Rabu, 22 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Features

Andreas, Difabel yang Tekuni Usaha Pot Batu Tanaman Bonsai

Satu Produk Tuntas Tiga Hari

16 Oktober 2019, 18: 02: 08 WIB | editor : Adi Nugroho

difabel kreatif

HABIBAH A. MUKTIARA bahan membuat pot bonsai di belakang rumahnya, Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol (14/10). (Habibah Anisa - radarkediri.id)

Share this          

Keterbatasan fisik tak menghalangi Andreas bekerja dan mandiri. Dia pernah menjadi penjaga konter, kasir, hingga beternak ayam petelur. Sampai akhirnya, pemuda ini menekuni penjualan bonsai sekaligus produksi pot khas dari batu.

HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten, JP Radar Kediri

Dari deretan rumah di Jalan Raya Kediri–Nganjuk, tepatnya di Desa Sonorejo, Kecamatan Grogol, ada satu yang berbeda. Tanpa terhalang pagar, dari jalan raya terlihat jelas puluhan tanaman bonsai menghiasi taman.

Di dalam rimbunan tanaman hijau tersebut, terlihat sebuah bonsai yang menarik. Tanaman atau pohon yang dikerdilkan tersebut diletakkan dekat teras rumah. Yang membuat menarik adalah potnya yang terbuat dari batu granit. “Batu ini biasa digunakan untuk fondasi rumah. Posisinya di sini seperi pulau di tengah danau,” terang Andreas, 37, pemilik rumah.

Ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri pada Senin lalu (14/10), pemuda kelahiran 1982 ini tampak sibuk. Meski begitu, ia menyambut ramah. Andreas memang memiliki keterbatasan fisik. Ia menyandang difabel polio.

Makanya, saat menyambut wartawan koran ini, Andreas terlihat kesulitan untuk berjalan. Kaki kirinya berjalan berjinjit. Itu membuat sandal yang ia kenakan terlepas berkali-kali.

Setelah mengetahui maksud kedatangan media cetak ini, Andreas langsung mengajak ke bengkel kerjanya. Tempatnya berada di halaman belakang rumah. Di ruang kerja itu terlihat batu yang telah dibentuk menjadi sebuah pot. Bentuknya beraneka ragam. Ada yang terbuat dari batu karang, batu kapur, hingga batu sungai.

“Untuk usaha pembuatan pot untuk bonsai, baru saya lakukan sekitar dua tahun,” terang anak ketiga dari empat bersaudara ini.

Bahan-bahan yang digunakan adalah memanfaatkan benda-benda yang sudah tidak terpakai lagi. Bahan tersebut berupa batu apung, batu andesit, batu karang, batu tebing yang banyak ditemukan di pinggir jalan.

Meski memiliki fisik yang tidak sempurna, di hadapan wartawan koran ini Andreas memperlihatkan keterampilannya membuat pot. Sebelumnya, ia terlebih dahulu melakukan persiapan. Setelah memakai masker dan kacamata, perajin ini mengambi batu kapur. Sebelum dibentuk, terlebih dahulu Andreas memberi pola menggunakan kapur berwarna merah. “Ini agak sedikit berdebu,” katanya.

Untuk memotong permukaan batu, Andreas  menggunakan alat pemotong bertenaga listrik. Setelah membuat lubang pada permukaan batu, selanjutnya memahat menggunakan alat pahat.

Untuk menggunakan alat pahat, Andreas memasukkan alat di sela-sela jari tangan yang dalam keadaan terlipat. “Kalau capek, saya melanjutkan menggunakan kaki,” tuturnya.

Andreas menjelaskan, setiap batu memiliki ciri khas yang berbeda-beda. Itu juga mempengaruhi proses pembuatan. Untuk membuat satu pot, jika menggunakan batu andesit memerlukan waktu selama tiga hari.

Setelah bagian tengah batu selesai dilubangi menggunakan peralatan pahat. Untuk penghalus ia menggunakan gerenda. Mesin gerenda digunakan memperhalus permukaan yang telah dilubangi. Untuk memindah batu, Andreas menggunakan gerobak pasir. Meski dengan kondisi seperti itu, tanpa dibantu orang lain ia terlihat begitu cekatan.

Sebelum menekuni usaha pembuatan pot batu, semula Andreas memiliki usaha penjualan tanaman bonsai. Usaha tersebut dimulai pada tahun 2002. Ketika itu karena menjual bonsai butuh pot, dia masih membelinya dari daerah Ngadiluwih. Setelah bisnisnya berjalan lama, sekitar tahun 2016 Andreas memiliki ide membuat pot sendiri.

Sejak kecil Andreas memiliki penyakit polio. Ketika kelas dua sekolah dasar (SD), ia pernah mengalami cedera di bagian pergelangan kaki. Kaki kirinya keseleo ketika sedang bermain di sungai. Namun pada saat itu, Rinta Seregar, 55, ibu Andreas, hanya memijatnya. “Setelah kejadian tersebut, saya jalannya jinjit,” ungkapnya.

Karena sudah terbiasa jalan jinjit, akhirnya struktur tulangnya tidak bisa kembali seperti semula. Tak hanya itu, karena jarang digunakan membuat jari tanganya melengkung. Meski dengan kondisi tersebut, Andreas tidak merasa minder.

Dengan kondisinya tersebut, pemuda ini mampu menyelesaikan wajib belajar 12 tahun. Dia berhasil lulus dari STM PGRI 4 Kediri jurusan listrik. Putra pasangan Radiono Eko Purwanto dan Rinta Seregar ini kemudian sempat bekerja di beberapa tempat. Mulai dari bertugas menjaga kasir hingga penjaga konter.

“Mau kerja dengan orang lain, namun pastinya maunya sama yang normal,” keluhnya.

Tidak lama setelah keluar dari pekerjaan, Andreas menekuni usaha ternak ayam petelur. Karena usaha tersebut tidak berlangsung lama, ia beralih usaha penjualan bonsai.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia