Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Events

Tanya Hukum Nonton Drama Korea

18 Oktober 2019, 17: 58: 14 WIB | editor : Adi Nugroho

Drama Korea

Drama Korea (radarkediri.id)

Share this          

Belakangan ini banyak anak-anak muda yang senang menonton tayangan film Korea. Termasuk drama dan musik Korea. Bagaimana hukumnya dalam Islam?

(Tatik, 081335257xxx)  

Jawaban :

Musik dan drama atau film adalah dua hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan kontemporer. Dalam kajian fiqh atau hukum Islam, musik dan nyanyian masuk dalam kontoversi.

Sebagian kalangan umat Islam mengharamkan musik dan nyanyian karena ia identik dengan lahwal hadis (perkataan yang melalaikan) yang diharamkan berdasarkan firman Allah swt :

“Dan di antara manusia ada orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan manusia dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.” (QS. Lukman: 6).

Abdullah bin Mas’ud ketika ditanya tentang maksud dari perkataan yang tidak berguna dalam ayat ini, maka beliau menjawab bahwa itu adalah musik, seraya beliau bersumpah dan mengulangi perkataannya sebanyak tiga kali. Selain ayat dan hadis tersebut, banyak lagi hadis yang secara tekstual menunjukkan keharaman musik.

Misalnya hadis Nabi saw : ”Sungguh akan ada sebagian dari umatku yang menghalalkan zina, sutera, minuman keras, dan alat-alat musik” (HR. Bukhari).

Namun juga ada beberapa hadis yang menunjukkan kebolehan musik. Misalnya dalam sebuah hadis yang disampaikan oleh Bukhari dan Muslim, ketika kafilah dagang yang ditunggu-tunggu telah tiba dengan membawa barang dagangan, maka serta-merta mereka menyambutnya dengan nyanyian dan tabuh-tabuhan, sebagai ungkapan rasa senang atas kafilah dagang yang datang dengan selamat.

Dalam hadis lain dikatakan bahwa Abu Bakar ra. menemui Aisyah pada saat di Mina. Di samping Aisyah ada dua orang perempuan menyanyi dan memukul alat musik. Rasulullah saw. sedang menutup wajahnya dengan baju.

Abu Bakar lalu mencegah kedua perempuan tersebut. Rasulullah saw. membuka wajahnya, lalu berkata, “Biarkan mereka, Abu Bakar. Karena sekarang adalah hari raya, yaitu hari-hari ketika kita menginap di Mina.” (HR. Al-Bukhari).

Menyikapi hal di atas para ulama’ menegaskan bahwa musik dan drama tidak secara mutlak dibolehkan dan tidak secara mutlak diharamkan. Karena sejatinya musik dan drama adalah perkataan dan perbuatan manusia, oleh karena itu kebolehan atau ketidak bolehannya tergantung dari konten dan tatacara penyampaiannya.

Selama konten musik dan drama itu tidak ada ajaran kemaksiatan, mengajak kekufuran dan sejenisnya, serta dalam tatacara penyampaiannya tidak melanggar batas aurat dan tatakrama sosial dan tatakrama pergaulan laki-perempuan dalam Islam, maka  musik dan drama tersebut dibolehkan.

Bahkan jika drama atau musik itu berisi dakwah dan ajakan kebaikan maka itu merupakan sarana dakwah yang baik yang tentu menontonnya jika diniatkan amal kebaikan adalah berpahala.

Batasan atas musik dan drama tersebut berlaku secara universal, tidak pandang bulu. Sama saja antara film atau musik Arab dengan film atau musik Eropa, Korea, Amerika dan lainnya.

Oleh karena itu hukum melihat drama atau musik Korea adalah tergantung dari konten dan penyajiannya. Drama atau musik Korea bukanlah seragam, sebagaimana musik Arab atau Indonesia.

Walaupun begitu kita harus menghindarkan diri dari hal-hal berlebihan dalam mendengar atau melihat hiburan yang dibolehkan agar tidak melemahkan, melalaikan apalagi menjadi kecanduan. Wallahu a’lam. (Dr H Ahmad Syakur Lc M.EI, Dosen FEBI IAIN Kediri) 



(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia