Selasa, 19 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Tantangan Cuaca dan Hama, Petani Brambang Pilih Alih Tanam

18 Oktober 2019, 18: 55: 40 WIB | editor : Adi Nugroho

petani brambang

PERAWATAN: Buruh tani menyiram bawang merah di salah satu lahan bawang milik petani di Desa Sekoto, Kecamatan Badas. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Sebagian besar petani bawang merah di Desa Sekoto, Kecamatan Badas banyak yang mengubah budidaya mereka. Hal ini dilakukan akibat sulitnya budidaya bawang merah alias brambang di musim seperti ini. Selain kondisi perawatan terkait kebutuhan air yang sulit, serangan hama ulat juga masih menjadi momok petani di sana. “Rata-rata petani menggantinya dengan tanaman jagung,” kata Sutikno, buruh tani di Desa Sekoto.

Ia mengaku bahwa usai panen raya bawang merah yang telah berlangsung bulan lalu, beberapa petani memang mendapat untung yang tak seberapa. Hal itu lantaran harga bawang merah bulan lalu anjlok. Bahkan harga jual dari petani tak sampai Rp 10 ribu. “Beberapa petani modalnya sedikit, perawatan bawang merah cukup mahal. Jadi ya sementara ini tanam jagung yang lebih mudah,” urainya.

Memang, saat ini kondisi kemarau yang belum berakhir menjadi salah satu penghambat budidaya salah satu bahan pangan pokok rumah tangga tersebut. Apalagi, serangan hama ulat juga semakin mengganas. Tentu hal itu membuat biaya untuk perawatan bawang merah bisa dikatakan tak sedikit.

Meski dalam kondisi seperti saat ini. Beberapa petani di Desa Sekoto masih mempertahankan budidaya bawang merah. Salah satunya adalah Didin Susanto, pria ini mengaku bahwa tetap budidaya bawang merah dengan harapan saat panen bulan depan harganya sudah kembali stabil. Yakni di atas Rp 10 ribu dari petani. Setidaknya dengan harga itu petani tidak merugi. “Berharap nanti bisa di atas Rp 10 ribu,” ungkapnya. Memang, harapan itu muncul dari keresahan petani ketika harga bawang merah anjlok dua bulan lalu.

Didin menyebut, memang di akhir musim kemarau ini pertumbuhan bawang merah tidak bisa maksimal. Itu menjadi salah satu alasan sebagian besar petani di sana tidak melanjutkan budidaya komoditas ini. “Ada juga yang di-berokan. Tapi rata-rata diganti jagung,” bebernya.

Kesulitan dalam budidaya yang dimaksud itu adalah dalam hal perawatan. Didin harus menyiram bawang merah dua hari sekali. Termasuk melakukan penyemprotan untuk mengendalikan hama yang menyerang. “Bulan ini kondisinya terlalu panas, butuh banyak air. Ulat juga banyak, jadi ya biayanya lebih untuk perawatan,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia