Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Nekat Gendong Anak Orang

Dikira Penculik dan Diamankan Warga

19 Oktober 2019, 12: 24: 16 WIB | editor : Adi Nugroho

Mer

MERACAU: Siti (kanan) merajuk untuk tetap berada di Polsek Prambon dan menolak dipulangkan ke rumahnya, kemarin. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

PRAMBON, JP Radar Nganjuk-Warga Desa Gondanglegi, Prambon kemarin gempar. Ini setelah berita penculikan seorang balita lelaki yang dilakukan oleh Siti menyebar. Setelah didalami polisi, ternyata perempuan berambut ikal itu mengalami depresi.

Kejadian bermula saat Siti berjalan kaki di sekitar balai desa setempat. Mendapati ada seorang bocah bermain di depan rumah, ia langsung menggendongnya sembari berjalan. Baru beberapa langkah membawa sang bocah, orang tua anak itu pun mengejar Siti.

Anak laki-laki yang ada di gendongan Siti itu langsung diambil paksa. Selanjutnya, Siti yang sempat dituduh penculik itu diamankan di pos keamanan lingkungan setempat.

Perangkat desa lantas menyerahkan Siti ke Mapolsek Prambon untuk dimintai keterangan. Rupanya, selama di mapolsek, Siti tidak mau berbicara sama sekali. “Sudah dirayu agar berbicara, tetap tidak mau berbicara,” ujar Kapolsek Prambon AKP Yantono.

Setelah dibujuk oleh beberapa anggotanya, Siti mau menuliskan namanya di kertas. Meski demikian, saat ditanya data pribadinya lebih lanjut, dia kembali diam.

Dia hanya menuliskan nomor ponsel dan seseorang bernama Asrori. Menurut Siti, Asrori adalah temannya yang tinggal di Desa Gondanglegi. Keberadaannya di sana, dalih Siti, juga untuk menemui Asrori dan istrinya.

“Asrori dan istrinya kenal dengan Siti. Kami menghubunginya untuk datang ke Polsek,” imbuh Yantono.

Setelah kedatangan Asrori ke Polsek Prambon, Siti baru berbicara banyak. Namun, bukannya memberikan keterangan sesuai pertanyaan petugas. Siti meracau tidak jelas. Jawaban yang diberikan kebanyakan melantur dan tidak sesuai.

Bahkan, saat ditanya tempat tinggalnya, dia menyebut daerah yang berubah-ubah. Salah satu alamat yang diakuinya adalah ia berasal dari Desa Manyaran, Banyakan, Kediri. Alhasil, dari pemeriksaan yang dilakukan tersebut petugas menyimpulkan bahwa Siti mengalami depresi. “Dia (Siti, Red) kami kembalikan ke keluarganya,” tandas Yantono.

Anehnya, saat hendak dipulangkan Siti justru merajuk. Ia memohon kepada Yantono untuk tetap tinggal di Polsek Prambon. Bahkan ia bersedia ditahan. “Aku iki musafir. Musafir kui mlaku. Ora numpak mobil. (Saya ini musafir. Musafir itu berjalan kaki. Tidak naik mobil,” racau perempuan yang diketahui pernah belajar di salah satu pesantren ternama di Kediri itu.

Polisi tetap membujuknya untuk pulang. Namun Siti tetap menolak dan memohon sembari berlutut. Yantono terus berusaha membujuknya. Setelah berlangsung selama puluhan menit, akhirnya Siti mau diantar pulang.

“Sepertinya ia depresi karena masalah keluarga dan lingkungannya. Padahal ia juga punya anak dan suami,” sambung Yantono kembali.

Yantono pun berharap keluarga dan lingkungannya bisa menerima Siti dengan baik. Di lain sisi, Yantono juga mengingatkan masyarakat agar mengawasi anak-anaknya. Jangan sampai lalai dan berakibat hal yang tidak diinginkan.

Terpisah, Asrori mengaku mengenal Siti pada saat acara tartil Alquran. Lebih lanjut, hubungan Siti dengan suaminya pun sepengetahuan Asrori masih terjalin. “Setahu saya masih sebagai suami-istri. Anaknya satu,” pungkasnya.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia