Kamis, 12 Dec 2019
radarkediri
icon featured
Sego Tumpang

-- Sujokno --

16 Oktober 2019, 18: 38: 44 WIB | editor : Adi Nugroho

-- Sujokno --

Share this          

Berita Terkait

“Sujokno pas aku ora nduwe duit,” ucap Dulgembul. Sehingga, mbok dirayu seperti apa pun, diiming-imingi seperti apa pun, wong gembul itu tetap saja ndak jadi bagian dari orang-orang yang sekarang gulung koming. Dimarahi istri, ditagih kanan-kiri.

“Arep golek utangan ya wis ora enek wong sing percaya karo dapuranku. Ora percaya lek bakale kuat nyaur,” lanjutnya.

Ini soal bisnis dolanan duit alias money game itu. Yang lagi rame itu. Setelah digerebek tim kobra itu. Yang korbannya selalu bilang kapok itu. Yang kemudian selalu muncul korban-korban baru lagi itu.

“Kapok itu letaknya memang di belakang, Mbul. Kalau di depan, namanya bukan penyesalan. Tapi pendaftaran, eh pengharapan,” sahut Kang Noyo sambil meneguk segelas teh hangat usai menandaskan sepiring sego tumpangnya.

Pengharapan. Inilah yang dibidik pelaku-pelaku money game berkedok bisnis itu. Dan, pengharapan semua manusia pasti sama. Sehat. Kaya raya. Bahagia. Tinggal bagaimana menurunkan tiga kosa kata itu menjadi istilah atau kalimat yang lebih operasional.

Sehat, misalnya. Kalimat yang lebih operasional adalah ndak gampang capek, kulit ndak gampang keriput, badan cepat langsing, persendian kuat, tahan lama di ranjang, dan sebagainya. Mana yang dipakai, tinggal menyesuaikan kebutuhan sasarannya.

Begitu pula dengan kaya raya. Kalimat operasionalnya lebih mudah karena ukurannya kasat mata. Duit banyak, mobil mewah, rumah di mana-mana, dan pelesir keliling dunia.

Sedangkan bahagia? Kalau dua hal di atas sudah menancap di otak, apa yang tak membuat bahagia orang yang sekadar mengukurnya dari hal-hal kasat mata?

Pengharapan yang di depan selalu tersambung dengan dua hal yang letaknya di belakang. Satu hal sudah disebut di atas, yaitu penyesalan atau kekecewaan. Satu lagi adalah kepuasan. Penyesalan atau kekecewaan lahir jika hasilnya negatif. Kepuasan lahir jika hasilnya positif.

Cuma, orang sering lupa terhadap titik sambung antara pengharapan yang di depan dengan dua hasilnya yang di belakang itu. Yakni, usaha dan doa. Usaha terkait upaya manusia. Doa terkait penyerahan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa.

Usaha adalah daya upaya yang dilandaskan pada rasionalitas. Doa adalah penggantungan rasionalitas pada Kekuatan yang suprarasional.

Pada rasionalitas itulah orang sering salah. Karena dikalahkan kehendak atau keinginannya yang jauh lebih besar. Yang lebih menggebu. Tentang pencapaian pengharapan itu. Rasionalitas sering menyerah pada hal-hal yang irasional tapi menawarkan pencapaian yang lebih cepat terhadap pengharapan.

Di situ money game berkedok bisnis bisa tumbuh subur. Dan, selalu mampu menimbulkan korban-korban baru. Pohonmas, Gold Quest, lalu Q-net yang berpusat di Kecamatan Semen itu. Padahal, slogannya jelas-jelas sudah menjadi petunjuk pada irasionalitas: Ora Umum.

Tapi, yang ndak umum, yang ndak masuk akal, seringkali memang lebih menarik perhatian. Apalagi jika ada ‘hasil’ yang diperlihatkan. “Wong kuwi kok iso cepet sugih, nduwe omah-nduwe mobil, piye carane?,” tanya Matsulaya waktu masih semangat-semangatnya ikut money game itu.

Maka cara yang ndak umum, yang ndak masuk akal, itu lekas-lekas ingin dipelajari. Diikuti. Karena ada ‘hasil’ yang diperlihatkan. Sehingga, mereka merasa tak perlu lagi mengecek apakah ‘hasil’ itu benar-benar disambungkan oleh cara yang ‘ora umum’ seperti disebutkan.

Ini mirip waktu Matglembos kapusan Matkriting yang memamerkan ikan-ikan besar usai mancing di Kali Brantas. “Lha wong umpanmu biasa ae ngono kuwi,” kata Matkriting sambil menunjukkan umpannya yang masih tersisa. “Lek gelem, iki tukunen satus ewu,” lanjutnya.

Matglembos yang sudah frustrasi karena setiap kali mancing ndak bisa dapat ikan langsung mau. Satus ewu dia kasih cash ke Matkriting. Tapi, berkali-kali mancing sampai umpannya bosok, ndak juga dia dapat ikan –apalagi besar-besar—seperti ditunjukkan Matkriting. Lha wong ikan besar itu ternyata dibeli Matkriting dari pasar.

Itu artinya, antara umpan dengan ikan besar yang ditunjukkan Matkriting tidak nyambung. Umpan yang ‘ora umum’ itu bukanlah titik sambung dari ikan besar tersebut. Titik sambungnya adalah duit. Yang dibayarkan Matkriting ke bakul iwak di pasar. Makanya, Matglembos yang tau belakangan hanya bisa misuh-misuh.

Pohonmas, Gold Quest, Q-net, atau money game berkedok bisnis investasi seperti itu sudah lama muncul. Sudah seratus tahun sejak dibikin Charles Ponzi pada 1919. Meski dia kemudian dipenjara, modelnya terus diduplikasi. Ditiru. Dikembangkan. Bahkan sampai kini setelah Ponzi tak bisa menghirup udara dunia lagi. Mungkin, karena pelakunya tau, kemaruk sudah menjadi watak dasar setiap manusia di bumi ini.

Cuma, ketika rasionalitas ditaruh di belakang, terkadang, orang-orang seperti Dulgembullah yang justru terselamatkan. Yang dapuran-nya tidak lagi dipercaya untuk utang. Sujokno… (tauhid wijaya)

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia