Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Ada Pedagang yang Rugi Ratusan Juta

Polisi Belum Tangani Penipuan Bawang Merah

19 Oktober 2019, 12: 16: 56 WIB | editor : Adi Nugroho

Brambang

TRANSAKSI: Salah seorang pekerja memindahkan bawang merah dari mobil pikap ke pasar Sukomoro untuk dijual (17/10). (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

SUKOMORO, JP Radar Nganjuk- Kerugian pedagang bawang merah di Pasar Sukomoro yang merasa menjadi korban penipuan oleh Lsd, bervariasi. Satu pedagang bisa merugi puluhan juta, hingga ratusan juta rupiah.

Salah satu pedagang bawang merah yang turut merugi adalah Siti Zainab, 40. Perempuan berambut pendek itu mengaku nilai transaksinya sebesar Rp 10 juta. “Saya terhitung yang paling sedikit ruginya. Tapi ya tetap terasa buat saya,” keluhnya kepada Jawa Pos Radar Nganjuk, kemarin siang.

Menurut penuturan Siti, masih banyak lagi pedagang lain yang merugi lebih besar. Bahkan, setidaknya ada tujuh pedagang yang merugi di atas Rp 100 juta. “Antara 7 – 9 pedagang lah. Pastinya saya kurang tahu. Tapi tidak kurang dari tujuh orang,” lanjutnya.

Berapa kerugian terbesar yang dialami oleh pedagang di sana? Siti menuturkan, ada salah satu pedagang yang merugi hingga Rp 460 juta. Terkait besaran nilai kerugian tersebut, menurut Siti transaksi yang dilakukan Lsd tidak hanya di pasar.

Pria yang disebut-sebut kelahiran dari Tuban itu juga mengambil bawang merah langsung ke rumah pedagang. “Kalau di rata-rata harga per kilo Rp 14 ribu saja, artinya ada 32 ton bawang merah yang diambil,” terangnya tentang nilai bawang merah yang mencapai ratusan juta rupiah itu.

Terpisah, Tantowi Jauhari, 60, yang juga pedagang di sana mengungkapkan, setiap hari Lsd datang ke Pasar Sukomoro. Hal tersebut dilakukannya sejak Juni lalu.

Karena rutinitasnya itu pula, para pedagang di pasar Sukomoro mulai percaya. Termasuk Tantowi yang sudah beberapa kali melepas bawang merahnya kepada Lsd.

Dia mengaku bersyukur karena saat transaksi terakhir kali tidak terlibat. Sehingga, dia tidak merugi seperti halnya puluhan pedagang lainnya di sana.

“Saya sudah punya firasat buruk,” seloroh pria asal Desa Gempol, Rejoso itu.

          Tantowi mencium gelagat kurang baik sejak beberapa minggu terakhir. Yaitu saat pembayaran bawang merah tidak lagi tepat waktu. Lsd meminta tempo pembayaran selama sehari.

          Setelah semakin dekat dengan pedagang, Lsd meminta tempo pembayaran yang lebih lama. Terakhir kali bertransaksi, dia meminta waktu seminggu. Hal itulah yang membuat Tantowi memilih tidak lagi menjual dagangannya kepada Lsd.

Benar saja, jika sebelumnya Lsd selalu datang ke pasar Sukomoro, saat ini dia disebut-sebut menghilang. Padahal, dia memiliki tanggungan pembayaran bawang merah hingga miliaran rupiah. “Lha sekarang sudah tidak pernah muncul lagi. Dicari juga tidak ada,” tandasnya.

Terpisah, Kapolsek Sukomoro AKP Gendut Wisoko yang dikonfirmasi tentang dugaan penipuan yang dialami puluhan pedagang bawang merah di Pasar Sukomoro menyebutkan, hingga kemarin belum ada pedagang yang melapor. “Belum ada,” tulisnya lewat WhatsApp saat dikonfirmasi Jawa Pos Radar Nganjuk.

Sebelumnya, sejumlah pedagang sudah mengadukan masalah tersebut ke Polsek Sukomoro. Hanya saja, mereka belum membuat laporan secara resmi.

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia