Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Pilkades di Kediri: Siap ‘Modal’ sampai Rp 1 Miliar

18 Oktober 2019, 18: 07: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

Pilkades Serentak Kediri

Pilkades Serentak Kediri (radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Warna-warni jelang pemilihan kepala desa (pilkades) menjadi hal yang menarik dibicarakan di kalangan masyarakat. Salah satu yang secara masif masih menjadi pembahasan adalah biaya pencalonan untuk menjadi orang nomor satu di desa itu.

Di Kabupaten Kediri, biayanya mulai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Menjadi ‘raja’ atau pemimpin di tingkat desa memang impian sebagian besar orang. Tentu hal itu tak terlepas dari keinginan untuk membangun desa menjadi lebih baik.

Banyak visi dan misi serta program calon kepala desa (cakades) yang ditawarkan. Tak sekadar pemikiran program sebagai modal, namun uang dengan nominal besar pun tak lepas dari penawaran untuk menjadi orang nomor satu di desa yang akan dipimpin.

Yudha salah satunya. Mantan calon kepala desa yang tak terpilih tahun lalu itu mengaku, memiliki keinginan kuat untuk mengubah kondisi desanya. Tentu, menurutnya, itu bukan hal yang mudah. “Banyak pesaingnya, modal mereka juga besar-besar,” cetus pria itu.

Tentu hal ini membuatnya sempat pesimistis untuk bisa lanjut dalam kontestasi tersebut. Hanya saja, ada sejumlah alternatif yang Yudha lakukan untuk bisa menyaingi lawan-lawannya.

Ia mengatakan, selain trik yang selama ini dilakukan yakni dengan politik uang. Strategi mendekati warga door to door juga menjadi alternatif untuk meraup suara.

“Cara itu juga tidak murah, perlu modal untuk memberi bantuan pada warga yang membutuhkan,” ungkapnya.

Strategi tersebut, menurut Yudha, sebagai upaya memberikan iming-iming berupa barang kepada sejumlah warga. Namun caranya adalah dengan bersedekah. Yudha mengaku, total biaya saat pencalonannya itu menghabiskan dana lebih dari Rp 100 juta. “Dana pribadi, tapi ada yang dibantu teman juga,” jelasnya.

Nominal yang dikeluarkan Yudha itu masih dalam kisaran Rp 100 juta. Di tempat lain, ada sejumlah kepala desa yang saat ini jadi kepala desa mengeluarkan dana lebih dari Rp 500 juta hingga hampir menyentuh angka Rp 1 miliar.

“(Biaya macung kades itu) tergantung jumlah warga dan calon kepala desa,” ungkap salah satu tim sukses (timses) yang namanya tak mau dikorankan. Informasi itu menurutnya dari kades yang saat ini menjabat.

Memang, anggota timses ini menyebut, jumlah pemilih dan calon kepala desa menentukan besaran uang yang dikeluarkan untuk suksesi pilkades. Tentu jika semakin banyak calon, maka biaya akan semakin sedikit, karena pemilih dibagi rata.

Namun, jika cakades hanya dua kandidat, menurutnya, persaingan pun akan lebih ketat. “Ya karena satu desa hanya dibagi dua orang. Biasanya desa itu yang banyak botohnya,” bebernya.

Selama ini, dia menyebut, peran botoh atau yang bertaruh dalam pencalonan bakal kepala desa ini sangat membantu cakades. Terlebih cakades yang memiliki elektabilitas tinggi di desanya. Tentu cakades itu yang menjadi taruhan para botoh untuk bisa memenangkan ajang pertaruhan yang dilakukan.

Berkaca dari tahun lalu, cara pembagian uang dalam proses pilkades memang bervariasi. Ada yang dilakukan beberapa hari sebelum pemungutan suara. Ada juga yang selama ini diistilahkan dengan sebutan ‘serangan fajar’. Sebab uang dibagikan jelang fajar hingga pagi hari sebelum si pemilih berangkat menuju tempat pemungutan suara.

Yang jelas, cara itu tentu melanggar peraturan yang ada. Dan kegiatan itu masuk dalam ranah politik uang yang telah ditegaskan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 112/2014 tentang Pemilihan Kepala Desa. Pada pasal 30 ayat 1 terkait larangan dalam pilkades, salah satu poin yang ditegaskan melanggar adalah menjanjikan atau memberikan uang atau materi lainnya kepada peserta kampanye (masyarakat).

Strategi Rebut Kursi Kepala Desa

-         Siapkan biaya mulai lebih dari Rp 100 juta hingga hampir Rp 1 miliar

-         Raih simpati dengan perkenalan dan pendekatan warga

-         Paparkan visi, misi, dan program pembangunan desa

-         Memberikan bantuan atau sedekah berupa barang

-         Memanfaatkan botoh atau petaruh saat pilkades

-         Melakukan serangan fajar berupa pembagian uang jelang pemungutan suara

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia