Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Kisah Mistun, Kader JKN Penagih Tunggakan Premi BPJS Kesehatan

Enggan Bayar Berdalih Sudah Selesai Berobat

19 Oktober 2019, 14: 47: 28 WIB | editor : Adi Nugroho

bpjs kesehatan

BERTAMU: Mistun menemui salah satu peserta BPJS Kesehatan di wilayah tugasnya, di Kecamatan Kras, kemarin. (Dwiyan - radarkediri.id)

Share this          

Mendapat caci maki dan umpatan sudah  menjadi hal biasa. Dampratan hingga dilabrak di rumah juga pernah dirasakan. Bahkan, mendapat ancaman agar tak menagih lagi juga dialaminya.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Dua tangan Mistun terus bergerak menata berkas-berkas di meja rumahnya. Dirapikan, kemudian dia masukkan lembaran-lembaran itu ke map plastik warna merah. Selanjutnya, wanita berusia 49 tahun memasukkan map itu ke tas ransel  warna coklatnya.

Mistun adalah warga Desa Bleber, Kecamatan Kras. Dia adalah satu di antara beberapa volunteer kader Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Salah satu tugasnya adalah menagih para penunggak iuran BPJS Kesehatan. Seperti saat itu, Mistun tengah mempersiapkan segala bukti tagihan untuk peserta yang masih enggan membayar. Tentu saja yang berada di area tugasnya, di Kecamatan Kras.

Siang itu, Mistun harus mengunjungi 15 alamat seperti yang tertera di kartu keluarga peserta yang menunggak. Itu hanya sebagian kecil saja dari ratusan penunggak premi BPJS yang harus dia kunjungi. Yang kalau dijumlah mencapai 500 kepala keluarga!

Dengan motor matic warna hitamnya dia telusuri jalanan. Masuk dari kampung ke kampung. Dari desa ke desa. Kemudian mengetuk pintu rumah. Menemui pemilik rumah dan menyampaikan tagihan yang harus mereka bayar. Dan, tak semuanya bisa berlangsung dengan menyenangkan.

“Awal sebagai volunteer kader JKN pada tahun 2007. Saat itu banyak yang masih belum percaya,” terangnya sembari duduk di ruang tamu rumahnya.

Sebagai volunteer penagih, tugas Mistun boleh disebut berisiko. Sebab, tak sedikit yang justru tak respek pada tugas yang harus diselesaikan. Terutama para penunggak yang jadi objek tagihan.

Banyak suka dan duka yang dirasakan Mistun selama bertugas menjadi penagih itu. Perempuan kelahiran 2 April 1970 itu menceritakan bagaimana dia menjadi terbiasa mendapatkan caci maki. Seperti dia sebagai orang yang bersalah. “Yang membuat saya sedih, saya dimarahi hingga dicaci maki di depan rumah,” kenangnya.

Cacian yang diterima Mistun banyak juga yang berupa umpatan dan kata-kata kotor. “Sering digitukan (mendapat umpatan kata kotor,Red).  Kebanyakan mereka tidak mau membayar dengan dalih sudah selesai berobat saat sakit,” ujarnya kepada koran ini.

Tak sekadar dicaci maki saat datang saja yang diterima Mistun. Dia juga beberapa kali dilabrak di rumahnya sendiri. Mistun pernah diancam agar tak melakukan penagihan lagi.

“Jadi ketika saya lakukan penagihan di rumah mereka, kebanyakan dari mereka menghindar dan bersembunyi di rumah,” ujarnya menceritakan sikap-sikap para penunggak itu.

Untungnya, motivasinya sangat kuat. Beragam cacian itu tak membuat keberanian Mistun menyurut. Sebaliknya justru menjadi tantangan bagi dia. Semakin membuatnya termotivasi menyelesaikan tugas menagih mereka yang menunggak.

Mistun menilai, banyaknya peserta yang masih menunggak iuran BPJS Kesehatan karena memandang perlu saat butuh saja. Setelah sakitnya sembuh mereka merasa tak lagi membutuhkannya. Karena itu mereka juga enggan melakukan pembayaran premi lagi.

Berdasarkan pengalaman itulah maka Mistun menerapkan strategi persuasif. Yaitu dengan cara melakukan sosialisasi terlebih dahulu.  “Terbukti, banyak peserta yang awalnya tidak mau membayar kini justru mencari saya untuk membayar,” jelasnya.

Masih kata Mistun, meski berstatus volunteer bukan berarti ia tidak mempunyai target penagihan. Mistun juga memiliki beban penagihan yang harus segera ia selesaikan dalam kurun waktu satu tahun. Ia mendapatkan wilayah penagihan di 16 Desa se-Kecamatan Kras. “Dari data saya, persentase yang mau membayar sekitar 40 persen saja. Selebihnya, sulit untuk membayar,” paparnya.

Salah satu kesulitan untuk membayar, masih kata Mistun, kebanyakan dari mereka mengalami misscommunication. Ia mencontohkan dari beberapa kasus yang sering ia alami adalah ketidaktahuan terkait pembayaran iuran premi.

“Awalnya didaftarkan oleh anaknya. Namun, ketika sudah berumah tangga atau bekerja ke luar kota secara otomatis terbebankan pada dirinya sebagai kepala kartu keluarga (KK),” tandasnya.

Meskipun hingga saat ini dia masih sering mendapat kecaman hingga teror dari penunggak premi, Mistun mulai menganggapnya sebagai hal biasa. “Saya justru menanggapinya dengan tenang. Saya tahu tugas ini sangat berisiko,” paparnya.

Ia berharap, untuk peserta BPJS Kesehatan agar tepat dalam melakukan pembayaran. Sebab, sebagai volunteer, Mistun tak hanya bertugas menagih yang menunggak saja. Tapi sekaligus juga sebagai perantara untuk mempermudah pembayaran. “Kami berharap masyarakat kooperatif terhadap para volunteer kader JKN,” harapnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia