Kamis, 23 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Gereja Merah Kediri Kian Cerah

Pengecatan Ulang setelah Lima Tahun Silam

17 Oktober 2019, 12: 23: 42 WIB | editor : Adi Nugroho

gereja merah

TINGGI: Seorang pekerja, dengan menaiki scaffolding, melakukan pengecatan di salah satu sisi dinding Gereja Merah kemarin. (Anwar Basalamah - radarkediri.id)

Share this          

KOTA, JP Radar Kediri – Wajah Gereja Protestan di Indonesia Bagian Barat (GPIB) Kediri bakal semakin cerah. Sebulan lalu, pengelola tempat ibadah itu melakukan pengecatan ulang dinding gedung yang populer dengan sebutan Gereja Merah itu. Pengecatan ulang ini merupakan yang pertama kali setelah dilakukan terakhir lima tahun lalu.

Sebagai gedung yang masuk bangunan cagar budaya, Gereja Merah memang tak bisa melakukan renovasi atau perawatan secara sembarangan. Karena prosesnya harus melalui izin yang berwenang terlebih dahulu. Karena itulah, perawatan terakhir terjadi pada 2014 silam.

Koster Gereja Merah Lorens Hendrik mengatakan, perawatan gereja dilakukan sejak tiga minggu lalu. Selain pengecatan di bagian luar dan dalam gereja, pengelola juga membangun sekolah minggu di samping gereja. “Bangunan (sekolah) berada di sisi selatan (gereja),” kata Hendrik kepada Jawa Pos Radar Kediri.

Hendrik mengatakan perawatan gereja yang berlokasi di Jalan KDP Slamet itu berbeda dengan bangunan lain. Terutama setelah sejak 2008 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Trowulan, Mojokerto. Setiap upaya perawatan dan renovasi harus mengajukan izin terlebih dulu kepada BPCB.

Untuk aktivitas perawatan bangunan kali ini Hendrik mengatakan telah melayangkan izin ke BPCB dan Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga (Disbudparpora) Kota Kediri. Setelah itu, pihaknya baru bisa melakukan perawatan. “Kami hanya lakukan pengecatan saja. Tidak sampai renovasi,” terang pria asal Mojoroto ini.

Karena berkaitan dengan bangunan cagar budaya, Hendrik mengaku pihak gereja harus jeli memilih warna cat. Terutama dinding bagian luar. Pasalnya, warna cat harus sesuai dengan warna asli dari bangunan peninggalan Belanda satu abad lalu itu. “Kami cari cat yang berwarna sepadan. Merah batu bata,” urainya.

Untuk bagian dalam, lanjut Hendrik, cat berwarna putih. Pengelola tidak mengubahnya sama sekali. “Tetap kami cat putih seperti sebelumnya,” imbuh Hendrik.

Menurutnya, Gereja Merah sudah lama tidak dicat ulang dinding bagian depannya. Terhitung pengecatan terakhir dilakukan lima tahun silam. Tepatnya di bulan Juni 2014. “Waktu itu, setelah Gunung Kelud meletus (Februari, 2014),” ungkapnya.

Sementara itu, Faris Dwi Harianto, bagian dokumentasi dan pemetaan BPCB Trowulan mengatakan, perawatan terhadap bangunan cagar budaya boleh dilakukan oleh pengelola. Untuk pengecatan, misalnya, warnanya harus sepadan. “Kalaupun beda warnanya, tidak terlalu jauh. (Tidak) terlalu gelap atau terlalu terang,” kata Faris.

Untuk Gereja Merah, lanjut dia, sepanjang cat yang dipilih warna merah seperti aslinya, pihak BPCB memperbolehkannya. Apalagi pengecatan sudah melalui proses perizinan dari dinas terkait.  

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia