan. Agar pengendara, terutama sopir truk pasir yang melintas bisa lebih berhati-hati saat melalui jalan tersebut. Seperti tulisan ‘memasuki kawasan bleduk’, kemudian ‘Aloon Bleduk Boss’ dan beberapa tulisan lain yang terpasang di beberapa titik jalan yang memiliki panjang satu kilometer tersebut.

Namun, tulisan itu tak terlalu efektif. Masih banyak kendaraan, terutama truk pasir, yang ugal-ugalan. Akhirnya, warga pun melakukan cara lain. Yaitu dengan melakukan blokade. Menanam puluhan pohon pisang di sepanjang tengah jalan tersebut. Akhirnya, pemandangan di jalan itu menjadi unik. Seperti boulevard dengan taman pisang di tengah jalan.

 “Agar truk pasir bisa lebih pelan. Karena kalau ngebut warga yang tidak kuat dengan debunya,” keluh Priyono sembari menyebut alasan tindakan warga itu.

“Sebelum ada pohon pisang ini, kalau malam tidak bisa tidur,” sambungnya.

Sementara itu, Winarsih, warga desa lain yang melintas, selama ini sebelum ditanami pohon pisang, sopir truk pasir selalu memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi.Tak jarang truk-truk itu saling menyalip.

“Sangat membahayakan warga, jadi takut kalau lewat sini,” akunya.

Apalagi, kondisi debu yang beterbangan membuat jarak pandang pengendara terbatas. Debu tebal itu sangat mengganggu konsentrasi warga saat berkendara. Terutama bagi mereka yang tidak mengenakan penutup kepala atau masker saat melalui jalan tersebut.

Namun,  Winarsih mengatakan saat ini truk pengangkut pasir itu tak bisa sebebas dahulu. Itu karena terhalang pohon pisang yang ditanam di tengah jalan.

Dari pemantauan langsung koran ini, kondisi jalan yang meliputi tiga RT di dusun tersebut memang sangat parah. Pemandangannya bak kota mati. Meskipun ada seratusan rumah di lokasi itu, tapi mereka memilih tak pernah membuka pintu utamanya. Baik siang hari maupun malam hari. Mereka menghindari terpapar langsung debu jalanan yang kian menebal. Karena efeknya adalah batuk dan sesak napas. Kondisi itu semakin parah karena jalan alternatif yang menghubungkan Kecamatan Ngancar dengan wilayah Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar itu banyak dilalui truk angkutan pasir yang overload.

Pihak pemkab telah berencana memperbaiki jalan yang rusak itu. Menurut Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Kediri Irwan Candra Wahyu Purnama mengatakan pemkab berencana melakukan rehabilitasi. “Rencana tahun depan kami masukkan rehab,” katanya saat dihubungi Jawa Pos Radar Kediri kemarin.

Irwan menerangkan, sebenarnya jalan itu sudah dilakukan pemeliharaan rutin. Namun, karena volume truk pasir yang melebihi batas, membuat jalan alternatif yang merupakan wewenang pemerintah desa (pemdes) itu rusak parah.

Karena statusnya jalan desa, Irwan menyebut jika tidak diusulkan oleh pihak desa atau kecamatan, maka realisasi dari pemkab juga susah. Meskipun demikian, ia menegaskan telah memiliki rencana perbaikan pada 2020.

“Kami berharap untuk perawatan selanjutnya di laksanakan pihak desa,” jelasnya.

Ditanya apakah rehabilitasi nanti dengan rigid pavement? Irwan tak membenarkan, karena status jalan desa. Dia menyebut bahwa perbaikan menggunakan sistem pengerasan cement treated base (CTB). “Dengan finishing aspal seperti ruas Bedali-Wates,” pungkasnya.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia