Selasa, 21 Jan 2020
radarkediri
icon featured
Politik

Kondisi Situs Tondowongso Memprihatinkan, Pemkab Tunggu BPCB

15 Oktober 2019, 19: 01: 48 WIB | editor : Adi Nugroho

situs tondowongso

BERLUMUT: Jupel Situs Tondowongso Edi membersihkan rumput yang tumbuh di sela-sela struktur candi yang terbangun dari bata merah itu. (Didin Saputro - radarkediri.id)

Share this          

KABUPATEN, JP Radar Kediri - Kondisi Situs Tondowongso semakin memprihatinkan. Banyak bagiannya yang tak terawat. Padahal, Pemkab Kediri sudah berencana menjadikan situs tersebut sebagai jujukan wisata edukasi.

Kondisi yang memprihatinkan itulah yang menjadi sorotan beberapa waktu terakhir. Banyak pihak yang menyayangkan telantarnya candi yang proses ekskavasinya sudah berlangsung 2007 silam itu.

Salah satu keluhan disampaikan warga yang sempat mengunjungi situs tersebut, Dewi Kartikasari. Mahasiswa di salah satu perguruan tinggi di Malang tersebut mengaku prihatin dengan kondisi Candi Tegowangi yang tak terurus.

“Saat melihat kondisinya seperti ini jadi prihatin,” ucapnya.

Padahal, menurut Dewi, bila digarap maksimal, candi tersebut sangat potensial. Apalagi diperkirakan merupakan salah satu kompleks percandian Hindu terbesar di Kediri. Dan bisa menjadi destinasi wisata yang diandalkan.

Dewi juga mengaku banyak temannya di Malang yang penasaran dengan situs yang masuk ke wilayah administrasi Desa Gayam, Kecamatan Gurah tersebut. Namun, dengan kondisi seperti sekarang ini keinginan itu tak jadi terlaksana.

Selain menurunkan minat pengunjung, kondisi seperti sekarang ini juga rentan mengancam struktur. Ketika musim hujan nanti juga rentan terendam air. Karena struktur juga masih berada dalam galian. Belum lagi tubuh candi yang banyak tertutup lumut.

“Yang saya tahu, biasanya setelah diekskavasi, galian ini ditutup. Itu untuk menjaga agar tidak rusak,” jelasnya.

Sebenarnya, ada petugas yang menjadi juru pelihara (jupel). Petugas tersebut setiap waktu juga membersihkan rumput yang menempel di dinding candi. Namun, upaya itu tak cukup untuk menghindarkan candi itu dari ancaman kerusakan.  “Pembersihannya harus hati-hati. Karena takut kalau merusak struktur,” ujar Jupel Situs Tondowongso Edi Saputro.

Menurutnya, perlakuan pemberian cungkup dan juga saluran pembuangan air menjadi kebutuhan guna memelihara struktur yang ada. Hanya saja, untuk teknisnya, semua diserahkan pada BPCB Jatim.

“Sementara ini BPCB masih menangani banyak penemuan, jadi belum bisa fokus di sini,” kilahnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Sejarah dan Purbakala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Kediri Yuli Marwantoko menyampaikan, pihaknya telah membahas tindak lanjut kawasan bersejarah ini. Menurutnya pemkab akan menjadikan situs Tondowongso sebagai sarana edukasi bagi pelajar.

“Jadi anak sekolah biar lebih memahami sejarah Kediri ini dengan datang langsung ke lokasi. Apalagi Situs Tondowongso sangat menarik untuk dibahas,” ujarnya.

Yuli selama ini prihatin dengan generasi muda. Terutama mereka yang tidak peduli dengan sejarah. Konsep media pembelajaran bagi siswa dengan datang langsung ke situs ini diharapkan jadi solusi. Agar menyadarkan anak muda semakin mengenal dan ikut membantu dalam pelestarian sejarah.

Terkait Situs Tondowongso, Yuli mengatakan sangat luar biasa. Setidaknya kompleks percandian tersebut masih satu era dengan Candi Adan-Adan yang akhir-akhir ini diekskavasi. “Adan-adan Candi Budha, sementara Tondowongso Hindu. Itu bisa menjadi pelajaran bahwa zaman dahulu dengan jarak yang tidak terlalu jauh bisa hidup selaras,” terangnya.

Dia juga mengungkapkan rencana pemkab membangun cungkup yang bisa melindungi struktur candi. Namun, hal itu sangat tergantung dengan sikap BPCB Jatim. Setelah Balai Arkeologi Jogjakarta menyelesaikan tugasnya, situs Tondowongso memang menjadi tanggung jawab BPCB Jatim.

“Kami menunggu BPCB. Karena akan ada penelitian lanjutan. Jadi kami harus berkoordinasi dahulu untuk pengembangan Tondowongso,” jelas Yuli.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia