Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Features

Puluhan Tahun, Ahmad Bertahan Membuat Tampah di Tugurejo, Ngasem

Dahulu Berjalan Kaki, Kini Naik Motor

18 Oktober 2019, 17: 53: 06 WIB | editor : Adi Nugroho

ahmad tampah

PRODUKTIF: Ahmad sedang mengerjakan produk tampah dari bambu di belakang rumahnya, Dusun Babakan, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem (22/9). (Iqbal Syahroni - radarkediri.id)

Share this          

Kebutuhan tampah di era globalisasi mulai memudar. Namun, masih ada sebagian yang menganggap produk ini alat yang vital dalam berkehidupan. Mulai dari sektor ekonomi, pertanian, hingga kesejahteraan penduduk.

IQBAL SYAHRONI, Kabupaten, JP Radar Kediri

Bunyi suara parang yang memotong batang pohon bambu terdengar dari halaman salah satu rumah di Dusun Babakan, Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem, Minggu (22/9) siang. Dari bangunan bercat biru itu, suara kian terdengar keras.

Ketika ditelusuri sumber suara berasal, terlihat seorang yang sudah sepuh memotongi batang bambu di halaman belakang rumahnya. Di sampingnya, ada tumpukan bekas irisan tipis-tipis bilah bambu itu. “Nggih Mas, pinarak (silakan Mas, masuk, Red),” terang lelaki yang diketahui bernama Ahmad itu.

Meski tubuhnya sudah renta, semangat juangnya masih tinggi. Terbukti pria berumur 75 tahun itu sering mengangkat batang bambu sendirian. Sembari berbincang dengan Jawa Pos Radar Kediri, pria yang di kartu tanda penduduk (KTP)-nya bernama lengkap Ahmad ini mulai mengiris bagian bambu itu berbentuk persegi panjang. “Santai saja Mas, ini sedang bikin pesanan,” ujarnya.

Ahmad lalu menceritakan awal mula terjun di bidang pembuatan tampah bambu. Dia meningat-ingat bahwa dahulu, orang tuanya juga bekerja sebagai pembuat tampah dari bambu. Ia mulai ikut usaha orang tuanya sejak sekitar tahun 1960-an.

Memang, di Desa Tugurejo, Kecamatan Ngasem pada sekitar 1960 banyak warganya yang terjun ke bisnis pembuatan tampah. Bahkan hampir satu desa, pekerjaannya membuat tampah. “Di dusun lain, juga ada,” ungkapnya.

Hampir seluruh tetangganya di Dusun Babakan, semuanya adalah perajin tampah. Namun seiring berjalannya waktu, lama-kelamaan bisnis pembuatan tampah mulai ditinggalkan. Karena banyak juga dari warga sekitar yang sudah memiliki pekerjaan lain.

Sedangkan mereka yang kebanyakan seumuran dengan Ahmad, masih ada yang bekerja sebagai pembuat tampah. “Ada juga beberapa, dijualnya sendiri-sendiri, tapi kayaknya sudah jarang setahu saya,” urainya.

Ditanya soal mengerjakan pekerjaan lain, Ahmad merasa kurang berminat. Karena selain mengurusi ternaknya, membuat tampah adalah salah satu mata pencaharian utamanya, dan mata pencaharian beberapa warga sekitar yang bertugas memasarkan tampah di pasar-pasar.

Kini, di rumahnya, ia hanya dibantu anak lelakinya. Ahmad yang berperan sebagai pencari pohon bambunya, sedangkan anaknya yang bertugas memotong. Kadang-kadang Ahmad juga membantu memotong bila ada pesanan yang banyak.

“Dulu istri saya yang membuat anyaman, dan membuat tampah, setelah meninggal, saya yang bikin sendirian,” imbuh lelaki yang mengenakan kaus berwarna merah itu.

Saat mencari pohon bambu pun, Ahmad pernah mengalami masa di mana harus berjalan kaki dengan mendorong alat angkut bambu dengan berjalan kaki, hingga saat ini, ia mendorong alat tersebut dengan sepeda motor.

Sesekali Ahmad mengingat pengalamannya saat dahulu berjalan kaki dengan membawa potongan pohon bambu itu membuatnya semakin bersemangat bekerja. “Sekarang sudah enak, ada sepeda motor, bisa lebih cepat mengangkut bambunya,” paparnya.

Setelah menyelesaikan sekitar 20 tampah pada hari itu, Ahmad pun beranjak dari tempat kerjanya. Ditinggalkannya palu kayu, dan beberapa anyaman yang belum selesai itu di tempat kerjanya yang beralaskan tanah.

Ia ingin beristirahat sebentar di depan rumahnya. Beberapa warga sekitar ketika lewat juga menyapa Ahmad. Tidak terkecuali para warga yang membawa tampah untuk dijual ke pasar-pasar tradisional terdekat.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia