Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Sidang Pembunuhan Binti: Saksi Ahli Saling Mentahkan Keterangan

16 Oktober 2019, 18: 06: 32 WIB | editor : Adi Nugroho

pembunuhan binti

PERAGAKAN: Saksi ahli dari JPU memeragakan kemungkinan pelaku memukul korban dalam sidang kemarin. (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri – Keterangan berbeda diberikan saksi ahli yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) kasus pembunuhan Binti Nafiah dalam sidang kemarin (15/10). Keterangan dari Kepala Urusan Forensik Dokpol Bhayangkara Kediri dr Tutik Purwanti itu menyebutkan bahwa senjata yang dijadikan alat untuk membunuh korban adalah besi. Bukan balok kayu seperti yang diteorikan oleh saksi ahli dari penasihat hukum (PH) terdakwa Sugeng Riyadi di sidang sebelumnya.

Kemarin dr Tutik hadir sebagai saksi ahli yang didatangkan oleh JPU Ichwan Kabalmay dan Zanuar Irham. Dua JPU itu berusaha mementahkan pernyataan saksi ahli PH sebelumnya. Yaitu tentang alat pemukul yang membuat korban meninggal.

Pada sidang sebelumnya, Selasa (8/10) PH terdakwa mendatangkan dr Widiyatmoko, dokter forensik Polda Jatim. Saksi tersebut mengatakan berdasarkan pengalamannya dalam bekerja luka di bagian tubuh Binti disebabkan balok kayu.

“Apakah dengan barang bukti ini diilustrasikan sebagai senjata?” tanya Ketua Majelis Hakim Agus Tjahjo Mahendra kepada saksi ahli.

Terkait pertanyaan itu, Tutik menjelaskan hasil otopsi yang dia lakukan. Luka parah di bagian belakang telinga korban disebabkan oleh benda tumpul. Tutik juga menunjukkan foto tersebut ke hakim, jaksa, dan PH. Di foto itu tidak hanya terlihat dua garis luka saja. Juga terlihat tulang yang patah.

“Jadi benda itu ada dua. Ada yang berat dan juga yang ringan. Apa bila benda tersebut berat, ketika dipukulkan secara langsung maka akan langsung rusak, ” terang Tutik.

Namun sebaliknya, apabila benda tersebut ringan memerlukan kekuatan yang penuh. Tetapi secara khusus bisa menyebabkan kerusakan pada otak. Perlu menggunakan peralatan yang berat.

Tim PH berusaha mementahkan keterangan saksi ahli tersebut. Seperti saat menanyakan apakah dengan dipukul dengan linggis tidak memecahkan tempurung kepala. Namun, Tutik berusaha mengelak dengan mengatakan tipikal tempurung manusia berbeda-beda. Ada yang tipis dan ada yang tidak. Yang tipis ketika terpukul langsung retak. Begitu sebaliknya.

Namun, meskipun tempurung tak retak di bagian otak akan mendapat tekanan bila dipukul seperti itu. Tekanan pada otak itu yang bisa memunculkan pendarahan. Dalam kasus pembunuhan Binti, memang bukan bagian tempurung yang mengalami luka parah. Namun bagian leher bawah telinga yang paling parah.

“Apabila menggunakan kayu, memerlukan kayu yang besar,” dalihnya.

Tidak hanya ukurannya yang besar, jenis kayu yang dibuat juga harus keras seperti jati. Itupun bentuk lukanya tidak seperti itu. Sementara, meskipun linggis benda tumpul tapi juga memiliki bagian yang tajam.

Pada hasil pemeriksaan, terdapat luka lain di tubuh Binti. Namun luka tersebut tidak parah. Luka itu disebut terjadi karena ada perlawanan ketika kejadian berlangsung.

Di awal sidang, Wijono, salah seorang PH terdakwa sempat mengajukan keberatan dengan hadirnya saksi ahli. Sebab, sesuai jadwal kemarin waktunya keterangan terdakwa. Apalagi mereka sebelumnya meminta diperbolehkan mengajukan saksi lagi. Namun, karena alasan dikejar waktu permintaan PH tak diterima. Akhirnya, hakim mempersilakan PH mengajukan saksi di sidang minggu depan. Sidang berikutnya rencananya berlangsung Selasa (22/10).

Kasus pembunuhan Binti Nafiah terjadi 9 Mei 2018. Yang menjadi terdakwa pembunuhan warga Desa Canggu, Kecamatan Badas ini adalah Sugeng Riyadi. Lelaki 40 tahun itu warga Kelurahan Pare, Kecamatan Pare. Dia tertangkap saat beraksi melakukan pencurian. Setelah dikorek keterangannya ternyata Sugeng pernah mencuri di rumah Binti. Dan itu yang menjadikan dia menjadi terdakwa kasus tersebut.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia