Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Pengacara Berdalih Sumiatun Tertekan

Klaim Sering Menjadi Korban KDRT Suaminya

18 Oktober 2019, 12: 22: 27 WIB | editor : Adi Nugroho

Bayi

TATAPAN KOSONG: Sumiatun (depan) terdakwa pembunuhan bayinya sendiri saat memasuki ruang sidang Cakra PN Nganjuk, kemarin (16/10) siang. (Andhika Attar - radarkediri.id)

Share this          

NGANJUK, JP Radar Nganjuk- Sumiatun, 27, terdakwa kasus pembunuhan bayinya sendiri, menjalani sidang perdana di PN Nganjuk, kemarin. Meski menerima seluruh isi dakwaan, Dewi Setyowati, pengacaranya berdalih ada beberapa latar belakang kasus tersebut.

Kepada koran ini Dewi mengungkapkan, pembunuhan itu tidak hanya karena alasan ekonomi semata. Melainkan, kliennya mengaku merasa tertekan dengan kehidupannya.

“Pertama, dia hidup di sini sebagai pendatang. Tidak ada keluarganya di sini,” ujarnya saat ditemui Jawa Pos Radar Nganjuk seusai persidangan di ruang Cakra, kemarin.

Lebih lanjut Dewi menjelaskan, Sumiatun tercatat lahir di Bangkalan, Madura. Di Nganjuk, ia tinggal bersama suaminya di Jl WR Monginsidi, Kelurahan Payaman. Notabene di Kota Angin hanya ada keluarga suaminya saja. “Dia (Sumiatun, Red) akhirnya bingung kalau cerita kepada siapa. Itu salah satu yang membuatnya tertekan,” klaim Dewi.

Bahkan, tekanan yang dirasakan kliennya diklaim perempuan berjilbab itu, salah satunya karena rumah tangganya sudah tidak harmonis. Tidak hanya cekcok atau adu mulut semata.

Dewi menyebut Sumiatun sering kali mendapatkan kekerasan yang dilakukan suaminya. “Dia (Sumiatun, Red) mengaku bahwa sering dipukul (suaminya),” terang Dewi.

Berbagai tekanan yang dihadapi Sumiatun itulah yang menyebabkannya tega melakukan tindakan keji tersebut. Yakni membunuh bayinya sendiri. “Berbagai tekanan itu membuatnya gelap mata. Akhirnya dilampiaskan kepada si bayi,” tandasnya.

Sementara itu, persidangan pembacaan dakwaan tidak berlangsung begitu lama. Dakwaan dibacakan jaksa penuntut umum (JPU) Kristhina Setyowatie dan Atik Juliati.

Seperti berita sebelumnya, JPU kembali menguraikan kronologi pembunuhan bayi yang dilakukan Sumiatun. Di sana disebutkan, Sumiatun melahirkan bayinya sendiri pada malam hari. Tak lama setelah bayi keluar, ia menyekap mulut si bayi yang menangis itu.

Dialantas  menyuruh anak lelakinya mengambil gunting untuk memotong plasenta. Kemudian, bayi dibunuh dengan cara dicekik. Perempuan bertubuh gemuk itu dua kali mencekik leher bayinya. Masing-masing dengan plastik dan celananya.

Mengetahui bayi masih hidup, ia mengambil asbak cor. Kepala dan dada bayi dipukul menggunakan asbak tersebut. Atas dakwaan itu, Sumiatun mengaku tidak keberatan. Sidang pun akan dilanjutkan Rabu depan (23/10).

(rk/rq/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia