Rabu, 13 Nov 2019
radarkediri
icon featured
Hukum & Kriminal

Alimatus Sakdiyah, Korban Kecelakaan Maut di Jalan Soekarno-Hatta

Usai Tasyakuran Rumah Baru

15 Oktober 2019, 18: 54: 10 WIB | editor : Adi Nugroho

alimatus sakdiyah meninggal

TINGGAL KENANGAN: Foto Alimatus Sakdiyah semasa hidup.

Share this          

Meninggalnya Alimatus Sakdiyah meninggalkan duka mendalam bagi orang-orang terdekat. Padahal beberapa bulan terakhir, ASN ini baru saja menggelar tasyakuran atas rumah barunya di Dusun Nglaban, Desa Maron, Banyakan.

DWIYAN SETYA NUGRAHA, Kabupaten, JP Radar Kediri

“Monggo masuk Mas,” ungkap Khotim, 68, tetangga Alimatus Sakdiyah, sambil menyalami para pelayat yang datang. Alimatus merupakan korban kecelakaan motor dan truk gandeng di Jalan Soekarno-Hatta, Desa Tepus, Kecamatan Ngasem, kemarin (14/10).

kecelakaan truk

JALAN MAUT: Petugas kepolisian mengamankan lokasi kecelakaan sepeda motor dengan truk tangki di Jalan Sukarno Hatta, Dusun Tepus, Desa Sukorejo, Kecamatan Ngasem, kemarin. (Unitlaka Polres Kediri for radarkediri.id)

Sore itu, rumah duka yang berada di Dusun Nglaban, Desa Maron, Kecamatan Banyakan tampak ramai. Ratusan pelayat lalu lalang bergantian memasuki rumah duka.

Tak ada yang menyangka Alimatus meninggal di usianya yang tergolong muda. Masih 33 tahun. Bagaimana tidak, perempuan kelahiran 1986 ini meninggalkan tiga anak. Di lingkungan tempat tinggalnya, warga mengenalnya sebagai perempuan pekerja keras.

“Saya awalnya dikabari oleh salah satu kerabat Alimatus kalau beliau mengalami kecelakaan lalu lintas senggolan dengan truk,” terang Khotim.

Mendapat kabar tersebut, Khotim segera menuju ke rumah duka. Saat itu, ia tak sendirian. Ditemani beberapa tetangga lainnya, Khotim lantas menuju RS Bhayangkara Kota Kediri. Itu untuk melihat kondisi korban.

Tiba di RS, pria parobaya tersebut mengaku bingung. Pasalnya, saat itu korban dibawa ke kamar mayat. Kebingungan Khotim pun terjawab setelah pihak rumah sakit menyatakan Al –sapaan akrab Alimatus Sakdiyah –dinyatakan telah tiada akibat kecelakaan itu.

“Saya langsung lemas dan tak menyangka Al bisa secepat itu dan meninggal dalam kondisi seperti itu,” ujarnya kepada wartawan koran ini.

Kekagetan Khotim tak berhenti di situ saja. Terutama setelah melihat langsung kondisi Al yang berada di kamar mayat. “Saya tidak tega melihat Al dalam kondisi seperti itu,” urainya.

Sedangkan pihak rumah sakit memaparkan kematian Al. Sontak, beberapa warga yang ikut mendatangi RS Bhayangkara semakin tersedu-sedu menangis. Awalnya Al sedang dalam perjalanan menuju kantor Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kediri.

Namun saat tiba di lokasi kejadian, Al yang saat itu mengendarai sepeda motor Honda Supra warna merah hitam AG 6134 BT bersenggolan dengan truk tangki gandeng nopol AG 8476AG.

“Menurut keterangan dokter, Al mengalami luka cukup serius di bagian kepala dan kaki,” ungkap pria yang bekerja sebagai petani ini.

Saat itulah, korban langsung di bawa ke RS Bhayangkara untuk mendapatkan pertolongan. Namun, nahas nyawa perempuan yang memiliki tiga orang anak ini tidak bisa tertolong.

Informasi yang dihimpun koran ini, Al meninggal di lokasi kejadian. Petugas kepolisian langsung membawa jasadnya ke RS untuk proses pemulasaraan jenazah. Sekitar pukul 16.30 WIB jenazah Al jenazah mulai diantar menuju rumah duka.

Selang 30 menit kemudian, tepatnya pukul 17.00 WIB, jenazah Al tiba di rumah duka. Dengan menggunakan mobil jenazah RS Bhayangkara, jenazah Al dimasukkan dalam peti berwarna hitam dikeluarkan dari dalam mobil.

Isak tangis warga pun pecah saat jenazah dibawa ke ruang tamu rumah duka. “Al memang dikenal sebagai orang yang ramah dan pekerja keras,” imbuhnya.

Bahkan, menurut Khotim, sebelum diangkat pegawai negeri sipil (PNS) sebagai guru, Al dikenal sudah lama mengabdi sebagai guru honorer di salah satu sekolah di Desa Bulusari, Kecamatan Tarokan. “Sudah lama Mas, honorer di sana,” terang pria dengan tiga orang anak ini.

Bahkan, lanjut Khotim, beberapa bulan terakhir sebelum meninggal dunia, Al sempat tasyakuran atas rumah barunya di RT 01/RW 01 Dusun Nglaban, Desa Maron yang hanya berjarak sekitar 10 meter dari rumah orang tua Al.

“Keluarga terpukul sekali atas kepergian Al. Soalnya Al merupakan anak tunggal,” paparnya. Namun ketika wartawan koran ini mencoba mengonfirmasi orang tua Al, pihak keluarga korban saat itu masih belum bisa dimintai keterangan.

Khotim menuturkan, Al yang lahir pada 10 Februari 1986 juga dikenal sebagai warga yang baik. Bahkan, tak jarang Al sering mengikuti kegiatan masyarakat. Sebelumnya, Al sempat tinggal di asrama polisi (aspol) di Kelurahan Dandangan, Kecamatan Kota Kediri.

Maklum saja, Al merupakan salah satu istri dari pensiunan polisi yang berdinas di Polres Kediri Kota. Saat itu, Al dikenal sering mengikuti kegiatan masyarakat di desa tersebut meski jarang berada di rumahnya yang baru saat ini.

“Sering mengikuti kegiatan masyarakat hingga pengajian juga, meski dulu awalnya tinggal di aspol,” ujarnya.

Khotim menambahkan, Al merupakan sosok perempuan yang ringan tangan. Diceritakan bahwa hingga kemarin, beberapa warga sekitar hanya bisa pasrah dan legawa atas meninggalnya Alimatus. 

“Saya hanya bisa ikhlas Mas, rezeki, mati sudah ada yang ngatur,” pungkasnya.

(rk/baz/die/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
 
 
 
Follow us and never miss the news
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia