Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Politik

Biaya Perawatan Cagar Budaya di Kediri Belum Terserap

18 Oktober 2019, 17: 48: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

gereja merah kediri

TERAWAT: Bangunan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) yang populer dengan sebutan Gereja Merah dalam proses pengecatan. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

   KOTA, JP Radar Kediri – Anggaran perawatan cagar budaya di Kota Kediri belum terserap. Pasalnya, pengelola tidak mengajukan proposal ke dinas kebudayaan, pariwisata, pemuda, dan olahraga (disbudparpora).

Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Kepurbakalaan Disbudparpora Kota Kediri Endah Setiyowati mengatakan, pengajuan anggaran pemeliharaan cagar budaya bisa berupa proposal. Setelah dipelajari, pemkot bisa mencairkan anggaran dalam bentuk hibah.

“Nanti bantuan anggaran yang kami berikan berupa hibah,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Di tahun ini, menurut Endah, anggaran hibah untuk pemeliharaan cagar budaya belum terserap. Itu karena sampai kemarin, tidak ada satu pun pengelola yang mengajukannya. Termasuk pengecatan Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB). “Belum ada proposal yang diajukan,” ungkapnya.

Untuk perawatan tempat ibadah yang populer dengan sebutan Gereja Merah itu, Endah menyarankan, agar pengelola atau yayasan mengajukannya ke pemprov. Pasalnya, bangunan di Jalan KDP Slamet, Kecamatan Mojoroto termasuk cagar budaya provinsi. “Jadi lebih mudah nanti. Karena (cagar budaya) tingkat provinsi,” paparnya.

Sejauh ini, lanjut Endah, pihak pengelola Gereja Merah hanya melakukan pemberitahuan ke disparporabud. Salah satunya adalah pembangunan gedung sekolah minggu yang berlokasi di sisi selatan gereja.

“Selama tidak merusak fasilitas di depannya, pembangunan itu tidak masalah,” jelasnya.

Selain Gereja Merah, Endah mengatakan, ada beberapa bangunan yang sudah ditetapkan menjadi cagar budaya. Di antaranya adalah rumah dinas kapolresta (dulu kapolwil), rumah kolonel Surahmad, dan gedung eks karesidenan Kediri (sekarang kantor UPT badan pendapatan daerah provinsi).

Lalu ada rumah Kapiten China, jalan Brawijaya, jembatan lama dan Gua Selomangleng. “Yang jembatan dan gua, masih proses di tingkat nasional,” urainya.

Sementara itu, Koster Gereja Merah Lorens Hendrik mengakui pihaknya memang belum mengajukan proposal ke pemkot maupun pemprov. Untuk sementara, biaya perawatan gereja dilakukan secara swadaya. “Mungkin setelah ini kami ajukan,” katanya.

Seperti diketahui, pihak pengelola gereja melakukan pengecatan di bagian depan dan dalam bangunan. Untuk bagian depan, cat berwarna merah. Sedangkan bagian dalam berwarna putih. Pekerjaan tersebut sudah berlangsung sekitar tiga minggu lalu. Sementara pengecatan ulang dilakukan kali pertama setelah lima tahun silam.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia