Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sidang Mutilasi Budi: PH Tak Siap, Pleidoi Aris dan Aziz Tertunda

18 Oktober 2019, 18: 17: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan budi

TERDAKWA: Aris Sugianto (kiri) dan Aziz Prakoso mengikuti sidang kasus pembunuhan di ruang Cakra, PN Kabupaten Kediri, kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Setelah menyelesaikan sidang perdata, kemarin, hakim langsung melanjutkan sidang pidana kasus pembunuhan dan mutilasi Budi Hartanto, 39, warga Tamanan, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri. Namun perkara dengan terdakwa Aris Sugianto, 23, warga Mangunan, Udanawu, Blitar, dan Aziz Prakoso, 34, warga Ringinrejo, ini tidak berlangsung lama.

Pasalnya, penasihat hukum (PH) dua terdakwa, belum siap menyampaikan nota pembelaan (pleidoi). “Maaf Yang Mulia, kami minta waktu selama satu minggu,” terang Wawan Satriya Kusuma, salah satu dari lima PH Aziz dan Aris, dalam persidangan di ruang Cakra, Pengadilan Negeri (PN) Kabupaten Kediri.

Alasan PH memohon penundaan karena Khoirul Lutfi, anggota tim pengacara, yang membawa berkas pleidoi berhalangan datang. Itu karena ada salah satu anggota keluarganya yang meninggal.

Menanggapi hal tersebut, Hakim Ketua M. Fahmi Hary Nugroho mengatakan, masa tahanan kejaksaan untuk Aris dan Aziz akan berakhir pada 28 Oktober. Karena itu, penundaan itu bakal berimbas pada dua terdakwa. Makanya, hakim meminta kejaksaan melakukan perpanjangan masa penahanan.

“Diharapkan pada sidang selanjutnya, pledoinya sudah siap,” ujar Fahmi.

Mempertimbangkan batas tempo masa tahanan kilennya, Wawan menyarankan, agar sidang selanjutnya dengan agenda pembacaan pledoi dimajukan. Sidang yang seharusnya kembali dibuka pada Kamis (25/10) akan dimajukan pada Senin (21/10).

Setelah melakukan diskusi dengan Hakim Anggota Guntur Pambudi Wijaya dan Mellina Nawang Wulan, permintaan PH untuk memajukan jadwal sidang tersebut akhirnya disetujui.

“Dari pihak jaksa apakah ada yang perlu disampaikan?” kata Hakim Ketua Fahmi sebelum menutup acara persidangan.

Mendapatkan pertanyaan tersebut, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tomy Marwanto mengatakan, tidak ada masalah. Ia sepakat dengan jadwal persidangan itu. Begitu pula dengan Aris dan Aziz. Setelah mengetukkan palu tanda sidang berakhir, Aris dan Aziz langsung dibawa kembali ke ruang tahanan sementara PN.

Untuk diketahui, pada sidang sebelumnya, Kamis (10/10), JPU menuntut  Aris dan Aziz hukuman 15 tahun penjara. Mereka dianggap telah melanggar pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan.

Kasus ini terjadi April 2019. Kala itu warga menemukan koper berisi jasad Budi tanpa kepala di bawah Jembatan Karanggondang, Udanawu, Blitar. Hasil penyelidikan polisi akhirnya mengungkap pelaku pembunuhan guru tari ini adalah Aris dan Aziz.

Kasus ini dilatarbelakangi hubungan asmara sesama jenis. Sebelum dibunuh, Budi dan Aris sempat berhubungan badan. Setelah itu, Budi minta uang pada Aris. Namun, Aris menolaknya. Karena itu, Budi marah. Guru honorer di SDN Banjarmllati ini keluar kamar sambil membanting pintu.

Kala itu, Aziz yang berada di warung nasi goreng sekaligus rumah kontrakan Aris berusaha menasihati. Namun Budi malah marah dan menampar Aziz. Tidak terima, Aziz menonjok Budi hingga mundur. Saat itulah, Budi langsung mengambil senjata tajam berupa bendo di kursi.

Terjadilah pertikaian. Bukannya menghentikan Aziz, Aris malah membantu memegangi tangan Budi. Dalam kejadian itu, Budi akhirnya terbunuh. Untuk menghilangkan jejak, mayat Budi dimutilasi di kontrakan Aris di Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo. Tubuhnya dimasukkan koper. Lalu jasad dan kepalanya dibuang terpisah.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia